Cara Mengatasi Kebiasaan Anak yang Suka Ngamuk

Jika anak sudah mulai marah, kadang membuat kita para orang tua sampai merasa sakit kepala dibuatnya. Memang bukan suatu perkara yang mudah untuk tetap tenang kala si kecil menjerit dan marah. Anak tidak akan pernah mengenal tempat atau waktu untuk mengekspresikan perasaannya, dimanapun itu, tiba-tiba saja anak akan mengaum atau menangis walau di tempat umum sekali pun, jadi malu kan di buatnya?

Namun bagaimana lagi, biar gimana pun juga ia tetaplah seorang anak kecil yang belum mengerti akan apa yang ia lakukan. Untuk itu sudah menjadi kewajiban kita para orang tua untuk mencari solusi untuk menangani amarah si kecil.

anak marah
Pada dasarnya, tantrum atau yang lebih di kenal dengan “ngamuk” merupakan suatu hal yang wajar karena hampir dialami oleh semua anak usia dini. Perilaku ini belum muncul di usia awal karena umumnya bayi hanya menunjukkan respons atas kebutuhannya seperti kalau lapar, haus, dan popoknya basah, dengan cara menangis. Namun seiring perkembangannya, di usia sekitar 9 bulan bayi mengembangkan konsep “saya mau”.

Nah, bila sesuatu yang diinginkannya tidak berjalan sesuai yang dia mau, maka ia akan merasa frustasi. Sebenarnya, dengan munculnya tantrum atau amarah yang tak terkendali merupakan pertanda baik. Jadi tanganilah amukannya secara bijak.

Namun sebelum Anda mencari cara untuk menanganinya ada baiknya jika Anda mengetahui terlebih dahulu kenapa ia melakukan hal itu. Secara umum, ada empat hal yang menjadi penyebab kemarahan anak-anak yang biasa kita lihat di tempat umum atau saat di ajak berkunjung ke rumah teman atau saudara kita. Misalnya:

1. Di saat ia tidak mendapatkan apa yang di inginkan. Ini adalah ‘amukan’ yang paling sering di alami anak-anak.

2. Karena anak merasa kelebihan beban dengan berbagai rangsangan di lingkungan seperti terlalu banyak orang, terlalu berisik, terlalu berwarna atau suhu tempat yang tidak tepat. Ini dikenal sebagai ‘sensory meltdown’ yang terjadi saat sensorik atau anak indrawi kelebihan beban dengan stimulasi yang berlebihan (si kecil tidak merasa nyaman).

3. Di saat si kecil sedang mengantuk. Kepingin tidur tapi situasinya tidak mendukung (terlalu ramai atau bising) maka akan membuat si kecil uring-uringan dan mudah marah. Salah sedikit aja, pasti akan membuat dia “ngamuk”

4. Di saat anak merasa lapar. Jangankan anak kecil, kita aja orang dewasa jika sedang lapar pasti emosinya tidak akan terkontrol, benar kan? Banyak orang tua yang percaya bahwa anak akan lebih anteng di saat perutnya sudah terisi (kenyang).

Nah, itulah empat hal yang biasanya menjadi penyebab atau menjadi pemicu anak-anak marah atau mengamuk. Setelah Anda mengetahui beberapa penyebabnya, sekarang tinggal Anda mengenali atau mencari tau apa yang menyebabkan anak anda mengamuk. Setelah mengetahuinya, tinggal anda mencari solusi untuk menanganinya.

Inilah Beberapa Hal Yang Harus Dilakukan Disaat Anak Mulai Melakukan Aksinya (Mengamuk)

1. Memang sulit untuk tetap tenang kala si kecil sedang berulah dan mengamuk. Namun, ada baiknya jika Mama dan Papa tetap tenang. Suara yang tidak ikut meninggi dan tetap netral akan jadi jurus paling ampuh untuk membuatnya lebih tenang. Saat ia mulai marah, Mama hanya perlu berada di dekatnya untuk menenangkan dan katakan bahwa Mama juga memahami apa yang ia rasakan.

Jangan langsung mengurungnya atau meninggalkannya sendiri. Sebab, bisa jadi ia sangat membutuhkan kita di sampingnya. Coba saja untuk mengalihkan perhatiannya, dengan menunjukannya sesuatu, memperdengarkan lagu atau memberinya buku cerita agar ia terhibur.

