Kenapa Desa Trunyan Begitu Unik dan Eksotik?

Salah satu desa yang paling unik dan berbeda dari desa-desa lainnya di Bali adalah desa Terunyan. Desa kecil ini terletak di tepi Danau Datur, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli. Dibutuhkan sekitar 2,5 jam perjalanan ke desa Trunyan dari kota Denpasar. Dari dermaga kecil, Anda harus naik perahu untuk menyeberangi danau Batur. Trunyan adalah desa tertua di pulau Bali. Desa ini sudah ada sebelum penduduk Majapahit (Jawa) pindah ke pulau Bali sekitar abad ke-14. Oleh karena itu, orang-orang desa Trunyan disebut Baliage (berarti yang "Bali pertama").

Apa yang unik dan menari dari Desa Trunyan? Yang paling ingin disaksikan oleh para wisatawan adalah prosesi pemakaman warga Trunyan. Jika di desa lain, pemakaman dilakukan dengan kremasi atau dikubur, maka di desa Trunyan dilakukan dengan cara Mepasah.

Mepasah atau dijemur adalah membiarkan mayat membusuk di atas tanah. Jenazah akan dihancurkan oleh panas matahari, angin, dan hujan. Jadi, butuh bertahun-tahun agar mayat berubah menjadi tengkorak. Lalu bagaimanakah warga desa Trunyan menghadapi bau yang terjadi dalam proses pembusukan tersebut? Inilah keunikan dan ajaibnya desa Trunyan.

desa terunyan
Meskipun mayat dibiarkan tergeletak di atas lahan pemakaman, tetapi Anda tidak akan mencium bau busuk. Warga setempat percaya bahwa pohon-pohon besar yang tumbuh di areal kuburan mampu menetralisir bau yang menyengat. Lalu mengapa mereka tidak mengubur atau membakar mayat? Mari kita baca cerita ini. Cerita rakyat ini menjadi dasar dari tradisi unik di desa Trunyan.

Pada suatu hari, ada seorang pangeran dari tanah Jawa. Dia mencium bau harum yang berasal dari arah timur seberang pulau (Pulau Bali). Dia kemudian memutuskan untuk mencari sumber aroma tersebut. Ia tiba di tepi Danau Batur, dan melihat seorang gadis cantik yang duduk di bawah pohon besar. Pangeran menyadari bahwa pohon-pohon besar tersebut menyebarkan aroma wangi. Dia tertarik untuk tinggal di sana dan akhirnya menikah dengan si gadis cantik. Pangeran kemudian dinobatkan sebagai pemimpin di desa kecil tersebut. Sang Pangeran kemudian memberi nama desanya dengan nama Trunyan, berasal dari kata Taru (pohon) dan Menyan (wangi).

Setelah lama memimpin, sang pangeran tersebut berhasil membuat desa Trunyan sebagai wilayah yang makmur dan indah. Dia kemudian mulai khawatir jika aroma pohon-pohon besar di daerah Trunyan akan menarik orang-orang jahat untuk datang menghancurkan kehidupan warga desa. Lalu ia memerintahkan penduduk desa untuk tidak mengubur mayat, namun diletakkan di bawah pohon, sehingga aroma wangi akan hilang oleh bau busuk.

Dengan begitu, sang pangeran berharap desa Trunyan dapat hidup dengan aman dan damai. Demikianlah cerita rakyat tentang desa Trunyan. Jika Anda ingin melakukan perjalanan wisata ke desa Trunyan, datanglah saat musim panas di Bali, sekitar bulan Mei sampai Oktober, agar tidak terganggu oleh kabut.

Terima kasih telah membaca tulisan ini, semoga dapat menambah wawasan Anda. Jika bermanfaat, jangan lupa share di akun media sosial Anda, seperti Facebook dan Twitter.

Sajian Informasi Terkait