Gangguan Selective Mutism, Ciri dan Penyebabnya

Aneh saat guru di sekolah menyatakan jika anak saya sangat pendiam di sekolah. Seakan tidak ada suara. Padahal di rumah nampaknya aktif selayaknya anak-anak pada umumnya. Banyak bertanya, suka bercanda, dan bermain bersama dengan saudara kandung atau sepupu seperti biasanya. Tapi kenapa di sekolah menjadi pendiam ya? Apa ada yang salah dengan dia? Dan apakah ada dari Anda yang mengalami hal ini?

Ketika seseorang diperkenalkan ke lingkungan baru dan dikelilingi oleh orang luar, pasti ada rasa malu untuk berbicara, merasa ragu untuk mengungkapkan pendapat, atau terlibat dalam aktivitas bersama. Hal semacam ini biasanya terjadi pada anak kecil, terutama mereka yang pertama kali dikirim ke sekolah atau tempat rame.

gangguan selective mutism

Namun, Anda perlu berhati-hati serta lebih selektif lagi untuk memperhatikan anak Anda. Jangan sampai anak Anda mengalami kecemasan yang berlebihan selama 2 bulan. Takutnya anak Anda mengalami masalah dengan “Mutism Selective”.

Selective Mutism (SM) atau gangguan pertumbuhan pada masa kanak-kanak terjadi karena serangan kecemasan yang berlebihan, diderita oleh 6 dari 1000 anak, hampir sama banyak dengan rasio anak penderita autisme. Tanpa penanganan tepat, anak dengan SM akan berlanjut menjadi sosok yang membisu di luar lingkungan yang dikenalnya.

Apa Itu ‘Mutism Selective’?

Menurut situs One Education, ‘selective mutism’ atau ‘selective silence’ muncul saat seorang anak berada dalam situasi sosial tertentu. Anak yang mengalami gangguan ini bisa berbicara dengan bebas dan percaya diri saat merasa nyaman dalam keadaan tertentu.

Namun, dalam keadaan tertentu juga (misalnya di sekolah atau tempat ramai) mereka akan mulai merasa cemas, gugup, dan takut mendengarkan orang lain. Dalam sekejap ia akan nampak seperti patung, ‘keras’ agak berbeda dari pribadinya di rumah!

‘Selective Mutism’ Berbeda Dengan Pemalu
Benar, sebagian besar yang mengalami masalah ini sering bingung malu. Sebaliknya, orang pemalu mampu beradaptasi dan menyesuaikan diri bila diberi waktu. Namun, respons mereka terhadap ‘mutasi selektif’ selalu didorong oleh kegelisahan dan seolah-olah itu adalah fobia.

“… mereka seperti ‘dipaksa’ untuk menutup mulut mereka dan tidak dapat berbicara,” kata Dr. Elisa Shipon-Blum dari Selektif Mutism Anxiety Research & Treatment Center melalui ABC News. Sebaliknya, dalam situasi tertentu mereka sangat normal, aktif dan membicarakannya!

Siapa Yang Memilikinya?
Menurut sumber, ‘mutism selective’ diperkirakan mencapai 1 dari 140 anak-anak. Beberapa ahli percaya hal itu bisa terjadi pada anak-anak sejak usia 2 sampai 4 tahun dan ada juga yang terjadi pada masa remaja.

Gejala ‘Selective Mutism’
Berikut adalah beberapa gejala ‘selektif mutisme’.

  • Rasa malu yang ekstrem, takut orang luar dan ketidakmampuan berbicara dalam keadaan tertentu.
  • Penggunaan sarana komunikasi pada anggota tubuh lainnya seperti mengangguk, menggelengkan kepala, atau menunjuk jari.
  • Bisa berbicara dengan tenang dan percaya diri dalam keadaan tertentu (misalnya di rumah).
  • Merasa resah, gelisah (membuat gerakan berulang untuk mengatasi kegugupan – menggerakkan pulpen, mengguncang kaki, dll.) Mencegah kontak mata saat menghadapi kecemasan.
  • Sebenarnya ingin berbicara, tapi karena ketakutan, ketakutan dan ketakutan yang mendominasi diri mereka sendiri, mereka akhirnya bertindak untuk membungkam seribu bahasa pada keadaan atau tempat tertentu.

smPenyebab Selective Mutism

Menurut situs web VeryWell.com. Meski sering dianggap disebabkan oleh trauma, studi terbaru berpendapat bahwa tidak ada penyebab yang jelas yang menyebabkan gangguan ini. Namun beberapa peneliti dan ahli perkembangan anak yang tergabung dalam APA menyetujui bahwa sedikit banyaknya pemicu SM adalah sifat dasar yang dibawa seorang anak sejak lahir. Anak yang pencemas, cenderung mengalami SM. Hambatan perilaku ini secara fisik ditengarai berhubungan dengan reaksi berlebih pada bagian otak yang disebut amygdala.

