Mengapa Seorang Anak yang Mirip dengan Ayahnya Lebih Disayangi?

Dikatakan bahwa, kemiripan bayi dengan ayah membuatnya merasa lebih terikat dengan bayi, sehingga ia pun nampak terlihat lebih mengasihi dan bahkan ikut mengasuh anak yang mirip dengannya. Kemiripan bayi dengan orangtua diyakini dipengaruhi faktor genetik. Namun ternyata dampaknya lebih besar dari pada itu. Studi terbaru mengungkapkan, kemiripan bayi dengan orangtua bisa memengaruhi pola asuh, bahkan kesehatan si bayi itu sendiri. Kenapa begitu?? Yuk kita simak selanjutnya:

1) Percaya atau tidak, bayi yang terlihat seperti wajah ayah mereka memiliki keunggulan unik – berdasarkan penelitian yang diterbitkan baru-baru ini oleh Journal of Health Economics. Sekelompok peneliti dari Binghamton University dan Southern Illinois University telah memfokuskan studi mereka pada 715 keluarga yang menderita, bercerai, tinggal terpisah, atau yang belum menikah – di mana bayi tinggal bersama ibu mereka.” Meskipun sang ayah tinggal terpisah dengan anak, namun kemiripan sang anak dengan ayahnya menyebabkan si ayah berusaha meluangkan waktu untuk dihabiskan bersama anaknya.”

anak ayahSehingga hasil menemukan bahwa bayi yang lebih seperti ayah mereka terlihat lebih sehat ketika mereka mencapai usia 1 tahun. Tingkat kesehatan ini diukur dalam banyak hal, termasuk sakit, berapa kali dirawat di rumah sakit, dan sebagainya. Ilmuwan dalam penelitian ini juga mengatakan, mereka menemukan bahwa indikator kesehatan anak meningkat ketika si bayi mirip ayah. Penjelasan utamanya ialah, ayah akan lebih sering mengunjungi si anak sehingga dia memiliki informasi akurat tentang kebutuhan ekonomi dan kesehatan anak, dan berusaha memenuhi kebutuhan tersebut. Hal ini dibandingkan ayah yang jarang mengunjungi anaknya. Secara tidak langsung, melihat diri dalam wajah si anak akan mampu memunculkan perasaan rindu terhadap anak tersebut.

2) Pada tahun 1995 juga pernah dilakukan penelitian, yaitu 122 orang diminta mencocokkan gambar-gambar anak usia 1, 10, dan 20 tahun yang tidak mereka kenal dengan foto-foto ayah dan ibunya. Anggota kelompok ini ternyata mampu mencocokkan setengah dari gambar bayi dengan ayahnya, sedangkan tingkat kecocokan antara anak dan ibunya jauh lebih rendah. Yang paling sulit adalah mencocokkan remaja berusia 20 tahun dengan orangtuanya. Mungkin seorang ayah akan merasa lebih bangga ketika orang lain mampu menebak atau lebih mudah mengenali bahwa itu adalah anaknya tanpa bertanya terlebih dahulu.

3) Penulis studi saat itu membeberkan penjelasan evolusioner mengenai penemuannya. Seorang ayah, tak seperti ibu, tak pernah bisa memastikan bahwa bayi yang dilahirkan pasangannya adalah hasil dari benihnya. Jika ia menyadari adanya kemiripan antara dirinya dan sang bayi, maka, ia akan tahu bahwa bayi itu adalah anaknya. Sehingga ia cenderung akan melindungi, merawat dan juga lebih mengasihi si bayi. Meskipun kedengarannya seperti itu tidak masuk akal, namun alasannya mungkin tidak akan mengejutkan Anda.

4) Dalam sebuah penelitian juga menyebutkan bahwa, wajah bayi dikatakan lebih sehat karena ayah menghabiskan lebih banyak waktu bersama mereka. Data menunjukkan bahwa ayah menghabiskan kurang dari 2,5 hari sebulan jika anak tidak menyerupai mereka.

5) Perlu diingat bahwa penelitian ini menargetkan peran seorang ayah dalam keluarga bermasalah atau paruh waktu. Ini membuktikan bahwa karakter seorang ayah adalah faktor penting dalam perkembangan fisik dan perkembangan kepribadian seorang bayi, terutama dalam keluarga yang bercerai atau ibunya tidak hidup bersama. Wajah yang sama ini juga mampu meyakinkan seorang ayah bahwa anak itu adalah anak mereka.

6) Kenyataannya adalah, kita dapat melihat sendiri bahwa ada kasus pasangan yang bermasalah, seorang ayah tidak mau bertanggung jawab atas pengasuhan anak karena dia tidak yakin bahwa anak itu adalah anaknya. Beberapa menuduh non-ibu dari ibu dan menolak untuk menerima kenyataan bahwa anak itu adalah miliknya karena dia tidak memiliki karakteristik fisik yang serupa dengannya. Dengan kata lain, seorang anak yang mirip dengan orang tuanya akan membuat para orang tua itu sendiri merasa lebih yakin.

