Hal Menarik dalam Kalender Bali

Kalender merupakan bagian penting dalam kehidupan manusia. Kalender berguna untuk mencatat kejadian masa lampau, sebagai pengingat untuk kegiatan di masa sekarang, dan tentunya untuk merencanakan hal-hal yang terkait dengan masa depan. Sebagai suatu bentuk ilmu dari peradaban manusia, maka masing-masing suku bangsa memiliki sistem kalender tersendiri sesuai dengan buah pemikiran mereka. Di Bali, masyarakat juga mengenal dan menggunakan sistem kalender tertentu. Kalender Bali tersebut digunakan untuk kegiatan masyarakat Bali dalam berbagai bidang kehidupan, seperti keagamaan, pertanian, usaha perdagangan, dan termasuk juga penyelenggaraan event-event pariwisata. Kali ini, saya ingin berbagi informasi menarik terkait dengan kalender Bali.

Kalender Caka Bali adalah Kalender yang diciptakan di Bali secara khusus dengan menggabungkan dari semua sistem perhitungan Tahun, yaitu Tahun Surya, Tahun Candra, dan Tahun Wuku, dengan mengacu pada kegunaan Kalender tersebut bagi pemakainya. Dalam hal merencanakan hari baik atau dewasa ayu untuk suatu pelaksanaan kegiatan masyarakat, terutama kegiatan yang menyangkut Upacara keagamaan, seperti odalan / Pujawali di suatu Pura, akan selalu berpedoman dengan Kalender ini.

kalender bali
Berbeda dengan kalender-kalender lain, Kalender Caka-Bali belum bisa dipastikan siapa penciptanya. Namun melihat dari perkembangannya dan peredarannya, maka akan diketemukan beberapa tokoh penting, diantaranya Bapak I Gusti Bagus Sugriwa (alm) dan Bapak I Ketut Bambang Gde Rawi (alm). Mereka adalah sebagai perintis Kalender yang diwarisi sekarang ini. Telah ditetapkan pola dasar, Sistimatika Kalender Caka Bali yang berlaku sejak dahulu, menyangkut unsur Matematisnya, sistimatisnya, dan secara Geografis penetapan bulan sasihnya dan tutup tahunnya cukup akurat, serta mengandung unsur-unsur relegius.

Bagi mereka yang menguasai ilmunya Kalender Caka Bali, akan dapat memahami bagaimana sebenarnya Kalender Caka Bali itu dan dapat pula menemukan keistimewaan - keistimewaan yang terpendam pada Kalender itu. Walaupun memang sulit dalam perhitungan, namun begitu istimewa dalam pemakaiannya, serta menunjukkan ciri khusus, tiada duanya di dunia ini.

PENGALANTAKA INTI KALENDER CAKA BALI

Pengalantaka adalah inti dari Kalender Caka Bali, karena pada Pengalantaka ditetapkan kapan terjadinya Purnama dan Tilem  secara terperinci dan pasti kapan tepatnya hari Purnama ataupun Tilem, menurut Wewaran dan Wuku. Dari perkembangan Kalender Caka Bali, tercatat beberapa perubahan penetapan pemakaian Pengalantaka. Pengalantaka Eka Sungsang ke Kliwon dipakai hingga tahun 1970, dan mulai tanggal 27 Januari 1971 dipergunakan Pengalantaka Eka Sungsang ke Pon. Kemudian berdasarkan keputusan Paruman Sulinggih tanggal 25 Juli 1998 di Besakih, telah ditetapkan pemakaian Pengalantaka Eka Sungsang Ke Paing.


Penetapan hari-hari Purnama-Tilem dalam Pengalantaka ditentukan oleh pola Pengunalatrian-nya, yang dalam Wariga dikenal dengan istilah sloka-Pengunalatrian. Apabila diperhatikan dari rumusan sloka-Ngunalatri kelihatan cukup sederhana,  namun sebenarnya amat rumit dan menjelimet. Ilmu Pengalantaka itu, walaupun terlihat seperti ilmu sastra, namun sebenarnya adalah ilmu matematis,  karena dapat dikaji secara matematis. Kajian matematis dimaksud meliputi perhitungan Pengunalatrian, dan masa berlakunya suatu Pengalantaka.

