7 Tantangan Membesarkan Anak sebagai Ibu Tunggal

Menjadi seorang ibu tunggal sering dianggap negatif di mata masyarakat kita. Tanpa mengetahui kenapa mereka melakukan hal itu, Kadang kita hanya bisa menghakimi. Sementara jika kita mencoba untuk menyelami situasi mereka, apakah kita sanggup melakukannya? Jika di pikir bukankah itu sangat sulit?? Walaupun sulit namun ada beberapa ibu yang sanggup menjalaninya. Ada banyak hal yang menjadi faktor mengapa ia harus menjadi ibu tunggal, misalnya, di tinggal meninggal, di tinggal selingkuh, atau karena tidak mendapat restu dari orang tua sehingga memutuskan berpisah dan menjadi ibu tunggal.

Pernahkah kita menyadari betapa tangguhnya seorang ibu tunggal? Bagaimana tidak, menjadi seorang ibu tunggal berarti kita harus melakukan serta memutuskan segala sesuatunya sendiri, tanpa tau keputusan itu benar atau tidak. Yang pasti situasinya akan sangat berbeda dengan mereka yang memiliki kesempatan untuk membesarkan anak dengan bantuan pasangan.

ibu wanita tunggal
Namun Inilah tantangan yang harus mereka hadapi. Tidak semua keluarga berakhir bahagia, tidak semua wanita mendapatkan keberuntungan mendapatkan seorang pendamping yang setia, serta tidak semua anak yang bisa tumbuh di dampingi kedua orang tuanya. Walaupun terasa berat untuk menerima namun itulah sebuah kenyataan serta takdir Tuhan yang harus di jalani. Ada 7 Tantangan Besar Menjadi Seorang Ibu Tunggal, yakni:

1. Keuangan Terbatas
Di antara tantangan yang paling mengkhawatirkan menjadi seorang ibu tunggal adalah masalah keuangan, dimana kita harus memenuhi semua kebutuhan kita sendiri serta mau tidak mau kita harus mencarinya sendiri. Masalah itu akan benar-benar terasa saat semuanya dikelola sendiri.
Meski masih ada keluarga, namun tidak pantas rasanya jika kita selalu mengharapkan bantuan dan pertolongan dari mereka. Terlebih lagi, dengan waktu yang terbatas, tentu saja, seorang ibu tunggal harus menutup mata dan menahan diri dari semua alasan untuk semua biaya harian.

2. Kurang Waktu Untuk Diri Sendiri
Menjadi seorang ibu saja telah memberi banyak hambatan bagi seorang wanita untuk punya waktu untuk dirinya sendiri. Dengan mengambil gelar sebagai ibu tunggal, maka sudah pasti waktu untuk diri sendiri akan sangat minim, karena akan ada terlalu banyak tanggung jawab dan peran untuk bermain sampai mereka memiliki kesempatan untuk bersosialisasi dengan teman, belum lagi seseorang yang spesial. Sebagian besar waktu, rasa bersalah akan membuat ibu-ibu ini merasa tidak sabar antara keinginan dan kebutuhan mereka.

3. Respon Publik
Entah bagaimana, persepsi publik pada umumnya kepada seorang ibu tunggal, karena biasanya seorang janda sering diberi label dengan judul negatif seperti 'pembajak' atau 'hama rumah tangga'. Tapi kenyataannya, semua ini hanya stigma belaka. Jadi, jangan membuat respons terhadap seseorang tanpa memeriksanya terlebih dahulu. Karena tidak selamanya janda itu tidak baik, siapa tau mereka hanya korban.

4. Menghadapi Pertanyaan & Isu Anak Yang  Lebih Besar
Saat anak bertambah besar, mereka juga akan semakin mengerti sehingga akan membuatnya mengajukan semakin banyak pertanyaan, semakin banyak pertanyaan yang akan mereka lontarkan maka akan semakin membuat si ibu merasa sedih dan terluka. Mereka pasti akan bertanya tentang masa lalu atau soal kenapa ibu dan ayah bisa terpisah. Terlalu banyak pertanyaan itulah yang akan selalu mengembalikan penyesalan dan rasa bersalah kepada anak.

Saat bertemu orang baru, anak akan frustrasi saat ditanya tentang ayah mereka. Jika memungkinkan, kami ingin menjadi pelindung mereka. Tapi inilah dunia nyata yang akan mereka hadapi suatu hari nanti.

5. Merasa Diam
Meski sebagian besar waktu dipenuhi hiruk pikuk, ada saat keheningan akan datang dan mengisi pikiran. Ini adalah kerinduan untuk mengobrol dengan orang dewasa. Merasa merindukan ungkapan. Merasa merindukan pelukan. Semua ini adalah dukungan emosional yang dibutuhkan orang normal.
Saat anak tumbuh dewasa, saatnya mereka akan memiliki agenda sendiri. Mereka akan kurang bersama kita dan sekali lagi ruang kosong akan dipenuhi dengan kesepian yang semakin sunyi.

6. Dipaksa Membuat Keputusan Keras
Begitu banyak keputusan perlu dibuat meski kita tidak tahu apa yang salah. Kita sendiri sadar diri. Kami tidak yakin apakah kami cukup kuat untuk menangani hal ini. Namun itulah perjuangan yang selalu terjadi saat menjadi ibu tunggal.

7. Selalu Merasa 'Tidak Cukup'
Last but not least, betapa pun banyak usaha telah dilakukan dalam membesarkan anak-anak, sebagai ibu tunggal, rasanya tidak pernah cukup. Perasaan cenderung disalahkan jika sesuatu yang dirancang tidak bekerja dengan baik. Meski selalu dibujuk untuk tidak membandingkan dengan orang lain, tentu tidak mudah duduk saat melihat anak sendiri kurang cinta dan perhatian dari seorang ayah. Entah kenapa, kita selalu merasa bahwa itu tidaklah adil untuk mereka.

Dimana Saja, Kapan Saja, Anak Akan Selalu Menjadi Sumber Kekuatan
Tidak masalah jika kita harus tetap berpisah dari pasangan karena perceraian atau, duduk terpisah untuk alasan tertentu, atau memiliki mitra outsourcing - seseorang yang bertanggung jawab untuk membesarkan anak tanpa pasangan di samping pasti akan mengalami tantangan dalam hidup, terutama dalam hal membesarkan anak Namun, bagaimanapun, anak-anak ini akan menjadi kekuatan para ibu dan ayah tunggal di luar sana. Jadi hormatilah mereka!

Sebenarnya menjadi seorang ibu tunggal atau ayah tunggal tidaklah gampang, tetapi mengapa kita masih saja mempersulit mereka dengan prasangka kita sendiri, mereka sudah cukup sulit untuk menerima kenyataan hidup apa perlu kita tambahkan lagi penderitaannya. Sepatutnya kita bersyukur dan belajar untuk lebih baik lagi dalam menjalani suatu hubungan dan membina keluarga dengan baik. Agar keluarga kita bisa berjalan dengan sehat(tidak ada yang kurang).

Terima kasih telah membaca tulisan ini, semoga dapat menambah wawasan Anda. Jika bermanfaat, jangan lupa share di akun media sosial Anda, seperti Facebook dan Twitter.

Sajian Informasi Terkait