7) Mungkin karena para ayah membutuhkan motivasi untuk lebih memberikan perhatian pada anaknya. Sedangkan ibu akan selalu mencintai anaknya, walaupun sang anak tidak mirip dengan dirinya. Menurut ilmuwan yang terlibat dalam penelitian ini, bayi mirip ayah memengaruhi keinginan ayah untuk berperan aktif sebagai orangtua. Kemiripan bayi dengan ayah, dapat memotivasi sang ayah untuk berusaha lebih keras menjalankan peran sebagai orangtua yang baik.

Pentingnya Keseimbangan Peran Orang Tua dalam Keluarga

mirip ayahBeberapa penelitian awal juga memperkuat pernyataan ini di mana para peneliti menemukan bahwa ayah tertarik pada anak-anak dengan wajah yang mirip dengan mereka, dan secara tidak langsung menghabiskan lebih banyak waktu bersama mereka. Meskipun peran ayah bukan satu-satunya penentu masa tumbuh kembang anak yang baik, namun keterlibatan ayah dalam masa pertumbuhan anak tetap memegang peranan penting. Jadi, mirip atau tidak bayi dengan ayahnya, seharusnya ayah tetap bisa meluangkan waktu untuk menjalankan peran aktif sebagai orangtua.

Namun, dari sini kita dapat menyimpulkan bahwa pentingnya menciptakan keseimbangan antara peran ibu dan ayah terhadap anak, bahkan jika pasangan telah berpisah atau tidak hidup bersama. Singkatnya, jika ibu dan ayah masing-masing berbagi tugas, itu pasti akan memiliki dampak positif pada perkembangan seluruh bayi – tidak peduli anak itu mirip dengan siapa!

Wajah Anak Mirip Ayah Atau Ibu??

Mengapa bayi bisa mirip sekali dengan Anda. Atau, sebaliknya, tak mirip sama sekali. Bagaimana ini bisa terjadi?? Setiap orang tua merasa penting sekali melihat paras bayi untuk pertama kalinya. Apa lagi bagi Anda yang baru memiliki anak (anak pertama).

Mirip atau tidak mirip, yang jelas setiap anak selalu dibekali “warisan” genetik dari ayah dan ibunya. Sperma yang bertemu dengan sel telur itu sudah membawa materi gen-nya masing-masing. Jadi, mau tak mau, anak memang tak bisa memilih apa yang sudah “diwariskan” dari orang tuanya. Baik warisan materi gen yang muncul sebagai ciri-ciri fisik tertentu seperti warna bola mata, perawakan dan lainnya. Maupun yang tak terlihat seperti penyakit, golongan darah dan lainnya.

Inilah proses awalnya. Sesungguhnya, jumlah materi gen yang Anda dan pasangan turunkan ke anak tetap sama. Setengah dari ayah dan setengah lagi dari ibu. Sebab, secara mutlak ayah dan ibu memang masing-masing menyumbang 50% materi gen pada kromosom anak. Sel telur matang mengandung 23 kromosom, begitu pula dengan sel sperma, mempunyai 23 kromosom. Pasangan kromosom sel telur maupun sperma, ibarat sepatu atau sandal yang berpasangan, kanan dan kiri. Ketika terjadi proses pembuahan, sel sperma maupun sel telur “klop” bertemu pasangan kromosomnya dan bekerjasama sesuai tugasnya.

Jadi, ketika pembuahan terjadi, pada kondisi normal, 23 kromosom sel telur akan menyatu dengan 23 kromosom sperma, sehingga membentuk 23 pasang kromosom. Dari sinilah cikal bakal manusia. Diantara 23 pasang kromosom itu, ada sepasang yang disebut sebagai kromosom seks, yang menentukan kelak bayi akan menjadi laki-laki atau perempuan. Sisanya, 22 pasang kromosom (44 kromosom), disebut sebagai kromosom biasa atau autosom. Kromosom atau autosom itu sendiri terdiri dari ribuan gen.

Pada tubuh kita, ada sekitar 80.000-100.000 gen. Informasi materi dari puluhan ribu gen yang diturunkan ayah dan ibu itulah yang bekerjasama mengatur semua fungsi sel-sel tubuh yang tampak seperti warna kulit, rambut, bentuk tulang, sampai fungsi pencernaan. Bahkan diperkirakan kemampuan intelektual pun merupakan manifestasi gen yang diturunkan salah satu atau kedua orang tuanya.

Kata Terakhir
Tetaplah memberi cinta serta perhatian kepada anak-anak walaupun ia mirip atau tidak dengan Anda. Karena pada dasarnya bukanlah kemiripan yang akan menentukan ia akan menjadi anak yang baik atau tidak, tetapi kasih sayang dan juga perhatian Andalah yang akan menentukan bahwa kelak ia akan menjadi anak yang baik. Percaya itu!

Leave a Reply