5 Efek Buruk Kebiasaan Menyimpan Banyak Barang

“Merasa sayang untuk membuangnya, gimana kalau nanti ingin menggunakannya lagi? ” Mungkin itu awalnya. Apakah Anda pernah merasakan hal itu? atau ada sanak saudara yang seperti itu atau mungkin anggota keluarga Anda sendiri yang seperti itu? Mungkin terkadang kita merasa sayang untuk membuang suatu barang atau memberikannya pada orang lain, karena barang tersebut memiliki banyak kenangan atau pemberian dari seseorang yang spesial. Itu masih di anggap wajar.

Tetapi jika seseorang bersikap luar biasa (melampoi batas) untuk menghasilkan teman dan mengorbankan kenyamanan adalah tanda penyakit jiwa atau ‘gangguan penimbunan’, seperti dilansir Psychology Today. Orang bilang, ‘kurang lebih’. Tetapi beberapa juga berasumsi bahwa ada ‘nilai’ yang berbeda dalam penderitaan itu.

barang

Semua orang pasti akan menyimpan benda yang dianggap perlu, namun sering kali menjadi tidak terpakai dalam waktu yang lama. Bagi beberapa orang, menyimpan benda menjadi hal serius jika ia sudah sampai pada tahap menimbun barang bekas terlalu banyak, dan mengalami kesulitan untuk menyisihkan benda yang sebenarnya tidak akan ia pakai. Ini dikenal dengan istilah hoarding. Pada dasarnya, hoarding merupakan masalah psikologis, namun sebagian besar hoarder (orang yang melakukan hoarding) tidak menyadari jika ia mengalami gangguan ini.

Jarang orang bahkan hampir tidak ada orang yang menyadari ataupun mau mengakui bahwa dirinya memiliki kekurangan (menderita penyakit ini). Biasanya seseorang yang menderita penyakit ini ( menimbun barang), akan berdalih untuk menutupi kekurangannya. Akan ada berbagai macam alasan yang ia kemukakan, kadang ia akan mengatakan dia perlu mengirim barang-barang itu ke kerabatnya, kadang ia juga akan berdalih bahwa ia penyayang binatang.

Tetapi orang-orang di sekitarnya melihat bahwa dia memiliki kebiasaan yang buruk. Masalah akan timbul bila seorang penimbun barang tinggal bersama orang lain karena menikah misalnya. Jika dia tidak mengubah kebiasaannya pasangan hidupnya pasti tidak akan betah tinggal bersama dia. Atau jika mereka kaya mungkin ada sebuah gudang yang bisa dikhususkan untuk menyimpan semua barangnya.

Saya pernah membaca berita tentang seorang wanita tua yang hilang dan diperkirakan meninggalkan rumahnya kemudian lupa jalan pulangnya. Ternyata beberapa hari kemudian dia ditemukan meninggal di gudang rumahnya yang letaknya terpisah di halaman belakang. Rupanya dia berniat mengambil sesuatu dari gudang itu, namun karena terlalu penuh barang dia tertimpa sebuah benda berat dan tidak dapat keluar. Berhari-hari dia di situ tanpa disadari oleh suaminya yang malah melapor ke polisi karena mengira dia hilang. Bukankah itu buruk?

Sebagai langkah awal mungkin Anda bisa mengenali atau menyadari penyakit yang satu ini? Mungkin dengan begitu ia akan bisa di sembuhkan. Kebiasaan menimbun barang termasuk penyakit OCD (Obsessive Compulsive Disorder), penyakit di mana penderitanya obses melakukan sesuatu tanpa dapat mencegahnya, sama halnya seperti orang yang selalu merasa tangannya kotor dan mencucinya setiap kali walau sudah bersih.

Tingkat keparahan peyakit ini akan membuat si penderita mengorbankan dirinya sendiri. Misalnya, ia akan memenuhi rumahnya dengan berbagai macam barang sehingga akan membuatnya kesulitan untuk bergerak, bahkan tempat tidurnya pun akan ia korbankan. Ada juga yang begitu sayangnya kepada kucing dan anjing sehingga di rumahnya yang sempit dia memiliki lebih dari selusin anjing dan kucing. Untuk memelihara hewan-hewan itu dia sendiri rela tidak makan sehingga badannya kurus kering.

Selain mempengaruhi emosi, barang yang kelebihan muatan ini ‘beban’ yang dapat mempengaruhi kesehatan fisik dan produktivitas. 5 efek samping ini akan dialami oleh praktisi kebiasaan tersebut. Inilah bahaya jika seseorang memiliki kebiasaan ‘penimbun’ atau terlalu banyak untuk menghemat banyak barang.