Tapi ingat bahwa Anda perlu memahami apa yang jadi penyebab ia marah. Setelah selesai dengan rasa marahnya, Anda perlu memancing anak untuk mengungkapkan apa yang ia rasakan agar ia bisa meluapkan sesuatu yang ia pendam.

Setelah itu, Anda sebagai orang tua dapat menjelaskan apa yang ia rasakan. Misalnya saat ia berebut mainan, Mama perlu menjelaskan bahwa rasa marah memang pasti terjadi. Namun, jelaskan padanya bahwa ada solusi dari konflik yang bisa ia lakukan. Latih si kecil untuk tidak mudah terpancing dengan perasaan yang ia rasakan. Anda juga perlu menjelaskan jenis emosi lain misalnya perasaan kecewa, bahagia hingga perasaan sayang.

Saat ingin mengendalikan emosi anak, Anda juga perlu melatihnya untuk mengungkapkan rasa emosinya. Misalnya saat merasa marah dan kecewa, ajarkan padanya untuk mengungkapkan hal tersebut pada Anda dan jangan langsung melakukan hal negatif seperti memukul orang lain. Bercerita dan menyelesaikan konflik bersama kita orang tuanya dapat jadi cara untuk melampiaskan emosi. Biarkan ia memukul bantal misalnya untuk meluapkan emosi dengan cara yang lebih tepat.

2. Sering kali anak akan marah-marah hanya karena ia merasa tidak puas oleh suatu hal yang sepele. Misalnya, baju yang disodorkan ibu tidak sesuai dengan keinginannya. Ia meminta baju yang bergambar tokoh kartun yang ia suka, tapi karena masih di cuci, ia harus memakai baju yang lain. Al’hasil si anak menolak sambil marah dan menangis kencang. Kalau keinginannya belum terpenuhi juga, dia akan semakin marah dan menangis lebih kencang lagi. Bahkan ,terkadang sampai berguling-guling di lantai.

Bila amukannya disertai dengan gerakan-gerakan, sebaiknya orang tua tetap berada di dekatnya. Biarkan ia begitu dan jangan memberinya respons. Saat tidak mendapat hal yang diinginkan, ia mungkin menginginkan perhatian dari kita. Namun, bila kita meladeni kelakuannya dalam bentuk interaksi apapun, hal ini malah akan meningkatkan tantrum-nya. Sebaliknya semakin sedikit kita bereaksi, semakin cepat pula tantrum itu teratasi.

Bila Anda ragu untuk memberi respons atau tidak, ingatlah bahwa anak perlu belajar bagaimana mengalami perasaan frustrasi dan kekecewaan. Jadi, cara terbaik untuk membantunya adalah dengan tidak ikut campur. Beri ia kesempatan untuk mengatasi perasaan tidak nyamannya sendiri, dan bagaimana mengembalikan kontrol diri setelah lepas kendali. Sekali dia belajar, dia akan siap untuk pelajaran berikutnya.

Pada akhirnya, dengan tidak bereaksi, anak akan melihat bahwa tantrum-nya itu tak berpengaruh apa-apa pada orang tua. Atau paling tidak, ia melihat efeknya terhadap kita sangatlah kecil. Dengan demikian sedikit kemungkinan anak akan mengulang amukannya di lain waktu.

Segera sesudah itu anak akan dapat memulai proses pemulihan dan belajar untuk menenangkan diri sendiri. Begitu tantrum-nya sudah lewat ia akan kembali bersahabat. Ini mengisyaratkan bahwa semakin cepat anak mengendalikan kontrol dirinya, semakin cepat pula dia mau berbaikan kembali dengan kita.

3. Anak bisa merasa frustrasi saat menghadapi atau adanya hambatan-hambatan fisik. Misalnya, beberapa anak merasa terintangi saat harus duduk di kursi tinggi (kursi makan batita), di carseat, atau di tempat bermainnya yang berpagar. Benda-benda tersebut membatasi geraknya sementara kemampuan motoriknya sedang berkembang dan bertambah.

