13 Tips agar Anak Tumbuh Lebih Bahagia

Membesarkan anak agar tumbuh menjadi sosok yang bahagia sebenarnya gampang-gampang susah untuk dilakukan. Apa lagi bagi ayah-bunda yang terlalu sibuk, sehingga waktu kebersamaan bersama anak pastinya sangatlah kurang.

Ibu bapak yang sibuk, sering menyerahkan sepenuhnya kepada pengasuh bayi dalam mengawasi anak mereka. Sementara, diri mereka harus sibuk di luar mencari uang sebanyak mungkin untuk masa depan si anak itu.

anak yang bahagia

Mengutip laman brightside.me, inilah sederet tips untuk ayah bunda agar anak tumbuh besar lebih bahagia walaupun sibuk.

1. Menghabiskan masa bersama di penghujung minggu

Bagi ayah-bunda yang mempunyai pekerjaan sebagai usahawan, pasti sukar untuk memiliki waktu yang berkualitas bersama buah hatinya. Jadwal kerja jam kantor dari pagi hingga petang, dan kerap pulang ke rumah larut malam, menyulitkan waktu untuk bermain dengan anak. Tips terbaik untuk ayah-bunda adalah dengan mengatur waktu dengan tepat. Misalnya, luangkan waktu penuh bersama anak atau istri di akhir pekan. Tinggalkan ponsel anda, dan raihlah waktu kebersamaan yang berkualitas dengan anak.

Seperti yang dinyatakan oleh Edward Hallowell, psikiater dan penulis The Childhood Roots of Adult Happiness, dengan meluangkan waktu untuk bercengkerama bersama anak akan mampu menjadi kunci pertama agar anak tumbuh menjadi lebih bahagia. Jalin keterhubungan mental dengan anak dan bermainlah bersamanya. Jika Anda bersenang-senang dengannya, ia juga akan merasakan hal yang sama tentunya.

Adanya waktu kebersamaan dengan anak, entah itu dengan mengajaknya bermain atau sekedar bercengkerama, akan mampu menciptakan rasa bahagia pada anak. Rasa bahagia yang dirasakan anak saat masa kecilnya akan membuatnya tumbuh menjadi anak baik dan akan membantunya mengarahkan kariernya di masa depan.

2. Menikmati makan malam bersama

Anak-anak yang hanya menikmati makan malamnya sendirian, secara psikologi akan membuat mereka merasa depresi. Para ahli psikologi menyatakan bahwa, makan malam bersama orang tua, akan meningkatkan rasa kepercayaan diri anak, dan akan membuat anak selalu berpikiran positif.

Saat makan malam, ayah-bunda bisa mengajaknya mengobrol atau sekedar menanyakan apa yang mereka lakukan seharian, menanyakan keadaannya dan lain sebagainya. Dengan begitu seorang anak akan merasa diperhatikan dan disayangi. Dan itu mampu membuatnya bahagia serta membuatnya tumbuh menjadi anak yang ceria.

3. Mengajarkan anak untuk memiliki jiwa sosial yang tinggi sejak kecil

Penting untuk mengajari anak-anak memperhatikan keadaan orang lain dan memiliki jiwa sosial yang tinggi. Para ahli menunjukkan bahwa orang-orang yang biasa mengekspresikan rasa syukur lebih suka membantu, menyayangi, dan memaafkan. Ditambah, mereka juga akan merasa lebih bahagia dan sehat dari segi fisik maupun mentalnya. Didiklah anak-anak kita agar mudah bersyukur dan lebih menghargai dan menghormati orang tua maupun sesama.

Penelitian juga menunjukkan bahwa orang yang memiliki arti dalam hidupnya akan selalu merasa bahagia dan bebas tekanan. Jadi, selalu ajarkan anak bagaimana caranya membantu orang lain, meski itu untuk hal kecil dalam kehidupan sehari- hari. Tunjukkan padanya sikap senang saat berbagi, peduli, bermurah hati, dan peka terhadap sekitar.

4. Mengajarkan anak-anak untuk menganalisa dan mengatasi masalah

Di negara barat, para orang tua sudah mulai menerapkan untuk memberikan ruang yang lebih kepada anak untuk menghadapi dan menyelesaikan persoalan dan permasalahannya sendiri. Tetapi pola ini tentu tidak dibebankan pada si anak untuk masalah-masalah yang dirasakan sangat berat. Mulailah memberikan ruang ekspresi pada anak, agar si kecil mampu menganalisa setiap permasalahan dan persoalan yang kecil terlebih dahulu.

