Mendididk Anak Laki-laki dengan Mengajaknya Melakukan Pekerjaan Rumah

Menyatakan bahwa pada tahun-tahun awal anak itu seorang pria atau wanita biasanya menerima layanan serupa dari orang tua mereka. Tetapi ketika mereka tumbuh dewasa, perbedaan jenis kelamin mulai terjadi di mana anak perempuan lebih mungkin untuk melakukan pekerjaan rumah daripada anak laki-laki.

Banyak orang yang mengatakan bahwa anak-gadis itu haruslah lebih rajin, mungkin ada benarnya. Mungkin karena itu, pekerjaan rumah terlihat lebih identik dengan wanita. Tetapi untuk alasan apa pun, sebenarnya anak itu tidak boleh dibiarkan ‘melarikan diri’ untuk belajar secara mandiri dan mengelola pekerjaan di rumah. Baik itu anak gadis maupun anak laki-laki sama-sama perlu untuk di ajarkan kemandirian, karena itu akan sangat berguna untuknya kelak. Di saat keadaan mengharuskan bahwa kita orang tuanya tidak bisa berada di dekatnya karena beberapa alasan. Setidaknya, anak-anak kita tidak akan merasa kebingungan disaat mereka tinggal sendiri, tidak terkecuali walaupun ia seorang anak laki-laki.

anak bersihkan rumahSekarang ini ramai media membicarakan bahwa, kekacauan yang bermula dari perilaku para pria yang tidak terpuji. Mungkinkah jika itu karena kita sebagai orang tua bersikap salah dalam mendidik mereka? Karena kerap kali banyak orang tua yang memaklumi ketika anak laki-lakinya tidak mau mengerjakan pekerjaan rumah, bahkan itu di anggap wajar karena ia “seorang anak laki-laki” Mungkin karena itu juga anak laki-laki merasa jika dirinya tidak pantas untuk melakukan pekerjaan rumah.

Dari situlah muncul ke-egoisan laki-laki, yang menganggap dirinya sebagai raja yang selalu bisa melakukan apa saja yang mereka mau. Dan tidak pernah mengerti atau memahami betapa susahnya seorang ibu untuk mengurus rumah selama ini. Lalu bagaimanakah cara mendidik anak laki-laki yang tepat agar mereka tumbuh menjadi pria yang mengagumkan, bukan hanya secara fisik namun juga kepribadiannya?

Berbeda dengan anak gadis, anak laki-laki umumnya lebih sulit menerima kasih sayang dan perhatian yang diberikan oleh orangtua. Selain itu, kecenderungan sikap yang sulit diatur pada anak laki-laki, menuntut orangtua untuk bisa bekerja ekstra dalam mendisiplinkan mereka. Apalagi mengingat sosok laki-laki adalah figur yang akan menjadi pemimpin ketika mereka dewasa kelak yakni menjadi seorang ayah yang membimbing anak dan istrinya. Untuk itulah, penting sekali mengajarkan dan mendidik anak laki-laki ibu dan bapa dirumah menjadi sosok pribadi yang mengagumkan.

Caranya sangatlah mudah, cukup dengan membiasakannya untuk mengerjakan pekerjaan rumah setiap harinya. Percaya atau tidak, dengan membiasakan seorang anak laki-laki untuk melakukan pekerjaan rumah terbukti efektif untuk menjadikannya seorang anak laki-laki, seorang pria, seorang suami dan juga seorang pemimpin yang baik suatu saat nanti. Berikut ini ada beberapa poin penting yang perlu diajarkan pada anak laki-laki guna membentuk karakternya menjadi sosok yang mengagumkan dan bisa di andalkan.

1. Tidak Selalu Anak Gadis Itu Identik Dengan Pekerjaan Rumah (Lakukan hal yang sama pada anak Laki-laki)

Tidak ada keraguan bahwa semua pekerjaan ini berkontribusi pada keterampilan khusus untuk seorang gadis, tetapi terasa kurang penting untuk anak laki-laki. Kenapa begitu? Secara khusus, anak perempuan ditemukan melakukan hampir 50% lebih banyak pekerjaan rumah daripada anak laki-laki. Bahkan, di beberapa tempat seperti Asia Selatan, Timur Tengah dan Afrika Utara, anak perempuan berusia 5 hingga 14 tahun telah mengerjakan pekerjaan rumah dua kali lebih banyak daripada anak laki-laki.

Ada baiknya kita sebagai orang tua melakukan usaha untuk mengubah kebiasaan tersebut, demi kebaikan anak laki-laki itu sendiri. Jadi, mulai sekarang bagi rata semua tugas atau pekerjaan rumah antara anak laki-laki dan anak perempuan. Ajari mereka agar bisa bekerja sama dengan baik.

2. Dapat Mengajarkan Pria Agar Lebih Menghargai

Mengenalkan seorang anak laki-laki pada pekerjaan rumah dari sejak dini akan mampu membuatnya tumbuh menjadi pribadi yang lebih menghargai orang lain. Termasuk ibu atau istrinya nanti. Dengan mengajak anak laki-laki untuk turut mengerjakan pekerjaan rumah, secara tidak langsung akan membuatnya sadar jika melakukan pekerjaan rumah tidak segampang yang ia pikirkan. Setidaknya mereka akan mengerti penderitaan ibu dalam mengelola keluarga dan pekerjaan rumah yang tidak pernah berakhir.

