7 Alasan Kenapa Pria Juga Harus Ikut Ambil Cuti Bersalin

Pria itu berkata, seorang wanita akan merasa menjadi seorang ibu begitu dia tahu bahwa dia hamil. Namun seorang pria akan mulai menjadi seorang ayah saat pertama kali mengulurkan tangan pada bayinya. Hal ini karena secara alami proses ikatan membutuhkan waktu lebih lama untuk pria.
Dalam presentasi Anggaran Terakhir 2018 , pentingnya ibu hamil dan cuti hamil ditekankan, di mana mulai meningkat dari 60 hari menjadi 90 hari.

Cuti melahirkan penting bagi wanita untuk memastikan bahwa wanita dapat bersantai dan menjaga kesejahteraan mereka dengan bayi, saat-saat awal menyusui juga sangat penting untuk pertumbuhan bayi dan tidak akan melewatkan untuk bisa melihat bayi yang baru lahir tumbuh dewasa. Berbeda dengan cuti yang diberikan kepada laki-laki, cuti ayah yang dialokasikan hanya sekitar satu minggu, itupun tidak diumumkan secara resmi dalam undang-undang di Indonesia. Makanya, itu tergantung pada sopan santun dan kebijakan masing-masing pengusaha.

cuti melahirkan
Menurut laporan Telegraph , negara-negara seperti Norwegia, Swedia, Islandia, dan Finlandia, cuti melahirkan bagi para ayah bukanlah menjadi sebuah isu baru lagi. Negara-negara ini telah menyediakan cuti hamil 14 hari serta liburan yang dapat dibagi selama 30 hari untuk pria dengan pilihan kebijakan pembayaran fleksibel.

Namun Itu belum menjadi tren di Indonesia. Karena disini masih banyak orang yang belum tau atau masih mempertanyakan kenapa pria harus mengambil cuti bersalin? Memangnya apa yang dilakukan, kan ada ibunya? Nah, disini akan dibahas tentang beberapa hal, yang mungkin akan membuat Anda lebih mengerti mengapa pria harus mengambil cuti bersalin.

1. Membangun Hubungan Antara Bayi Dan Ayah
Ibu biasanya punya banyak waktu untuk memperkuat hubungan si kecil, terutama saat menyusui. Bagi sang ayah, mereka harus bekerja sama untuk mengasuh bayi. Periode 1 minggu tampaknya terlalu singkat bagi bayi untuk berkenalan dengan detak jantung ayah dan merasakan sentuhan hangat dipelukannya.

Padahal, meski baru lahir tidur dan bermain tidak aktif, namun pikiran mereka sangatlah peka terhadap lingkungan. Menurut para ahli , bayi yang baru lahir bisa mengingat suara yang sering mereka dengar saat berada di perut ibu. Jadi, itulah sebabnya kehadiran seorang ayah yang selalu dekat dengan bayi akan dapat lebih memperkuat hubungan di antara mereka.

2. Membantu Mengelola Barang Di Rumah
Berjalan-jalan sambil mengelola perawatan diri dan mengasuh bayi bukanlah hal yang mudah - terutama jika pasangan memiliki bayi lain dan perlu ditangani sehari-hari seperti memberi makan dan sekolah. Istri yang telah berjuang untuk mengasuh bayi mereka akan membutuhkan bantuan dari suami mereka.

Percayalah, ketika sang ayah dapat membantu di saat mandi atau mengganti popok si bayi sudah sangat memberi arti kepada sang istri. Di era modern ini juga, semakin banyak wanita memilih untuk menjauhkan diri dari keluarganya sendiri karena mereka tidak ingin mengganggu atau merepotkan orang tua atau mertua. Dengan menjaga kesejahteraan istri dengan baik, maka semakin cepat istri bisa pulih dengan sempurna.

3. Kurangnya Perasaan Tekanan (Depresi Postpartum)
Seperti yang dinyatakan pada poin kedua di atas, waktu kelahiran bayi awal adalah masa-masa sulit bagi wanita. Tanpa dukungan suami, ia bisa menimbulkan emosi yang tidak stabil. Dengan kurang tidur dan kelelahan dalam perawatan bayi, tentu ibu butuh dukungan untuk mengurangi beban fisik dan mental.

Partisipasi ayah dalam perawatan prenatal untuk bayi penting untuk kesejahteraan ibu dan anak. Menurut Journal of Health Politics, Policy and Law seperti dilansir Fox News , risiko 'depresi pascamelahirkan' atau kerugian bisa dikurangi dengan memberikan cuti ayah yang lebih fleksibel kepada pria.