Sistem Kalender Bali Bersifat Kompromis 
Kalender Bali menganut sistem luni-solar yaitu perhitungan yang ditentukan oleh posisi matahari dan bulan. Kalender Bali disebut dengan Kalender Saka yang merupakan warisan dari peradaban kerajaan Saka di India, namun telah dimodifikasi sesuai dengan kebudayaan setempat. Yang menarik dalam penerapan Kalender Saka Bali adalah sifatnya yang konvensi/kompromis artinya dalam perjalanan atau penghitungan tarikhnya masih bisa dibicarakan atau didiskusikan untuk mendapatkan hasil yang tepat berdasarkan rumus-rumus tertentu.

Dalam kalender Saka Bali, jumlah bulannya adalah dua belas, dengan jumlah harinya 30 atau 29. Kalender Bali yang kita kenal sekarang merupakan hasil rekonstruksi pada era kolonial Belanda. Pemerintah Belanda saat itu ingin menyeragamkan penghitungan kalender Bali dari delapan kerajaan yang ada di Bali dengan tujuan untuk menyamakan penyelenggaraan event-event pariwisata Bali (misalnya Hari Raya Nyepi yang tidak sama). Para tetua dan tokoh Bali juga mendukung upaya ini dengan harapan timbulnya pandangan sama tentang perayaan hari-hari besar Bali sehingga menumbuhkan rasa persatuan masyarakat Bali.

Selain penggunaan kalender Saka yang berguna dalam penentuan hari raya Nyepi, Siwalatri, dan Hari piodalan berbagai pura di Bali, masyarakat Bali juga menggunakan sistem kalender Pawukon yang merupakan adaptasi dari kebudayaan kalender Jawa. Kalender pawukon ini bersifat aritmatis yang jumlah harinya tetap 35 (disebut satu bulan Bali = 5 sapta wara). Kalender Pawukon berguna untuk menentukan berbagai hari baik/buruk (pertemuan tri wara, panca wara, sapta wara ,dsb) dan juga menentukan penetapan hari raya Galungan, Kuningan, Saraswati, Tumpek dan juga piodalan – piodalan pura (hari ulang tahun pura).

Keunikan Nama-nama Hari 
Nama hari dalam Kalender Saka Bali adalah Redite, Coma, Anggara, Budha, Wrespati, Sukra, dan Saniscara.  Dengan memahami arti yang terkandung dalam bahasa Sansekerta tersebut, mungkin kita dapat sedikit menyimpulkan bahwa beragam peradaban manusia di bumi ini (mungkin) berasal dari satu sumber yang sama. Ok..., mari kita simak hal yang menarik ini:
  • Minggu berasal dari bahasa Portugis yaitu Dominggu yang artinya hari untuk Tuhan, sedangkan bahasa Arabnya adalah Ahad yang berarti satu (Yang Esa).  Dalam bahasa Inggris, hari minggu adalah Sunday yang berasal dari kata Sun’s Day  yang artinya Harinya Matahari. Ternyata Sunday mempunyai kemiripan makna dengan Redite (Raditya) dalam bahasa Sansekerta yang artinya Dewa Matahari.

  • Senin berasal dari kata Isnain (Arab) yang berarti dua. Dalam bahasa Inggris disebut Monday, yaitu Moon’s Day (Harinya Bulan). Hal ini tidak berbeda dengan makna Coma dalam kalender Saka Bali yang berarti bulan.

  • Selasa berarti tiga dalam bahasa Arab. Hari selasa disebut Tuesday dalam bahasa Inggris yang maknanya adalah Tiu’s Day. Tiu adalah nama anglo-saxon untuk Dewa Mars (Dewa Perang Romawi kuno). Bangsa Yunani mengenalnya sebagai Ares. Ternyata Anggara atau Anggaraka juga berarti dewa perang yang menguasai Planet Mars dalam kesusastraan Hindu.

