Tiga Tingkatan Bahasa Bali

Bahasa Bali merupakan salah satu jenis bahasa yang termasuk kelompok Bahasa Austronesia dari cabang Sundik. Bahasa Bali merupakan bahasa ibu yang dipakai oleh masyarakat Bali dan sebagian kecil penduduk di pulau Lombok Barat. Dalam sejarahnya, Bahasa Bali mendapat pengaruh dari berbagai bahasa dunia, misalnya bahasa Jawa Kuno, bahasa China, bahasa India, bahasa Arab, bahasa Inggris, bahasa Belanda, dan bahasa Melayu. Berbagai bahasa yang masuk dalam kebudayaan Bali tersebut memperbanyak perbendaharaan kata dalam bahasa Bali. Keharmonisan kehidupan di pulau Bali, mampu menciptakan perkembangan seni dan kebudayaan yang bagus, termasuk juga bahasa.

Bahasa Bali dalam penerapannya oleh masyarakat Bali dapat dikelompokkan dalam beberapa tingkatan bahasa. Namun, secara garis besar dapat dikategorikan menjadi tiga tingkatan yaitu Bahasa Bali Alus, Bahasa Bali Madya (biasa) dan Bahasa Bali Kasar. Perbedaan tingkatan bahasa tersebut tidak terlepas dari sistem feodalisme (kerajaan) dalam sistem pemerintahan di Bali. Adapun ketiga tingkatan bahasa Bali tersebut adalah:

orang bali
1. Bahasa Bali Alus
Bahasa Bali Alus adalah tingkatan bahasa yang nilai rasanya paling tinggi (halus). Bahasa Bali Alus biasanya digunakan dalam pertemuan masyarakat di desa, ceramah agama, berbincang dengan orang yang belum dikenal, berbicara kepada sulinggih (pemuka agama), ngobrol dengan kaum bangsawan, dan mengucapkan doa kepada Tuhan. Zaman sekarang, sebagian besar masyarakat Bali merasa sulit bertutur kata menggunakan bahasa Bali Alus, apalagi kaum muda-mudi karena bahasa ini jarang digunakan dalam kehidupan sehari – hari.


2. Bahasa Bali Madya
Tingkatan bahasa ini merupakan bahasa yang umumnya digunakan dalam kehidupan sehari – hari, di dalam keluarga dan komunikasi dengan sesama teman. Nilai rasa dan kesopanan dalam penggunaan bahasa ini adalah sedang (ditengah-tengah). Ini merupakan asli bahasa ibunya orang Bali, keculai golongan bangsawan yang biasanya menggunakan Bahasa Bali Alus. Tingkatan Bahasa Bali Madya biasa dipraktikan dalam percakapan di pasar, terminal, pergaulan dengan teman, di rumah, dan di warung – warung.


3. Bahasa Bali Kasar
Bahasa Bali Kasar mempunyai nilai rasa yang paling rendah. Penggunaan kata – kata dalam Bahasa Bali Kasar biasanya digunakan untuk binatang. Jika kata “makan” dalam bahasa Indonesia bisa digunakan untuk manusia dan binatang:
Vina makan jagung.
Ayam makan jagung.


Maka, kata makan dalam bahasa Bali harus dibedakan penggunaannya:
Vina  “ngajeng” jagung
Ayam “ngamah” jagung


“Ngajeng” dan “ngamah” sama-sama bermakna makan.

Selain ditujukan untuk hewan, Bahasa Bali Kasar sering digunakan tatkala dalam keadaan marah, umpatan atau bertengkar dengan tujuan merendahkan seseorang atau menyakiti perasaan dengan kata-kata kasar. Demikianlah tingkatan bahasa dalam khazanah Bahasa Bali. Berikut disajikan beberapa kata yang tergolong dalam ketiga tingkatan bahasa Bali tersebut.


Bahasa Indonesia

Bahasa Bali Alus

Bahasa Bali Madya

Bahasa Bali Kasar

Aku

Titiang

Tiang

Icang

Cinta

Tresna

Demen

Dot

Kamu

Ragane

Kamu / Uke / Awak

Cai / Nyai

Tidur

Sirep

Pules

Medem

Mati

Seda

Mati

Bangka

Anjing

Asu

Kuluk

Cicing

Anak

Putra

Panak

Mud

Pergi

Lunga

Megedi

Mekaad

Melihat

Nyingak

Ningalin

Ngenot

Cantik

Ayu

Jegeg

-

Terima kasih telah membaca tulisan ini, semoga dapat menambah wawasan Anda. Jika bermanfaat, jangan lupa share di akun media sosial Anda, seperti Facebook dan Twitter.

Sajian Informasi Terkait