4. Lebih Produktif Saat Bekerja Kembali
Selain memberi yang baik untuk ibu dan bayi, pelepasan ayah juga penting untuk kebutuhan emosional  pria dalam mempersiapkan bayinya. Jika liburan terlalu pendek, sulit bagi pria untuk menyesuaikan diri dan merasa kacau untuk mengelola pekerjaan dan urusan rumah mereka. Masalah ini bisa terus-menerus dan suram karena tidak bisa dipecahkan dalam waktu yang terbatas. Studi tersebut menemukan bahwa seorang ayah yang percaya dalam mengelola rumah tangga lebih produktif dalam karirnya.

Dalam komentar TIME Magazine, cuti ayah terlihat tidak hanya penting untuk kesehatan mental pria tapi juga untuk pengembangan sebuah perusahaan. Dengan menyediakan ruang dan waktu untuk mempersiapkan kehadiran bayi, pola pikir yang lebih jelas akan membuat mereka lebih fokus dan bersemangat untuk memberikan yang terbaik dalam pekerjaan yang dilakukan.

5. Perkembangan Bayi Positif
Seorang ayah yang lebih memperhatikan anak secara tidak langsung mengajarkan anak tentang makna kasih sayang serta bergantung dan saling percaya.
Penelitian telah menunjukkan bahwa orang tua yang menghabiskan lebih banyak waktu di rumah memiliki dampak positif pada bayi. Ini tidak hanya mendorong rasa kurungan dan lebih efisien dalam aktivitas sehari-hari, tapi juga dalam tidur anak-anak kecil juga akan lebih teratur.

6. Kesejahteraan Ibu dan Anak Lebih Hati-hati
Setelah kekacauan mengelola rumah dan anak-anak, terkadang ibu juga mengabaikan hal yang penting. Karena itu, kehadiran sang ayah sangat penting dalam menunjang kesejahteraan seluruh keluarga. Jika keduanya sibuk, komunikasi mungkin kurang lancar sehingga anak yang lebih besar merasa terbengkalai. Menekankan hal-hal penting seperti perawatan kesehatan bayi, pantang nutrisi ibu, waktu janji dengan dokter, vaksinasi dan sebagainya, semuanya terlihat lebih mudah ditangani. Maka kehadiran orang baru (bayi kita) terasa lebih indah dan bermakna.

7. Pelatihan untuk Pria
Cuti ayah yang lebih lama dapat memberi ruang bagi kedua orang tua baru untuk menyesuaikan diri dengan peran baru dalam kehidupan. Rutinitas sehari-hari dalam merawat bayi seperti mandi dan menyiapkan bayi dan tidur mungkin terasa mudah tapi justru sebaliknya.
Hal ini membutuhkan pelatihan dan kesabaran. Lebih rajin ayah yang berpartisipasi dalam perawatan bayi akan lebih percaya diri untuk merawat mereka dan akan menjadi lebih efisien.

Sebenarnya Cuti Bersalin Juga Relevan Untuk Pria
Sebagai seorang wanita, kita selalu berasumsi bahwa kita bisa melakukan semuanya sendiri. Malu minta tolong dan tidak mau mengganggu suami. Akhirnya, suami merasa tidak terbiasa untuk mengelola anak-anak mereka dan hanya mengharapkan istrilah untuk mengelola segala sesuatu di rumah termasuk anak-anak. Seiring waktu, situasi ini menjadi sesuatu yang 'biasa' di kalangan masyarakat kita.

Tidak usah merasa ragu untuk memperkenalkan suami dan membuatnya mengerti dengan baik serta lebih  bekerja keras untuk terlibat dalam perawatan istri dan bayi. Dengan terlibatnya seorang pria untuk ikut merawat bayi, setidaknya akan membuat ia mengerti bahwa merawat bayi tidaklah semudah yang sangka. Kita baru akan mengerti ketika sudah merasakannya sendiri. Dan itu juga akan membuat kita saling menghargai, secara tidak langsung itu akan dapat mempererat suatu hubungan keluarga.

Bukankah ada banyak manfaat positif yang akan di dapatkan jika seorang pria (ayah) juga mendapatkan cuti bersalin?  Tapi berapa banyak daya yang bisa mereka keluarkan untuk menghabiskan banyak waktu dan perhatian seperti permintaan di tempat kerja. Jadi, sangat relevan jika masa cuti melahirkan juga dialokasikan untuk pria kan?

Terima kasih telah membaca tulisan ini, semoga dapat menambah wawasan Anda. Jika bermanfaat, jangan lupa share di akun media sosial Anda, seperti Facebook dan Twitter.

Sajian Informasi Terkait