Dengan begitu mereka tidak lagi berpikir kalau pekerjaan rumah tangga atau seorang ibu rumah tangga hanyalah ‘mengayunkan kaki’ di rumah. Wahai para orang tua bayangkanlah jika anak laki-lakimu adalah seorang suami atau ayah suatu saat nanti, apa yang akan menjadi refleksi mereka yang bisa ia tunjukkan pada anak-anak mereka nanti

3. Mempertahankan Emosi Anak Perempuan

Jika di dalam rumah hanya gadis yang diminta untuk melakukan pekerjaan rumah tangga, maka gadis itu akan merasa terbebani dan diperlakukan tidak adil. Bahkan mungkin ada anak gadis yang ‘makan hati’ dan menjadi kurang percaya diri. Mereka pikir mereka hanya layak untuk melakukan pekerjaan rumah tangga seperti mencuci, menyiapkan makanan, atau merawat adik kandung, sehingga mereka tidak melihat potensi untuk mereka.

4. Anak Laki-laki Akan Menjadi Kepala Keluarga

Sementara kita sibuk memastikan anak gadis kita pandai membuatnya, apakah kita memiliki putra yang akan menjadi kepala keluarga suatu hari nanti? Menjadi pemimpin dalam keluarga bukan hanya mencari istri yang baik dan tekun. Sebaliknya, ini adalah tugas yang berat. Tentunya seorang pemimpin sendiri perlu tahu bagaimana menangani urusan rumah tangga, atau setidaknya mengelola dirinya sendiri.

Memang benar bahwa masih ada jalan lain bagi para pria, yaitu dengan merekrut orang (mencari pembantu misalnya), atau melakukan laundry (untuk mencuci) tetapi itu bukan hal dasar yang tidak dapat kita lakukan dan hanya membuang-buang uang. Dengan terbiasa melakukan sendiri, itu juga akan menunjukkan tingkat kebersihan seseorang, bukan?

5. Biarkan Anak Laki-laki Belajar Mandiri

Mungkin ada alasan untuk ‘wanita duduk di rumah, pria mencari uang di luar’. Tetapi kenyataannya adalah bahwa keadaan ini semakin buruk. Lihatlah berapa banyak lulusan perempuan dan pekerjaan yang membutuhkan keterampilan perempuan di luar rumah. Lagi pula, tidak menyenangkan untuk fokus pada pendidikan atau pekerjaan sampai melupakan keterampilan dasar untuk mengelola diri sendiri.

Bahkan tidak mau belajar, bukankah itu tidak akan baik untuknya nanti? Bahkan, ada penelitian yang telah membuktikan bahwa anak-anak tunawisma membuat pekerjaan rumah lebih sukses dalam hidup karena mereka mau belajar serta mencoba dan juga mudah beradaptasi dengan dunia luar.

6. Dia Akan Merubah Respon Stereotip

Akhirnya, memberi anak laki-laki kesempatan untuk melakukan pekerjaan rumah sebenarnya tidak hanya akan berdampak positif pada anak laki-laki tetapi juga mengubah stereotip masyarakat kita. Jadi ketika datang untuk berkunjung ke rumah orang, dimana kita melihat seorang anak laki-laki melakukan pekerjaan rumah, kita tidak membuat wajah yang aneh. Kami tidak berpikir mereka ‘lunak’ atau apalah namanya. Namun sebaliknya, itu merupakan hal yang normal terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Setiap Anggota Keluarga Harus Berkontribusi Peran

Meskipun anak perempuan mengerjakan pekerjaan rumah secara sukarela, anak laki-laki juga harus dilatih untuk menjadikannya kebiasaan – tidak hanya pada hari-hari yang penting atau khusus saja. Poin utamanya adalah, tidak peduli anak laki-laki atau perempuan, haruslah rajin? Karena baik anak perempuan atau laki-laki suatu saat nanti sama-sama mempunyai kehidupan sendiri. Seseorang akan benar-benar menjadi seseorang jika ia memiliki pribadi yang baik dari dasar hatinya, bukan karena dukungan dari orang lain.

Dalam kehidupan berkeluarga, setiap orang tua tentu mengharapkan anak-anaknya dapat tumbuh menjadi anak-anak yang baik, dapat dibanggakan dan mempunyai karakter atau sifat-sifat yang positif dalam segala hal. Kebanyakan orang tua akan melakukan segalanya demi membahagiakan anak-anak mereka dengan memberikan segalanya yang mereka inginkan, namun ternyata hal ini tidak selalu baik dalam proses mendidik anak.

Banyak anak yang dibiasakan hidup dengan kenyamanan dan tidak pernah merasa sulit dalam hidupnya cenderung menjadi manja dan tidak dapat mandiri. Sebagai orang tua, kita perlu berhati-hati dalam pengasuhan anak pada masa perkembangannya karena setiap didikan kita dapat berpengaruh besar bagi kehidupan sang anak di masa depan.

Mulai sekarang yuk kita ajak anak-anak kita belajar untuk mengerjakan pekerjaan rumah untuk membentuk pribadinya. Tidak peduli ia seorang wanita ataupun laki-laki. Karena dengan mengenalkan anak-anak dengan pekerjaan rumah dari sejak dini akan membuatnya tumbuh menjadi anak yang mandiri, dan selalu bisa di andalkan.

Coba bayangkan sejenak, jika ia merupakan seorang anak laki-laki yang bisa Anda andalkan dalam segala situasi misalnya, memasak, menyapu, ngepel, cuci piring, bukankah itu akan mampu menjadikan-nya seorang pria yang mengagumkan? Jika ia sudah tumbuh menjadi seorang pria yang mengagumkan (mandiri dan bisa di andalkan) bukankah menjadi sangat mungkin jika ia mampu menjadi seorang suami yang baik (penyayang serta pengertian). Begitu pun jika suatu saat nanti ia di haruskan menjadi seorang ayah. Semoga Bermanfaat.

Leave a Reply