Bisa Berbahaya, Jika Bayi Baru Lahir Sering Dicium

Mungkin sudah menjadi budaya yang biasa dilakukan oleh masyarakat di Indonesia, untuk mengunjungi rumah teman atau anggota keluarga yang baru saja melahirkan seorang anak serta memberikan hadiah karena turut berbahagia.

Hal yang paling umum dilakukan oleh mereka di saat mengunjungi adalah mencium si baby. Itu dilakukan sebagai bentuk rasa sayang atau karena gemas. Tetapi tahukah Anda, ternyata itu tidaklah baik untuk kesehatan bayi itu sendiri. Kenapa? Itu karena semakin banyak orang yang mencium si bayi, berarti makin banyak pula kemungkinan kuman yang disebarkan.

Meski tidak semua orang dapat menyebarkan kuman berbahaya, namun hal itu meningkatkan risiko bayi jatuh sakit. Pada intinya, bayi yang baru lahir dapat tertular penyakit lebih cepat, termasuk terinfeksi lebih cepat dan lebih serius. Dan menciumnya terlalu sering, apa lagi lebih dari tiga empat orang yang melakukannya, itu akan menjadi pemicu bayi terinfeksi kuman.

Perlu Anda ketahui, selama beberapa minggu pertama, tubuh bayi baru lahir dapat memanfaatkan antibodi dari ibunya untuk imunitas sementara. Namun, imunitas tersebut masih rendah dan tetap membuatnya rentan terhadap virus atau bakteri yang menyebabkan penyakit. Mulai dari virus influenza, rotavirus, pertusis, hingga streptococcus B.

Pembentukan sistem imunitas memang dapat lebih kuat setelah melawan kuman, namun bukan berarti orang tua membiarkan bayi terpapar kuman sebanyak-banyaknya. Lingkungan alami, secara umum sudah cukup membangun sistem imunitas tersebut.

Yang perlu diingat, kuman penyebab flu atau pilek yang tampak sebagai penyakit ringan pada orang dewasa, dapat menyebabkan masalah kesehatan serius pada bayi. Seorang profesor kedokteran anak menekankan pentingnya menjaga penularan kuman terutama hingga bayi usia 6 bulan.

Seperti halnya kasus salah satu bayi yang berumur 11 hari, dimana ia telah terinfeksi virus. Pada awalnya ia perlahan-lahan berhenti minum susu sepanjang malam. Dan tentu saja ini menyebabkan kepanikan bagi orang tuanya. Bayangkan orang tua mana yang tidak akan merasa khawatir jika buah hatinya tidak mau menyusu (takutnya bayi mulai kekurangan air).

Ia menjalani beberapa tes dan setelah delapan hari yang menyakitkan, ia didiagnosis menderita herpes! Mungkin, untuk orang dewasa, virus ini dianggap umum atau biasa terjadi dan dapat diobati. Namun untuk bayi, ini dapat menyebabkan kematian, karena sistem kekebalan tubuh mereka tidak cukup kuat untuk mengatasinya.

Dokter menjelaskan virus herpes simpleks dapat diteruskan ke bayi yang baru lahir jika seseorang demam dan mencium bayi atau menyentuh bayi. Demam paling mudah menular ketika tubuh tidak dapat melawan virus. Virus ini tetap menular sampai mereka sepenuhnya sembuh. Dan semoga saja itu tidak akan terjadi pada buah hati kita.

Untuk itu, bagi Anda yang memiliki bayi atau yang akan memiliki bayi, ada baiknya jika Anda berhati-hati dalam menjaga kesehatannya. Serta selalu memastikannya baik-baik saja. Berikut akan kami bagikan beberapa tips yang akan mampu menjauhkan kuman dan juga bakteri dari si buah hati.

Menjaga Kebersihan Tangan Saat Akan Menggendong Bayi

Penyakit infeksi memang paling umum disebarkan melalui sentuhan. Itu sebabnya menjaga kebersihan tangan sangatlah penting sebelum Anda menyentuh bayi baru lahir. Untuk meminimalisir kuman, Anda bisa mencuci tangan dengan mengunakan sabun dan air hangat.