1. SUASANA YANG MENDORONG STRES
Jika Anda bisa menghemat banyak barang, mungkin ada yang lebih ‘aman’ karena Anda tidak perlu keluar untuk membeli lebih banyak. Kapan harus digunakan, semuanya tersedia. Namun jika barang tersebut masih dipelihara bahkan 4-5 tahun tapi tidak pernah digunakan secara langsung!

Rumah akan menjadi semakin penuh. Itu akan berpengaruh pada Tubuh, mental dan fisik setelah seharian bekerja menjadi penuh sesak. Sedikit demi sedikit, tekanan dari hal-hal yang berlebihan menjadi gairah kita untuk memulai rutinitas sehari-hari. Sebenarnya, rutinitas harian kita akan terganggu oleh terlalu banyak barang di suatu tempat.

2. MENDORONG KEBIASAAN YANG BERLEBIHAN
Ternyata, kebiasaan mengumpulkan banyak barang ini juga untuk makanan kita. Studi telah membuktikan bahwa inilah salah satu penyebab yang menyebabkan kita makan berlebihan. Jika ada yang melihat reality show ‘Hoarders’ di TV, Anda harus memperhatikan bahwa orang-orang yang suka mengumpulkan banyak barang ini terdiri dari orang-orang yang mengalami obesitas.

Suasana yang semarak membuat seseorang merasa stres dan suka makan merasa lebih nyaman. Selain itu, mendorong kecenderungan untuk makan makanan kenyamanan non-bergizi ‘ untuk menenangkan diri.

3. KURANG PRODUKTIF
Tumpukan barang tidak hanya membuat mata kita sakit, tapi menahan pikiran untuk bekerja. Bayangkan jika Anda melihat ratusan inbox email sudah membuat kita stres, belum lagi barang di depan mata. Saat ditumpuk, lebih sulit untuk fokus pada pekerjaan yang ada.

Lingkungan bertumpuk menyebabkan kesehatan mental yang baik. Itulah kesimpulan yang bisa dibuat dari sebuah penelitian yang dilakukan untuk mengidentifikasi hubungan stres dengan lingkungan kerja.

4. MUDAH MENANGIS
Perhatian serat tidak bisa berhenti menyensor informasi yang tidak berguna di otak. Informasi ini disebut ‘mental clutter’ dari sudut pandang psikologis dan ini adalah salah satu penyebab utama penenang di hari tua. Ini dimulai dengan pikiran yang tenang dan menyebabkan otak tidak memproses informasinya secara efisien. Otak terpaksa bekerja berlebihan karena stimulasi lebih banyak daripada lingkungan yang tidak beraturan.

Akibatnya, pada awalnya kita akan mengalami kehilangan jangka pendek atau melupakan jangka pendeknya. Jika tidak dicegah, maka bisa habis untuk membuatnya mudah kehilangan fokus dan humor.

5. ISOLASI SOSIAL
Orang yang suka mendapatkan banyak barang ini tidak hanya akan memiliki masalah dengan diri mereka sendiri, namun efeknya juga akan dirasakan oleh anggota keluarga. Saat dipaksa ‘bersembunyi’ di bawah tumpukan, anggota keluarga tidak hanya akan merasa ‘lemah’ tapi juga emosional. Yang lebih serius, ketidaknyamanan ini menyulitkan orang untuk membaca sisa hidup mereka dalam kehidupan mereka.

Akibatnya, praktisi ini kurang memperhatikan perasaan anggota keluarga karena emosi terlihat sama setiap hari. Sebenarnya, mereka juga cenderung terasing dan lebih obsesif soal item sampai mereka tidak ingin orang lain menyentuhnya.

Tips Untuk Menghentikan Kebiasaan Menimbun Barang Agar Kualitas Hidup Menjadi Lebih Baik

a. Mulai Secara Perlahan
Hal pertama yang harus dilakukan adalah menghentikan kebiasaan menyimpan barang berlebihan. Mungkin bisa dimulai dari membersihkan tumpukan yang sudah ada. Dengan begitu, dorongan untuk kembali menimbun bisa sangat berkurang.

Tentu akan kewalahan kalau Anda membersihkan semua barang sekaligus, jadi mulailah secara perlahan dari satu area atau tumpukan, baru berlanjut ke yang berikutnya. Atau, atur goal berdasarkan waktu, misalnya dengan membersihkan barang selama satu jam. Lakukan secara disiplin dan konsisten setiap hari sampai tak ada lagi tumpukan barang.

b. Jangan Lapar Mata
Salah satu cara terpenting untuk menghentikan kebiasaan menimbun barang adalah dengan membatasi diri untuk tidak membawa barang baru ke rumah. Saat sedang ke mall dan tergoda untuk membeli sesuatu, coba tanya diri Anda 3 pertanyaan ini: “Apa saya perlu barang ini? Apa barang ini akan sering saya pakai? Apa saya sudah punya barang yang seperti ini?” Kalau Anda hanya lapar mata dan sebenarnya tak memerlukan barang tersebut, pasti nantinya hanya akan memenuhi lemari Anda di rumah. Jadi, pastikan untuk membeli barang yang di butuhkan saja.