Selain itu, anak juga masih terbatas kemampuan bicaranya, sehingga belum dapat mengekspresikan keinginannya lewat kata-kata. Akibatnya ia akan mengepalkan tangannya dengan muka memerah karena marah, anak akan menangis keras, melengkungkan punggungnya, dan menggeliat-geliat dengan marah. seolah ia mengatakan kepada kita bahwa situasinya saat itu sedang tidak nyaman.

Sebagai orang tua, cobalah untuk memahami segala keterbatasannya, dan antisipasilah hambatan-hambatan itu agar amukannya tidak kembali muncul. Jika anak telanjur mengamuk, cara mengintervensinya yaitu dengan mengambil si anak untuk disayang-sayang, dielus, dan dipeluk sampai dia tenang. Tak perlu memberi pelajaran pada anak seusia ini. Alihkan saja perhatiannya pada mainan dan nyanyian, biasanya ini akan dapat membantu.

Kasih sayang orang tua tidak hanya dapat mengerem tantrum, tapi juga membantu anak mengembangkan rasa aman, sehingga ia mampu membangun dasar dari perasaan yang baik. Dengan modal dasar ini, bila sudah besar nanti, ia bisa menenangkan dirinya kala sedang marah. Ia pun akan belajar bahwa dirinya bisa mengontrol dan dapat tetap tenang tanpa harus marah meledak-ledak.

Namun perlu para orang tua ingat, bagaimanapun juga tidaklah mudah untuk menenangkan anak yang tengah frustrasi dan membuatnya nyaman. Bila memang tidak berhasil, hadapi terus dengan sikap yang santai. Pastikan bahwa segala sesuatunya sudah berjalan dengan benar, dan tidak ada kesalahan yang jadi penyebab tantrum-nya. Kalau sudah begitu, jangan coba-coba untuk menghentikan tangisannya. Adakalanya, Anda cuma bisa menunggu sampai tantrum-nya reda.

4. Tantrum atau amukan yang di perlihatkan oleh seorang anak tak lebih merupakan ekspresi sederhana dari rasa frustrasi. Anak sebetulnya ingin merasa berkuasa dan menjadi sangat marah ketika keinginannya tidak terpenuhi segera. Sementara, sangatlah penting bagi orang tua untuk mendukung kemandiriannya yang sedang berkembang. Oleh karena itu, orang tua tetap harus bersikap kritis untuk mengatakan “tidak” terhadap permintaan-permintaannya yang tidak masuk akal.

Misalnya, disaat kita sedang melakukan pekerjaan rumah. Kadang anak akan merengek-rengek minta digendong. Katakan kepadanya baik-baik bahwa dia akan segera digendong bila kita sudah menyelesaikan pekerjaan tersebut. Jadi, Anda bisa melanjutkan pekerjaan Anda. Tapi, bersiaplah untuk mendengarkan anak berteriak, minta di “Gendong!” sambil meraung-raung dan menarik-narik baju kita. Itu karena anak belum bisa mengatur perasaannya, kemarahan itu cenderung meningkat. Akibatnya, tantrum-nya tidak dapat diprediksi, bisa cepat menghilang dan bisa juga akan lebih menguat.

Kenapa bisa begitu? Tentunya itu di sebabkan karena di usia ini anak belum mengerti konsep menunggu. Bila sedikit saja penanganannya tertunda, hal itu bisa membuatnya lepas kendali. Begitu pun dengan rasa capek, lapar, dan perubahan yang tidak diharapkan.

Ironisnya, tingkah laku yang terburuk justru ditunjukkan kepada kita yang telah mencurahkan kasih sayang secara tulus. Rupanya, kedekatan selama ini membuatnya merasa aman untuk mengekspresikan kemarahan, rasa frustrasi dan kekecewaannya di hadapan kita.

Kiat Mengatasi Anak Yang Suka “Mengamuk”

Di Saat Bermasalah Pada kesehatan Atau Makannya

Jangan langsung kesal ketika anak marah-marah atau merengek, mungkin saja kondisi kesehatan anak kecil tersebut dalam keadaan yang kurang baik. Sehingga disini akan diperlukan kepekaan orang tua untuk mengetahui kondisi kesehatan anak.