Atau bisa juga dengan menggunakan cairan pembasmi kuman. Hand sanitizer atau cairan pembasmi kuman yang mengandung alkohol dapat menjadi alternatif, terutama ketika air dan sabun tidak tersedia. Gosok-gosok cairan tersebut selama 15-20 detik untuk hasil maksimal.

Tidak hanya pengunjung, orang tua yang akan menggendong bayi baru lahir juga seharusnya melakukan hal yang sama. Selain itu Anda mestinya mencuci tangan setiap kali setelah ke kamar mandi, sehabis memegang sayur atau daging mentah, bermain, atau bersalaman dengan seseorang.

Cobalah Untuk Mengalihkan Sentuhan atau Ciuman

Bayi baru lahir memang terlihat sangat menggemaskan. Dan itu yang kadang membuat kita orang dewasa tidak tahan untuk menciumnya pipinya. Tanpa menyadari jika itu akan dapat membahayakan kesehatannya.

Namun, orang tua dapat mengingatkan, sebaiknya menghindari menyentuh atau mencium bayi di sekitar wajah dan tangan yang kadang diisapnya. Sebab, air ludah dan cairan dari mulut mengandung berbagai kuman. Berikan aturan, menyentuh atau mencium bayi hanya boleh dilakukan di sekitar kaki.

Orang tua sering merasa segan untuk membatasi orang lain berinteraksi dengan bayi baru lahir. Namun, mengingatkan orang lain untuk menjaga perilaku dengan sopan, tetap dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan bayi baru lahir.

Hindarilah Lingkungan yang Terlalu Ramai

Anda bisa mencoba untuk membatasi pengunjung yang datang. Dengan alasan jika si ibu dan bayinya sedang beristirahat. Cobalah untuk mengajak para pengunjung ngobrol di luar kamar, dan tidak lupa untuk berterimakasih karena sudah menyempatkan waktu untuk datang menjenguk. Mungkin itu bisa menjadi cara yang terbaik tanpa menyinggung perasaan si pengunjung.

Apa lagi pada beberapa minggu pertama, akan lebih baik jika Anda berdiam diri di rumah. Setidaknya hal ini akan dapat membantu untuk menghindarkan bayi dari orang-orang yang penasaran menyentuh dan menciumnya. Dan jangan dulu mengajaknya bepergian, seperti ke toko, restoran, mal, pasar, atau pun lingkungan yang terlalu ramai lainnya.

Mengikuti Jadwal Vaksinasi sesuai Anjuran Dokter

Hal ini juga menjadi salah satu hal yang penting untuk melindungi kesehatan bayi baru lahir yaitu dengan memenuhi jadwal vaksinasi yang direkomendasikan dokter. Vaksinasi akan membantu melindungi bayi terhadap penyakit-penyakit yang berbahaya. Jadi jangan pernah lupa jadwalnya ya!

Mengenal Jenis-jenis Penyakit yang Disebabkan oleh Kuman dan Bakteri (karena terlalu sering menciumnya)

Virus Herpes Simpleks (HSV) Tipe 1

Biasanya seseorang mengalami herpes pertama kalinya pada masa kanak-kanak. HSV tipe 1 ini umumnya menular melalui kontak dengan kulit orang lain yang menderita penyakit tersebut, misalnya setelah dicium oleh kerabat yang sudah terkena herpes. Perlu diingat bahwa virus ini sangat menular, terutama melalui air ludah penderita herpes. Oleh karena itu, Bunda dianjurkan untuk jangan membiarkan bayi sembarang dicium. Apalagi, seseorang yang memiliki virus herpes bisa juga tidak memiliki luka khas herpes yang kasat mata.