  • Hari keempat dalam bahasa Arab adalah Rabu, orang Eropa menyebutnya Wednesday yang berarti Woden’s Day (Hari untuk Woden). Woden adalah nama anglo-saxon untuk Dewa Merkurius (dewa perdagangan bangsa Romawi).  Dalam bahasa sansekerta, Budha juga sama berarti Planet Merkurius. Jika bangsa Romawi mengenal Dewa Merkurius sebagai dewa perdagangan, ternyata di Bali juga mengenal Rainan Budha Cemeng (pada hari rabu tertentu) untuk memperingati hari kemakmuran perdagangan dan keuangan.

  • Kamis adalah hari kelima dalam bahasa Arab. Dalam kalender Saka, hari kamis bernama Wrespati yang artinya Planet Jupiter. Sementara dalam budaya Eropa menyebutnya dengan Thursday  yang bermakna Thor’s day. Thor adalah Dewa Petir yang menguasai Planet Jupiter.

  • Hari berikutnya dikenal dengan sebutan Jumat dari kata Jumu’ah (Arab) yang berarti ramai, karena orang ramai berjemaah ke masjid. Menurut kalender Saka, hari jumat disebut Sukra yang artinya planet Venus. Orang barat menyebutnya Friday (Freyja’s day). Freyja merupakan dewi cinta seperti juga dewi Venus (dewi cinta&kecantikan;) dalam kebudayaan romawi kuno.

  • Terakhir disebut Sabtu, diambil dari kata sabbat (bahasa Ibrani) yang artinya Dia berhenti. Orang Bali menyebutnya Saniscara, berasal dari kata Sani yang artinya Saturnus. Sama halnya dengan orang Inggris menyebutnya Saturday (Saturn’s day) yaitu hari untuk planet Saturnus. Nah, demikian tadi sedikit persamaan kebudayaan berbagai bangsa di dunia yang masih tersisa hingga sekarang.

Kalender dalam Kebudayaan Bali 
Dalam kehidupan masyarakat Bali, kalender memegang peranan penting dalam mempersiapkan sesuatu dan menentukan kapan waktu yang tepat untuk melakksanakan pertemuan, rapat keluarga, membangun pura, buat kandang ternak, membeli motor, menanam benih, pergi berdagang, melakukan upacara pengabenan, manusia yadnya, bahkan juga hari yang tepat untuk berjudi. Semua hal kehidupan manusia tersebut ditata dengan baik dalam kalender Bali agar bisa mencapai hasil yang maksimal. Bahkan banyak pejabat di Bali menggunakan kalender Bali sebagai acuan dalam menetapkan suatu event kegiatan.

Kalender Bali yang bisa kita beli di toko-toko di Bali bentuknya berupa lembaran besar yang berisi banyak informasi, misalnya berupa hari baik buruk menanam padi, memelihara ternak, membuat senjata, melakukan hubungan suami istri atau juga informasi membangun rumah. Kedepannya mungkin perlu juga mencantumkan hari baik yang terkait dengan kemajuan teknologi, seperti mengirim email, menjalin kemitraan, test driving, dan sebagainya. Hal ini merupakan sesuatu yang menarik karena sebenarnya memang dimungkinkan untuk mewujudkannya sesuai dengan sastra dan lontar Bali. Tujuannya agar generasi muda tidak akan meninggalkan warisan budaya yang luhur tersebut.

Yap...itulah sedikit ulasan tentang kalender Bali, jika anda berlibur ke Bali anda bisa ke Denpasar mengunjungi tempat-tempat percetakan Kalender Bali.

Terima kasih telah membaca tulisan ini, semoga dapat menambah wawasan Anda. Jika bermanfaat, jangan lupa share di akun media sosial Anda, seperti Facebook dan Twitter.

Sajian Informasi Terkait