Apabila sang anak dalam kondisi tubuh yang kurang baik seperti lapar, atau sedang kurang vitamin maka sangat wajar jika sang anak akan mudah marah atau merengek. Untuk mengatasinya, ada baiknya jika Anda mengajaknya makan bersama atau menanyakan apa maunya dengan lembut.

Tenangkan suasana dengan posisi tubuh

Hal yang paling baik untuk dilakukan ketika anak sedang marah, adalah dengan berusaha membuat posisi anak yang sedang berdiri menjadi posisi dalam keadaan duduk, atau bahkan dalam kondisi berbaring. Manfaatnya, yaitu agar urat-urat dan otot yang tegang bisa menjadi lebih kendur, dengan begitu akan memberikan pengaruh yang positif untuk jiwa anak agar menjadi lebih tenang. Tunjukkan bahwa kita sangat menyayanginya.

Anak marah karena suatu sebab

Untuk hal ini Anda harus bisa mengamati dengan bijak. Kita sebagai orang tua perlu untuk mencari tahu tentang keadaan sosial dari sang anak, sehingga kita bisa mengetahui apa yang menjadi penyebabnya, setelah itu orang tua bisa mencari solusinya untuk menanganinya.

Rajin mendengarkan keluhan dari Anak

Selalu sempatkan waktu untuk mendengar keluh kesahnya. Sifat seorang anak kecil adalah selalu ingin diperhatikan, dengan begitu kemungkinan besar anak akan mengemukakan keluhan dan alasan-alasan kenapa dirinya marah.

Cari saat yang tepat untuk memberi nasehat

Cari kondisi yang terbaik untuk memberikan nasehat kepada anak. Orang tua harus berusaha untuk mencari saat yang tepat untuk memberikan nasehat kepada sang anak. Dengan begitu sang anak juga bisa menjadi lebih percaya diri. Kurangnya percaya diri yang dialami sang anak juga bisa menjadi faktor yang besar membuat anak suka marah-marah, dan lebih parahnya jika hal ini berlanjut ketika dia sudah tumbuh lebih besar.

Peka mengenali perasaan anak

Seorang anak yang dalam masa pertumbuhan memiliki keingintahuan dan kemauan yang kuat untuk melakukan sesuatu, akan tetapi seringkali kemampuannya tidak sekuat dengan keinginannya, ini dapat membuatnya frustasi dan kesal, yang setelah itu diungkapkan dengan marah-marah. Sehingga penting bagi orang tua untuk belajar memahami perasaan dan kebiasaan sang anak. Kenali kesukaan dari anak, hobinya, pahami apa yang ingin dan tidak ingin dia lakukan, ketahui jadwal jam tidurnya, dsb.

Jalin komunikasi yang baik dengan anak

Sangatlah penting untuk membangun hubungan komunikasi yang hangat antara orang tua dan anak. Jangan sampai jarak antara orang tua dan anak terlalu jauh. Tidak jarang komunikasi terjalin kurang baik antara orang tua dan anak, dapat menjadi pemicu anak menjadi mudah marah. Karena ada sesuatu yang terpendam di hatinya yang susah ia utarakan. Jadi dengan menjalin komunikasi yang baik, mungkin akan bisa menjadi salah satu solusi untuk Anda.

Sering-seringlah memeluk anak

Pelukan dan belaian kasih sayang sangatlah di butuhkan oleh anak, karena anak sangat mengharapkannya. Peluklah dan ciumlah anak dengan tulus, hal ini terbukti ampuh untuk menenangkan perasaan anak, serta akan membuatnya menjadi lebih dekat dengan kita.

Berikan larangan dan penjelasan yang logis

Sebagai orang tua wajib bersikap bijak terhadap anak, kita harus mampu memberikan alasan yang logis kepada anak tentang sebuah larangan yang dilakukan, hendaknya orang tua tidak meremehkan anak ketika meminta suatu penjelasan.

Misalnya, ketika anak akan melakukan sesuatu yang dapat membahayakan dirinya, maka orang tua tinggal melarangnya, lalu menjelaskan resiko-resiko yang terjadi jika dia memaksa untuk melakukan hal berbahaya tersebut. Kata-kata jangan, tidak, tidak boleh, dsb sebenarnya boleh-boleh saja, tetapi jika terlalu sering di ucapkan maka bisa berdampak anak merasa tidak dipercayai dan dibatasi ruang geraknya.