Terkadang, ayah-bunda terlalu membuat anak nyaman dengan memberikan perhatian yang berlebihan dan mengambil alih setiap masalah anak. Sebenarnya itu kurang realistis. Anak-anak perlu belajar untuk mentolerir beberapa kesulitan, dan beberapa ketidakbahagiaan. Biarkan mereka berjuang dan mencari tahu sendiri hal-hal yang bisa membantu mengatasi masalahnya.

Dengan begitu, secara tidak langsung atau dengan sendirinya seorang anak akan tumbuh menjadi sosok yang lebih kuat dan lebih bijaksana nantinya.

5. Ayah-bunda jangan menunjukkan stres agar tidak mempengaruhi jiwa anak

Para ilmuwan menyimpulkan bahwa perasaan dan stres yang dirasakan ayah-bunda, akan mempengaruhi keluarga yang lain termasuk anak. Ayah-bunda yang mengalami tekanan emosi dan stres akan membuat anak-anak mereka merasakan hal yang sama.

Karena biasanya ketika para orang tua mengalami stres, sedikit saja anak ‘berulah’ atau rewel maka orang tua akan mudah meledak dan hilang kesabaran. Hingga tanpa disadari ayah-bunda akan lebih bersuara keras, dan tentu saja itu tidak akan baik untuk anak.

Jadi, ayah-bunda sebagai orang tua kita harus berusaha dan perlu menghindari atau dapat mengontrol stres dan emosi, demi kebaikan anak-anak.

6. Jangan memaki atau memukul anak

Memukul anak di bagian mana pun, walaupun dirasakan tidak membahayakan anak, adalah sikap yang tidak bijak. Para ahli psikologi menyebut, anak-anak yang tidak pernah mengalami kekerasan fisik atau ‘makian’ dari ayah-bundanya, lebih berkemampuan mengendalikan emosi lebih baik, dan memiliki ingatan yang tajam.

Tidak memukul anak, bukan berarti memanjakan anak-anak. Ada cara bijak lain bagaimana memberi hukuman jika anak kita melakukan kesalahan.

7. Jangan cegah anak merasa sedih atau marah

Ketika anak tumbuh lebih dewasa, ia akan lebih mampu mengungkapkan perasaannya secara verbal. Namun, Carrie Masia-Warner, psikolog anak dan direktur asosiasi Anxiety and Mood Disorders Institute di New York University School of Medicine mengingatkan, Anda tak perlu bereaksi berlebihan terhadap perasaan-perasaan negatifnya.

Sangat normal bagi mereka bersikap sensitif. Itu bukan berarti mereka tidak bahagia, atau hal yang biasa jika seorang anak menangis ketika terjatuh. Tapi bukan berarti juga jika ia merupakan anak yang cengeng. Biarkan anak mengekspesikan perasaannya, karena itu akan membuatnya lebih tenang dan bisa menjadi dirinya sendiri.

8. Berikan anak Anda ruang untuk melepaskan energinya

Kebanyakan orang tua akan selalu berkata: “diam, awas jatuh, jangan, tidak boleh, dll” ketika anak tidak mau diam (sedang aktif). Itu biasanya dilakukan karena kita sebagai orang tua terlalu menyayanginya dan tidak mau terjadi apa-apa padanya. Namun tahukah ayah-bunda, jika itu sama saja Anda membatasi ruang geraknya? Apakah Anda pernah menyadari akan hal itu? Seorang anak akan beranggapan jika itu sebuah larangan, dan sudah pasti anak tidak akan merasa senang akan hal itu.

Akan lebih baik jika ayah-bunda hanya memberi peringatan agar ia hati-hati supaya tidak jatuh. Itu sama saja jika ayah-bunda memberinya kepercayaan dan dapat diartikan sebagai dukungan, jika ia pasti bisa melakukannya.

Jadi, berikanlah ia ruang, baik itu sekadar menendang-nendang kakinya di udara, merangkak meraih bola, berjalan bolak-balik, atau bermain ayunan di taman. Dan percayalah, semua itu dapat membantu suasana hatinya menjadi lebih baik.

9. Selalu hargai pendapat anak

Berikan anak kebebasan untuk berpendapat. Ayah-bunda harus bisa mendengarkan apapun yang anak utarakan. Apabila ada pendapat anak yang menurut Anda kurang tepat, jangan langsung memarahinya, tapi tanyakan apa alasannya dan berikan respon dan penjelasan yang positif. Begitu juga sebaliknya. Apabila anak memberikan pendapat yang baik, maka jangan ragu untuk memujinya.

Bagaimana pun juga ia masih kecil, jadi hal yang wajar jika terkadang ia mempunyai pendapat yang kurang baik. Tapi kebiasaan ayah-bunda untuk selalu mendengarkan pendapatnya, berarti akan terbiasa pula seorang anak mempertahankan pendapatnya dan berani untuk mengutarakannya.