Virus herpes (HSV) Tipe 2

HSV menyebabkan luka atau lecet seperti melepuh. HSV tipe 1 kebanyakan menyerang area wajah, berbeda dengan HSV tipe 2 yang biasanya menyerang area genital dan didapat dari hubungan seksual. Bahayanya, virus herpes juga dapat menyerang otak dan selaput otak sehingga bisa menyebabkan ensefalitis dan meningitis. Terlebih lagi, HSV yang menyerang bayi baru lahir bisa menyebabkan infeksi parah, termasuk pada mata dan kulitnya, paru-paru, hati, serta otak. Infeksi herpes yang serius pada bayi baru lahir atau pun pada otak membutuhkan penanganan medis yang intensif di rumah sakit.

Sekali bayi Anda terinfeksi virus herpes, maka virus akan berdiam di dalam tubuhnya, sehingga ada kemungkinan herpes kambuh di kemudian hari. Namun pada sebagian orang, virus yang telah masuk ke tubuh bisa tidak menimbulkan efek kambuh lagi.

Gejala herpes:

  • Seperti gusi membengkak dan mulutnya terasa sakit – Setelah beberapa hari mungkin akan terlihat lepuhan-lepuhan kecil di dekat bibirnya yang dapat berubah menjadi luka dangkal.
  • Diiringi demam
  • Pembengkakan kelenjar getah bening di leher
  • Setelah itu, luka-luka tersebut akan mengering menjadi kerak (krusta) lalu kemudian menghilang.
  • Ada juga kemungkinan bayi bisa mengalami herpes di dalam mulutnya, pada gusinya, di sisi dalam pipi, langit-langit mulut, atau di permukaan lidahnya

Segera periksakan bayi Anda ke dokter bila ia mengalami gejala-gejala di atas (herpes).

Kissing Disease (Mononukleosis)

Infeksi mononukleosis atau disingkat ‘mono’ umumnya disebut kissing disease. Disebut demikian karena virus ditularkan melalui air liur, seperti ketika dicium, batuk atau bersin, maupun menggunakan peralatan makan atau minum yang sama dengan orang yang terinfeksi mono. Namun, penyebaran virus mono ini tidak secepat penularan pilek. Kebanyakan jenis virus penyebab penyakit ini adalah virus Epstein-Barr.

Gejala Kissing Disease:

  • Demam
  • Sakit kepala
  • Ruam kulit
  • Radang tenggorokan
  • Kelelahan
  • Terjadi pembengkakan kelenjar getah bening di leher dan ketiak
  • Amandel membengkak

Pada anak-anak, tanda dan gejala kissing disease sering kali tidak mudah dikenali karena cenderung menyerupai gejala-gejala infeksi pada umumnya. Untuk itu waspadalah!

Jadi, jangan abaikan infeksi mono karena dapat menyebabkan komplikasi, seperti pembesaran organ limpa. Bila mengalami gejala di atas, lakukan penanganan secepatnya. Penanganan yang dimaksud adalah dengan mencukupi kebutuhan cairan dan istirahat cukup, mengkonsumsi asupan nutrisi yang ideal, serta periksakan anak ke dokter sesegera mungkin.

Sariawan oleh jamur kandida (thrush)

Walaupun jamur kandida yang dapat menyebabkan sariawan pada mulut tidak menyebar secepat flu atau pilek, namun tetap bisa menular pada beberapa kondisi. Misalnya, sariawan di mulut dapat menular melalui ciuman. Namun, hal itu tergantung pada daya tahan tubuh seseorang.

Sebagai langkah pengamanan, lebih baik hindarkan bayi Anda dicium oleh seseorang yang sedang sariawan oleh karena terinfeksi jamur kandida. Selain itu, orang tua dan orang terdekat bayi perlu memelihara kebersihan mulut dan gigi, serta periksakan kesehatan mulut ke dokter gigi secara rutin.