Orang tua harus memberikan teladan

Jika para orang tua ingin melihat anaknya mampu mengendalikan emosinya, maka orang tua juga perlu melatih diri menjadi sosok yang tenang dan mampu mengendalikan emosi juga. Apabila orang tua dalam kesehariannya juga sering marah-marah, emosinya sering meluap-luap. Sudah pasti anak akan ikut ‘sifat’ orang tuanya tersebut. Jadi, perlu Anda sadari jika kita sebagai orang tua patut menjadi teladan yang baik untuk anak-anak.

Lakukan pendekatan pada anak

Ketika anak sedang marah dan rewel, kita tidak boleh menanggapinya dengan keras atau emosional. Karena itu tidak akan dapat menyelesaikan masalah, justru akan membuat anak menjadi tambah rewel, bahkan teriakannya akan menjadi lebih kencang lagi. Disaat seperti itu ayah dan bunda hanya perlu melakukan pendekatan pada anak secara halus. Berikan ia perkataan yang bijak, buatlah anak mengerti dengan memberikan penjelasan yang baik dan lembut. Itu akan menjadi lebih efektif dari pada bersikap keras.

Salurkan hobi anak

Seperti biasanya anak-anak memang ingin selalu bergerak dan mencari keasyikannya sendiri. Untuk itulah, orang tua perlu memahami hal ini, guna mengarahkan anak kepada hal-hal positif yang dia sukai. Masing-masing anak sudah pasti memiliki bakat tertentu. Orang tua perlu melihat hal ini secara cerdas.

Misalnya, ketika buah hati suka mencoret-coret di atas kertas, maka cobalah memasukkan sang anak ke tempat sanggar melukis. Hal ini akan bermanfaat agar emosi mereka bisa diarahkan kepada hal-hal yang positif, sehingga meminimalisir hal-hal negatif yang timbul dalam diri anak, karena rasa marah, bosan, sedih, dan kondisi buruk lainnya.

Jangan mempermalukan anak di depan umum

Mempermalukan anak di depan orang banyak adalah kesalahan yang fatal. Selain membuat anak akan membenci atas tindakan orang tuanya, sang anak juga akan menjadi tidak percaya diri. Secara tidak langsung hal itu dapat membuat anak beranggapan bahwa mempermalukan orang lain di tempat umum adalah sesuatu yang boleh atau bisa dilakukan.

Untuk itu ada baiknya jika saat menasihati anak, maka nasihatilah di tempat yang rahasia dan dengan suara yang lemah lembut. Menasihati anak di depan umum, apalagi dengan marah-marah kepada anak sama saja dengan mempermalukannya.

Ada beberapa Cara Agar Kita Tetap Tenang Dikala Menghadapi “Amukan” Anak

Ingat bahwa tantrum adalah suatu sinyal yang baik, jadi tangani dengan bijak. Tantrum merupakan suatu reaksi normal terhadap frustrasi, bukan suatu tanda ketidakpatuhan. Tantrum juga mengisyaratkan bahwa kita sebenarnya sudah berlaku benar dengan membuat batasan-batasan, sehingga anak merasa cukup aman mengekspresikan dirinya secara jujur pada kita.

Pindah ke tempat lain

Ciptakan jarak dengan anak yang sedang mengamuk. Untuk anak yang masih kecil bisa dengan membawanya ke ruang lain yang aman, kemudian tinggalkan. Untuk anak yang lebih besar bisa dengan memintanya pergi keluar dari ruangan, tapi bila ia menolak maka orang tua yang sebaiknya pergi.

Tidak menggunakan fisik

Bila hampir kelepasan memberi pukulan, maka ingatlah bahwa cara terbaik menyelesaikan konflik adalah dengan bicara dan kompromi setelah anak dan orang tua sudah sama-sama tenang.

Berhitung

Menghadapi amukan anak yang tidak terkendali, sangat mungkin membuat kita menjadi kesal. Agar tidak berlanjut menjadi amarah, maka ambil napas dalam-dalam kemudian hitunglah satu sampai sepuluh. Berhitung akan membantu kita menenangkan diri.