Itu akan membuat seorang anak merasa bahagia, karena ia merasa jika dirinya dianggap dan otomatis rasa percaya dirinya juga akan terjaga. Bukankah itu juga baik untuk kehidupannya kelak?

10. Ajari anak agar bisa belajar untuk menerima kenyataan

Anak Anda juga perlu tahu bagaimana menerima kenyataan dalam hidup yang tidak sesuai pengharapannya. Misalnya, anak kalah dalam lomba di sekolah. Anda bisa mengatakan padanya bahwa yang penting ia sudah berusaha dan bisa mendapatkan pengalaman baru. Katakan juga padanya bahwa kalah menang adalah hal yang wajar dalam sebuah perlombaan.

Jadi katakan padanya “tidak apa-apa”. Bukan malah menganggapnya payah dan tidak becus. Sebuah penelitian dari Journal of Personality menyebutkan, orang tua yang terlalu memaksa anak melakukan sesuatu agar bisa memperoleh nilai tinggi di sekolah, lebih rentan menjadi pribadi yang sangat kritis terhadap diri sendiri (terlalu menyalahkan diri sendiri, bila suatu kali gagal), berisiko mengalami kecemasan dan depresi. Hal ini tentu merenggut kebahagiaannya.

11. Bantulah anak untuk mengembangkan talenta yang dimiliki

Edward Hallowell menyarankan bahwa untuk hidup panjang yang bahagia, seseorang haruslah melakukan apa-apa yang disukainya. Maka dari itu, bantulah anak untuk menjalani apa yang disukainya daripada memaksakan keinginan Anda pada buah hati. Hal itu hanya akan membuat seorang anak tidak bahagia.

Izinkanlah ia melakukan apa yang dimau, selama itu positif. Hal ini sangat penting, agar anak bisa memilih dan memutuskan sendiri apa yang membuat dirinya merasa nyaman dan bahagia.

12. Tunjukkan dan perlihatkan cinta

Amy Bohnert, psikolog dan peneliti perkembangan anak dari Loyola University Chicago, Illinois, AS, mengungkapkan, terdapat banyak cara dan tentunya berbeda-beda, dalam seni mengurus anak. Tak ada formula tepat yang bisa disamakan kepada setiap anak, namun hal paling mendasar adalah orang tua yang menunjukkan cinta yang hangat kepada anak-anaknya, akan membuat rasa bahagia, nyaman dan aman bagi anak.

Menunjukkan atau memperlihatkan cinta sangat perlu dilakukan. Misalnya, menciumnya ketika ia mau tidur atau saat mereka bangun di pagi hari, memeluknya sambil berkata jika ayah-bunda selalu menyayanginya, atau kadang jika ayah-bunda memiliki dana lebih dan membelikannya hadiah yang ia suka. Tentunya ada banyak cara untuk menunjukkan atau memperlihatkan cinta kita terhadapnya.

13. Ajari anak agar bisa mengontrol diri

Terangkan kepada anak jika bahagia itu bukan berarti bebas melakukan apa saja yang dimau, tanpa batasan. Berilah anak pengertian jika terkadang kita juga perlu mengontrol diri untuk mendapatkan kebahagiaan yang sejati. Itulah yang perlu ayah-bunda ajarkan atau tanamkan kepada anak-anak. Kenalkan anak pada konsep disiplin, karena kedisiplinan bukan hanya berkaitan dengan kehidupan yang sukses kelak, namun juga terhadap kebahagiaan.

Buktinya adalah hasil dari Marshmallow Test, yakni penelitian yang dilakukan Psikolog Walter Mischel pada tahun 1960-an kepada balita. Tes ini memberikan satu marshmallow dan meminta balita memilih, yakni sabar menunggu, sebab akan diberi satu buah lagi atau bila ingin segera memakannya pun tidak masalah. Menurut hasil penelitian tersebut, anak-anak yang yang diteliti kini telah berusia 40-50-an, mereka yang mendapat dua marshmallow mampu menyelesaikan studi tepat waktu, berpenghasilan lebih tinggi, serta tidak mengalami overweight.

Seorang anak yang mampu belajar mengontrol diri akan membantu ia mengatasi gangguan yang terjadi. Ia akan menjadi anak yang tidak mudah terganggu dan menjadi pribadi yang bahagia.

Kata Penutup
Semoga saja anak-anak kita semakin bahagia dan semakin tumbuh dengan baik. Semoga beberapa tips di atas akan mampu memberi manfaat bagi Anda yang sudah meluangkan waktu untuk membacanya.

Leave a Reply