c. Berani Bilang Tidak
Anda ditawari barang yang tak terpakai dari tetangga, teman, atau keluarga? Kalau memang tidak perlu, inilah saatnya Anda memberanikan diri mengatakan tidak. Abaikan saja perasaan tak enak karena menolak hadiah atau tak tega melihat barang dibuang begitu saja, karena itu bukan tanggung jawab Anda. Cukup katakan “tidak, dan terima kasih.”

d. Tanya Alasan Pada Diri Sendiri
Pastikan selalu ada alasan untuk setiap hal yang kita lakukan, termasuk kebiasaan menimbun barang. Nah, coba introspeksi dan cari tahu akar penyebab dari perilaku Anda ini. Apa karena Anda sering belanja impulsif saat sedang bosan atau stress? Atau adanya tumpukan barang di rumah, membuat Anda tak merasa terlalu kesepian?

Ada banyak sekali hal yang bisa menjadi alasan, jadi lebih baik jujur pada diri sendiri dan mulai cari solusi untuk menanganinya. Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan psikolog bila memang diperlukan. Lebih cepat lebih baik, jangan sampai terlambat.

e. Buat Aturan Ketat
Setelah tumpukan barang dibersihkan dan nafsu belanja sudah terkendali, buat 2 aturan ketat supaya tak ada lagi timbunan barang di rumah. Untuk setiap barang yang Anda bawa ke rumah, harus ada satu barang yang dikeluarkan. Beli dress baru untuk Jumat batik di kantor? Nah, segera keluarkan satu pakaian dari lemari, lalu bisa Anda donasikan atau dijual sebagai barang second.

Gunakan aturan 6 bulan jika Anda merasa susah untuk merelakan barang. Simpan dulu barang-barang Anda dalam sebuah kardus khusus. Bila setelah 6 bulan Anda sama sekali tak menengok atau menyentuh barang yang ada dalam kardus tersebut, langsung buang, donasikan, atau jual semua isi di dalamnya. Dengan begitu Anda tidak akan mempunyai tumpukan barang lagi bukan?

f. Atur Barang
Rumah yang berantakan juga bisa bikin Anda tanpa sadar menimbun barang, jadi mulai rapikan setiap ruangan dengan menata barang sesuai kegunaannya. Saat rumah sudah rapi dan nyaman, pasti akan sayang rasanya kalau dipenuhi dengan tumpukan barang lagi. Secara tidak langsung itu juga akan membuat Anda terbiasa untuk menjaga kebersihan di mana pun Anda berada.

g. Jangan Gengsi Meminta Bantuan
Orang yang sudah lama punya kebiasaan menimbun barang biasanya akan merasa gelisah saat harus membereskan tumpukan barang yang sudah lama disimpannya. Jadi, jangan gengsi untuk meminta bantuan sahabat atau anggota keluarga yang bisa bersikap tegas saat sedang memilah barang. Percaya deh, sahabat Anda pasti akan memberikan pendapat jujur mengenai koleksi baju yang sudah waktunya dikeluarkan dan cuma bikin lemari sesak.

Kebiasaan menimbun barang bukan hanya memakan tempat, tapi juga energi Anda. Untuk itu mulailah dari sekarang melakukan sesuatu, supaya kita bisa hidup lebih nyaman di lingkungan yang bebas stres.

ADA PERBEDAAN ANTARA ‘PENIMBUNAN’ DENGAN ‘MENGUMPULKAN’
Tidak diragukan lagi beberapa orang suka mengumpulkan barang sebagai hobi. Tapi kita harus bisa membedakan antara koleksi barang berharga dan sebaliknya.

Menurut Anxiety And Depression Association of America , perbedaan antara kedua kebiasaan ini adalah dalam urutan dan pengorganisasian ruang, emosi, dan waktu yang bisa dialokasikan untuknya.

Orang yang benar-benar mengumpulkan barang antik atau koleksi yang berharga akan sering merasa bangga, mampu mengelola dan mengkategorikan semua barang dengan baik, mengatur, dan memiliki ruang khusus untuk semua barang tersebut. Di sisi lain, mereka yang dianggap sebagai ‘penimbun’ tidak dapat menemukan dan mengatur barang mereka, mengorbankan ruang dasar di rumah, dan merasa tidak nyaman untuk membicarakan barang-barang mereka.

Jangan kaget, ada juga studi yang mengklaim bahwa kebanyakan dari mereka tidak ‘hemat’, tapi punya masalah keuangan dan banyak yang berhutang!

Semoga penjelasan di atas dapat bermanfaat untuk Anda, jika adapun yang merasa atau bahkan menderita penyakit ini, saya doakan semoga ia segera sembuh dari penyakitnya.

Leave a Reply