Lakukan kegiatan

Meski mungkin kita bingung menghadapi kemarahan anak, tetaplah bersikap seolah tak peduli dan lakukan aktivitas sehari-hari. Fokuskan pada tugas-tugas yang konkret, semisal mencuci piring, menyiram tanaman, atau membereskan kamar. Hal ini dapat membantu kita untuk mengalihkan pikiran dari anak yang tantrum atau mudah ngamuk.

“Setiap anak Itu Berbeda”

1. Mengatasi tantrum terhadap anak tentu saja berbeda-beda, itu tergantung karakter masing-masing anak. Namun, tentu saja bukan dengan reward. Sebelumnya, kita mesti mengenal terlebih dahulu bagaimana karakter anak kita.

2. Ada anak yang justru malah berteriak ketika sedang marah didekati atau dibujuk. Untuk anak seperti ini, sebaiknya berikan waktu dan jarak dahulu untuk tenang sendiri. “Untuk anak yang mudah marah, pendekatannya harus secara pelan-pelan. Butuh kesabaran ekstra untuk itu.

3. Ada anak yang bisa tenang dari amarahnya yang tinggi ketika ia mendapatkan pelukan dari sang bunda. Dengan pelukan ini, ia bisa tenang dan bisa mengolah napas serta mengolah detak jantung untuk kembali normal.

4.Ada anak yang mudah tenang dengan cara orang tua mengakui perasaannya saat itu. Contohnya, katakan kepada anak, “Ibu tahu kamu capek, kamu marah’.” Setelah itu, tenangkan anak.

5. Ada juga anak yang jika tantrumnya didiamkan, justru malah bertambah kacau. Ini dibutuhkan penanganan yang lebih spesial supaya ia bisa mengelola napasnya lebih teratur. Entah itu berupa pelukan, sentuhan, atau gendongan.

Bagaimanakah Karakter anak Anda, Pahamilah Akan Hal Itu.

Tidak perlu memberi tahu ayah atau ibu anak tersebut jika Anda tidak tahu mengapa anak tersebut mengamuk. Jangan membuat asumsi. Jika anak kita sering marah karena menginginkan sesuatu, anak orang lain mungkin akan mengamuk karena rangsangan yang berlebihan.

Memberikan nasehat seperti “Jangan banyak memberi tahu kepada anak!” Mungkin tidak langsung berhubungan dengan penyebab anak. Saran seperti “Anak ini mengantuk. Tidurlah dia. “Sangat tidak masuk akal jika anak cukup mengantuk tapi kemarahannya disebabkan oleh kelaparan.  Asumsi Anda mungkin salah.

BAGAIMANA ANDA BISA MEMBANTU?

1) BERIKAN SARAN HANYA JIKA DIBUTUHKAN

Jangan menambah tekanan yang ada dengan saran kritik, satire atau lebih suci dari pada Anda.
Anak bukan karena kegagalan ‘mengasuh anak’, hal itu terjadi karena anak tersebut tidak atau tidak telah menyatakan frustrasinya dengan cara yang benar.

2) TIDAK PERLU MENATAP KELAHIRAN ANAK SAMPAI MENIMBULKAN PERASAAN TIDAK ENAK

Cukup untuk melihat yang terakhir kalinya. Jika mata menyerang secara tidak sengaja, senyum kepada ayah atau ibu yang sedang berjuang dengan senyuman tidak mengerti dengan senyum sinis atau senyuman lega. “Alhamdulillah bukan anakku!”

Tidak perlu melihat pandangan “Oh cute boy’s mengamuk” karena Tuhan sendiri hanya tahu sedikit atau tidak ada situasi seperti ayah dan ibu dari anak itu.

3) BERIKAN BANTUAN

Jika ayah atau ibu membutuhkan pertolongan fisik misalnya karena air tumpah, atau terlalu banyak barang untuk dibawa atau perlu bantuan mendorong kereta dorong atau butuh bantuan membuka pintu dan sebagainya, berikan kembali. Atau mungkin saat rumah teman atau saudara ayah atau saudara ibu Anda membutuhkan seseorang untuk melihat anak yang tidak mengamuk saat mengelola anak yang mengamuk, Anda mungkin bisa membantu. Jadi, setelah ini, orang tua harus saling membantu.

Penulis: Ari Wulandari
(Ibu rumah tangga yang hobi menulis)

Leave a Reply