7 Akibat Buruk Bertengkar dan Berteriak di Depan Anak

Setiap kehidupan berumah tangga tentunya tidak selalu berjalan dengan mulus. Pasti akan selalu ada kerikil-kerikil kecil yang turut mewarnainya. Kadang rumah tangga kita akan diuji dengan tantangan tersendiri, sehingga akan muncul perbedaan pendapat atau cara pandang yang berbeda. Mungkin itu termasuk hal yang biasa, dan kebanyakan keluarga lain juga merasakan hal yang sama. Bedanya hanya, ada yang bisa menyelesaikannya dengan baik dan ada yang tidak, itu tergantung dari pribadi masing-masing.

Ketika kita telah dianugerahi seorang anak di dalam pernikahan, maka kita sebagai orang tua di tuntut untuk lebih bijaksana dalam menentukan setiap keputusan yang kita ambil. Sebagai orang tua kita tidak boleh membuat keputusan yang bersifat pribadi (hanya mementingkan diri sendiri), karena hal itu pasti akan mempengaruhi si anak itu sendiri.

bertengkar
Bila Anda memutuskan untuk bersalah, menghancurkan, atau bersikap dingin terhadap pasangan, entah itu di sengaja atau tidak, Anda benar-benar akan meninggalkan kesan mendalam pada anak itu.
Sebagai orang tua tentu kita tidak mau melihat anak-anak kita tumbuh secara tidak normal, karena memikul beban yang kita buat sendiri sebagai orang tua. Bukankah itu terasa tidak adil buat mereka?

Tidak sepantasnya jika si anak harus menanggung itu semua. Tahukah Anda, jika kehidupan berumah tangga kita sebagai orang tua sangatlah berpengaruh pada pertumbuhan anak, kegagalan atau ketidakharmonisan di dalam suatu keluarga maka akan menyebabkan 7 hal. Apa sajakah itu, simak selengkapnya di bawah ini:

1. Kurangnya Rasa Percaya Diri
Anak-anak yang 'terbengkalai' atau korban keegoisan dari orang tuanya, biasanya akan sulit untuk menerima bahwa mereka tidak ada hubungannya dengan situasi tersebut. Sebenarnya, penelitian menunjukkan bahwa anak-anak cenderung disalahkan karena tidak dapat melakukan apapun untuk menyelamatkan situasi.

Secara tidak langsung, mereka hidup dalam keadaan kurang percaya diri, cemas, dan bingung. Jika itu terjadi terlalu sering, bisa akan menyebabkan depresi berat meski anak masih belum mengerti apa yang dia katakan.

2. Emosi yang Tidak Stabil
Ketidakmampuan dengan pasangan juga pada kenyataannya akan menyebabkan anak Anda berjuang dengan orang lain dalam kehidupan mereka. Kata-kata panas (keras) yang dilontarkan satu sama lain  bisa membuat anak-anak mengalami mimpi buruk, trauma, dan amukan karena mereka mungkin sulit untuk menghapusnya dari ingatan mereka.

Menurut Psych Central, depresi ini mengarah pada sifat anti-sosial, di mana beberapa dari mereka tampaknya ingin menjauh dari orang yang menunjukkan cinta atau cinta untuk mereka - karena mereka takut ditinggalkan atau terbengkalai.

3. Dewasa Sebelum Waktunya
Anak-anak yang tidak memiliki keluarga yang harmonis akan membuat mereka tumbuh dewasa sebelum waktunya, karena biasanya anak-anak tersebut akan terjebak di dalam masalah ini, dan tidak hanya membuatnya harus menanggung beban emosi, tapi juga beban fisik. Sehingga mereka akan mengorbankan masa kanak-kanaknya dan tidak lagi mandiri dan ceria seperti anak normal. Karena mereka harus memikul tanggung jawab begitu awal untuk menerima dan dipaksa untuk mengerti keadaan orang tuanya.

Jadi si anak tidak bisa lagi memikirkan masa kanak-kanak yang penuh dengan keceriaan melainkan berusaha meyakinkan hatinya untuk menerima sebuah kenyataan yang ada. Dengan memaksakan diri untuk bisa menerima inilah yang membuat mereka tubuh dewasa sebelum waktunya.

4. Mudah Berputus Asa
Mereka tidak hanya harus dalam keadaan tidak dapat ditembus karena mereka tidak ingin disukai siapapun, tapi mereka cenderung menjadi pendengar dan perantara kebanyakan hal antara orang tua.
Dalam setiap perselisihan atau perpisahan, emosi anak juga tidak memadai karena mereka tergelitik dan terpaksa memilih. Seperti kata pepatah, "Sudah mati sampai mati, kematian ayah." Akhirnya, semua perasaan marah, sedih, kecewa, khawatir, takut, termasuk perasaan senang, sayang, dan kegembiraan terlempar jauh dari hati. 

Sikap ini adalah penyebab sebagian besar masalah mental yang semakin memburuk saat tumbuh dewasa. Keadaan seperti itu membuat si anak tidak lagi mempunyai keinginan yang ingin ia capai, tetapi terpaksa memilih dan menerima.

5. Masalah Perilaku
Orang tua adalah model peran yang paling dekat dengan anak-anak. Karena itu, anak cenderung sejalan dengan temperamen orang tua meski bertentangan dengan norma dan logika. Akibatnya, ada beberapa anak yang menunjukkan kekerasan dalam tindakan. Beberapa gadis mungkin tidak dapat lagi menilai cinta dan kasih sayang yang 'sejati' karena haus perhatian.

6. Mempengaruhi Prestasi Akademik
Sulit untuk menyangkal bahwa seorang anak yang diganggu oleh masalah orang tua mereka akan sulit untuk fokus pada pelajaran. Berkurangnya performa, kurang antusias, disiplin, kekerasan, dan sebagainya merupakan salah satu hal yang paling sulit dihindari bila seorang anak terpaksa menghadapi kecurangan seorang ibu atau ayah. Semua masalah ini tidak akan 'hilang' dan harus dijaga karena akan mempengaruhi prestasi dan masa depan mereka.

7. Kesehatan Memburuk
Meskipun perkelahian rumah tangga sering dikaitkan dengan tekanan emosional dan mental, sebenarnya hal itu mungkin juga menjadi penyebab memburuknya masalah kesehatan fisik.
Menurut sumber, di antara masalah kesehatan kebanyakan anak menderita perpisahan dan perceraian adalah sakit kepala, serangan lelah, dan penyakit berulang.

Setiap Rumah Tangga Memiliki Ujian
Rumah tangga bukan sekadar dongeng yang indah. Mau atau tidak, kita tidak bisa lepas dari momen mencurigakan dan kritis yang harus kita hadapi. Bicaralah antar pasangan. Jangan berlebihan, tapi kerjakan strategi. Asumsikan tes adalah kesempatan satu sama lain untuk saling bergaul dan mencoba untuk saling memahami.

Meski perbedaan pendapat itu normal, namun tetap hindari perselisihan atau pertengkaran yang dapat mengakibatkan  perkelahian di depan anak-anak, terutama hal-hal besar karena pasti akan berdampak negatif pada mereka.

Ingatlah para orang tua, jika anak itu adalah titipan dari Tuhan. Jadi sudah sepantasnya jika ia di perlakukan dengan baik. Mari kita jaga anak-anak kita karena senyuman mereka mampu mengubah dunia.

Terima kasih telah membaca tulisan ini, semoga dapat menambah wawasan Anda. Jika bermanfaat, jangan lupa share di akun media sosial Anda, seperti Facebook dan Twitter.

Sajian Informasi Terkait