Selain itu, jaga juga kebersihan puting bagi Anda yang menyusui langsung, atau memastikan kebersihan puting pada dot dengan merendamnya dengan air hangat. Sariawan dapat tumbuh di mulut pada bayi yang menyusu. Karena sariawan tumbuh dengan baik di tempat yang hangat, lembab, dan manis, seperti kondisi mulut bayi Anda selama menyusu. Dari mulut bayi Anda, kemudian jamur yang menyebabkan sariawan dapat menyebar ke puting susu Anda. Jadi, sariawan pada mulut bayi Anda dapat berpindah ke puting Anda, dan begitu juga sebaliknya dari puting Anda ke mulut bayi Anda.

Sariawan di mulut merupakan masalah umum pada bayi. Ini bisa mempengaruhi sekitar 1 dari 20 bayi baru lahir dan 1 dari 7 bayi usia 4 minggu. Bayi dapat dengan mudah mengalami sariawan karena sistem kekebalan tubuh bayi belum sepenuhnya berkembang sehingga kurang mampu melawan infeksi. Selain itu, sariawan pada mulut bayi juga dapat terjadi jika bayi Anda atau Anda sendiri baru saja diobati dengan antibiotik. Antibiotik dapat mengurangi tingkat bakteri baik yang ada dalam mulut bayi atau tubuh Anda, sehingga hal ini memungkinkan jumlah jamur meningkat pada mulut bayi atau tubuh Anda. Bayi atau Anda bisa menjadi lebih rentan terhadap infeksi jamur.

Sariawan akan dapat menyebar dengan mudah jika puting Anda sudah lecet atau jika bayi Anda tidak menempel dengan baik. Jika sudah terjadi sariawan pada mulut bayi atau pada puting Anda, sebaiknya segera obati agar infeksi jamur tidak menyebar.

Begitu pun dengan bayi yang terlalu sering dicium oleh berbagai macam orang (banyak orang). Karena itu akan menjadi pemicu yang handal bayi Anda terkena sariawan .

Gejala sariawan oleh jamur kandida:

  • Bintik putih atau luka kecil pada lidah, gusi, langit-langit mulut atau bagian dalam pipi.
  • Bayi menjadi gelisah saat makan.
  • Bayi mungkin juga tidak ingin menyusu pada payudara Anda karena mulutnya sakit.
  • Warna bibir menjadi pucat.

Meningitis Bakteri

Meningitis yang diakibatkan oleh infeksi bakteri atau disebut meningitis bakteri merupakan kondisi serius dan bisa mengakibatkan kematian setelah beberapa jam terinfeksi. Sebagian besar orang dengan meningitis bakteri dapat pulih, namun berisiko meninggalkan kecacatan permanen, misalnya kehilangan fungsi pendengaran, ketidakmampuan belajar, maupun kerusakan otak.

Bayi memiliki peningkatan risiko terkena meningitis bakteri dibandingkan dengan kelompok usia lainnya. Bakteri yang dapat menyebabkan meningitis pada bayi adalah streptokokus grup B, Streptococcus pneumoniae, dan Neisseria meningitidis.

Kuman penyebab meningitis bakteri menyebar dari orang ke orang. Beberapa bakteri dapat menyebar melalui saliva atau air ludah, berdekatan dengan seseorang yang memiliki kuman penyebab meningitis bakteri kemudian terpapar oleh batuk penderita atau penderita mencium bayi. Kuman juga bisa menyebar melalui kontak dengan orang-orang yang tinggal serumah dengan bayi.

Gejala meningitis:

  • Mulai dari bayi yang tidak aktif bergerak atau berinteraksi – Muntah atau tidak mau makan
  • Mudah marah atau menangis
  • Dokter juga mungkin melihat titik lunak di kepala bayi atau refleks abnormal.

Gejala-gejala meningitis pada bayi bisa terlihat jelas. Bila Anda melihat bayi menunjukkan tanda-tanda kepada meningitis, segera periksakan ke dokter.

Itulah beberapa informasi yang bisa kami sampaikan, semoga saja mampu mendatangkan manfaat untuk Anda dan juga bayi Anda. Dan semoga saja Anda dan bayi Anda selalu dalam keadaan sehat serta dede bayinya bisa tumbuh dengan optimal. Terimakasih.

Tinggalkan komentar