Secara fisiologis amygdala bekerja menerima dan memproses sinyal bahaya, yang kemudian membantu seseorang menentukan reaksi perlindungan diri. Pada anak pencemas, amygdala-nya sangat sensitif dan menyalakan alarm “bahaya” ketika anak merasa tidak nyaman berada di lingkungan sosial yang relatif ramai atau tidak dikenalnya.

Sekalipun sebenarnya tidak ada bahaya nyata dalam kondisi ini. Tidak sekadar membisu, anak pengidap SM juga mengalami debar jantung yang lebih cepat, dan tangan berkeringat, layaknya seseorang yang mengalami phobia. Hal ini juga cenderung dikaitkan dengan gangguan kecemasan dan predisposisi genetik.

Peran Orang Tua
Jika anak Anda didiagnosis dengan tanda-tanda ini, pastikan langkah awal dilakukan untuk memastikannya dapat diatasi dengan lebih cepat dan efektif. Di antara peran Anda dalam mengembangkan rasa kurungan dan mengurangi kecemasan anak adalah:

  • Kenali apakah ada sesuatu yang ditakuti oleh anak-anak di sekolah.
  • Jangan selalu bandingkan anak Anda dengan saudara kandung atau anak lainnya.
  • Hindari mengkritik atau memarahinya, terutama di depan orang lain. Sebagai gantinya, akui atau coba pahami perasaan mereka.
  • Ini membantu untuk berteman atau berteman karena anak-anak yang menghadapi masalah ini biasanya lebih mudah berbicara dengan teman sebaya.
  • Perhatikan dan coba apa yang dia minati – misalnya anak-anak mungkin bernyanyi tapi tidak berbicara di sekolah.
  • Minimalkan untuk bermain gadget elektronik, nonton TV dan gadget. Dorong mereka untuk berbicara melalui kegiatan secara tidak langsung seperti mendongeng, bermain wayang, atau membaca buku untuknya.
  • Hindari teknik hukuman dan paksa mereka untuk berbicara.
  • Minta kerja sama guru dan selalu tanyakan kondisi anak di sekolah.

Berikut ini beberapa ciri-ciri anak yang menderita gangguan selective mutism:

Nonkomunikatif
Sebagian anak penderita SM bisa berperan serta dalam aktivitas kelas dengan menggunakan bahasa nonverbal, seperti mengangguk atau menggelengkan kepala, menunjuk, mengedipkan mata, dan lain sebagainya. Tetapi ada juga anak penderita SM yang sama sekali tidak mampu berkomunikasi, baik secara verbal maupun nonverbal. Ia berperilaku menghindar, tidak komunikatif, dan tak mau berinteraksi dengan guru atau teman sekelasnya.

Penderita juga menjadi sosok peragu dan tak memiliki kemampuan untuk memulai berbicara. Ketika diminta bicara di kelas, atau menghadapi orang di luar kerabatnya, si anak umumnya menunduk dan menarik diri.

Gangguan kecemasan
Berbagai penelitian menekankan adanya hubungan antara SM dan gangguan kecemasan (anxiety disorders). Ini merupakan salah satu bentuk manifestasi gangguan kecemasan level berat pada anak. Beberapa riset menemukan adanya kemungkinan hubungan genetik.

Sebagian besar anak penderita SM memiliki predisposisi untuk rasa cemas yang dapat diwarisi dari keluarga dekat. Banyak anak SM memiliki salah satu atau kedua orangtua atau anggota keluarga lain yang pernah / masih menderita SM.

Sering sekali anak dengan SM didiagnosis sebagai anak pemalu, autism spectrum disorder, oromotor dyspraksia (gangguan motorik oral), atau oppositional-defiant disorder (gangguan pola perilaku yang menentang peraturan). Waktu untuk proses terapi terbuang sia-sia karena kesalahan diagnosis. Jadi, sangat penting kasus SM dapat didiagnosis sejak dini. Dengan penatalaksanaan yang tepat, gejala utama SM seperti tidak komunikatif dapat disembuhkan.

Jika Dibutuhkan, Lakukan Pengobatan

Jika anak Anda kurang responsif, tidak dapat beradaptasi dan menahan diri untuk tidak berbicara secara ekstrim, cobalah untuk mengidentifikasi penyebab dan tindakan secara proaktif untuk mengatasinya. Bicarakan dengan guru mereka dan temui dokter Anda untuk mendapatkan diagnosis kondisi mereka yang lebih akurat. Biasanya, terapi wicara adalah salah satu perawatan yang direkomendasikan untuk masalah ini.

Sudah di jelaskan diatas, jika ‘Selective Mutism’ itu berbeda dengan pemalu walaupun pada awalnya terlihat sama (pemalu). Untuk itu, mulai sekarang kita sebagai para orang tua haruslah lebih peka terhadap putra-putri kita, agar ia mampu tumbuh dengan sehat. Baik itu dari segi fisik maupun mentalnya. Mudah-mudahan ini akan bermanfaat untuk Anda.

Leave a Reply