Bisnis Kemitraan Bimbingan Belajar Edulab

waralaba bimbingan belajar bimbel
Dalam kompetisi pendidikan, hampir semua siswa tentunya ingin memperoleh pendidikan yang berkualitas. Para siswa tingkat sekolah menengah atas (SMA) pasti mendambakan agar dapat diterima kuliah di perguruan tinggi yang difavoritkan mereka, khususnya PTN (perguruan tinggi negeri). Namun, agar bisa lolos seleksi dan diterima pada sebuah PTN tentu bukanlah perkara yang gampang. Masalahnya, dalam proses seleksi masuk di Perguruan Tinggi Negeri diadakan  sangat ketat.

Tingginya minat dan kebutuhan para siswa SMA agar bisa diterima di sebuah PTN membuat perkembangan bisnis di dunia pendidikan semakin berkembang, khususnya bisnis bimbingan belajar (bimbel) masuk PTN. Bisnis jasa Bimbel semakin marak bermunculan karena gencarnya para pelaku bisnis ini yang menawarkan kemitraan usaha atau waralaba.

Banyak pelaku bisnis bimbel yang secara mandiri membuka usahanya atau juga menawarkan kerjasama. Salah satu pebisnis yang cukup gencar menawarkan kemitraan adalah Lembaga Konsultan dan Pengembangan Pendidikan Education Laboratory (Edulab) di kota Bandung, Jawa Barat. Bimbingan belajar yang didirikan sejak 2007 tersebut merupakan bisnis yang berada di bawah naungan PT Kreasi Edulab Indonesia. Edulab sendiri baru menawarkan kemitraan (franchise) mulai tahun 2010.

Saat ini, kemitraan Edulab telah memiliki sekitar sembilan cabang yang tersebar di beberapa daerah, diantaranya di kota Bandung, Surabaya, Jakarta, Medan, dan di daerah Bekasi. Saat ini jumlah total seluruh siswa yang menjadi bimbingannya mencapai sekitar 1.200 pelajar. Menurut kata Management Strategic Edulab, Kanesha, "Awal tahun depan, kami akan launching cabang di Makassar dan Palembang".

Selain mefokuskan bisnisnya pada pemberian bimbel masuk perguruan tinggi, Edulab mulai awal tahun ini juga akan menyelenggarakan bimbingan belajar kepada para siswa sekolah menengah pertama (SMP) untuk bisa lolos ke SMA favorit mereka.

Berapakah biaya Investasi untuk waralaba bimbingan belajar ini? Totalnya sekitar Rp 500 juta sampai  Rp 1 miliar.

Dalam kemitraan waralaba ini, Edulab mematok biaya investasi bagi para peminatnya sebesar Rp 500 juta hingga 1 miliar rupiah, dengan rentang masa kemitraan tiga sampai lima tahun. Total biaya tersebut sudah termasuk biaya pemakaian lisensi brand, dana sewa gedung, biaya penyediaan fasilitas belajar mengajar, dana marketing dan promosi, grand opening, serta untuk biaya renovasi tempat. Ketika masa kerjasama telah habis, mata para mitra wajib memberikan dana sebesar Rp 150 juta untuk memperpanjang kembali kontrak kemitraan selama tiga tahun ke depan. Sedangkan untuk masa kerjasama lima tahun biaya perpanjangannya sebesar 250 juta rupiah.

Dalam proses pembelajaran dan bimbingan kepada para pelajar, Edulab menyediakan beberapa fasilitas bimbel, antara lain: suite class, velvet class, deluxe class, belajar tambahan, dan psikologis program. Kelas tersebut diikuti oleh enam sampai 20 orang. Fasilitas yang akan dirasakan siswa diantaranya pengajar berkualitas, gedung yang representatif, pembelajaran ekstra, intensif untuk kelas tiga, TV kabel untul edukasi, AC, modul dan bank soal, serta ruang komputer.

Para siswa yang mengikuti bimbingan belajar di Edulab akan dikenakan tarif jasa sekitar Rp 8,5 juta–Rp 25 juta per tahun. "Paling mahal suite class," ujar Kanesha. Para mitra bisnis ditargetkan bisa mampu menggaet 100 siswa per tahun. Dengan target jumlah siswa sebanyak itu, franchisees akan mampu meraup omzet Rp 125 juta–Rp 166 juta per bulan. Dengan perhitungan laba yang mencapai 30%, maka investasi bisnis bisa balik modal pada tahun ketiga.

Menurut pengamat waralaba yang bernama Khoerussalim Ikhsan, jumlah biaya kemitraan yang ditawarkan Edulab tergolong cukup mahal, sehingga hal ini membuat para investor harus mencermati dengan teliti mengenai perincian dan prospek dari paket yang ditawarkan. "Harus diperhatikan sistem dan perkembangannya, juga prosedur sewa tempat," katanya.

Sedangkan mengenai jangka waktu balik modal yang ditargetkan tercapai dalam tiga tahun, Khoerussalim juga mengingatkan agar calon mitra memperhatikan seberapa besar peminat di sekitar tempat pusat bimbel tersebut. Juga seberapa besar lulusannya diterima di PTN.  (Berbagai sumber)