6 Desa Tradisional Paling Unik di Bali, Wajib Dikunjungi..!!!

Bali, walaupun merupakan sebuah pulau kecil, tetapi memiliki keanekaragaman yang luar biasa. Bali, yang terdiri dari delapan kabupaten dan sebuah kota madya ternyata masing-masing memiliki ciri kebudayaan tersendiri, baik itu dialek bahasa, tata upacara, kebiasaan, warisan tradisional, kuliner, dan sebagainya. Semuanya mencerminkan keunikan tersendiri, bahkan juga antar desa dalam satu kecamatan pun ternyata mempunyai kebiasaan dan adat yang berbeda-beda. Hal ini disebabkan oleh prinsip Desa, Kala, Patra yaitu pelaksanaan upacara agama dan kegiatan adat – istiadat disesuaikan dengan situasi tempat (desa), waktu (kala), dan keadaan (patra).

Fleksibelitas ajaran agama Hindu di Bali menjadikan masing-masing desa mewariskan kebudayaan dan adat istiadat yang beraneka ragam, sehingga akan melahirkan keunikan-keunikan tersendiri. Namun, semua itu tetap dalam kerangka ajaran agama Hindu.  Jika anda berwisata ke Bali, ada banyak desa yang menyajikan pesona wisata yang indah, diantaranya adalah desa yang bisa dibilang cukup unik, yaitu:

Desa Penglipuran

Desa Penglipuran terletak di Kabupaten Bangli sekitar 45 km dari kota Denpasar. Desa ini berada di jalan utama Kintamani- Bangli. Suasana tradisional masih sangat terlihat di wilayah desa ini. Namun, hal ini bukan berarti penduduknya dihuni oleh orang-orang primitif. Banyak pemuda-pemudi Desa Penglipuran yang sudah mengenyam perguruan tinggi. Hal unik dalam desa Penglipuran adalah tata ruang yang seragam dan awig-awig (aturan) yang sangat ketat.

Corak pintu gerbang (angkul-angkul) untuk semua rumah penduduk, bangunan suci, lumbung padi, dan sebagainya terlihat seragam. Masing-masing rumah dihubungkan oleh lorong-lorong. Jalan utama desa adat beruapa jalan sempit yang lurus dan berundak-udak, tapi sangat bersih. Banyak wisatawan asing yang sudah berumur berlibur ke desa Penglipuran, karena ingin mendapatkan suasana yang tenang dan nyaman. Jika anda ingin menyusuri desa ini, anda harus berjalan kaki karena sesuai dengan awig-awig desa, kendaraan roda empat dilarang memasuki kawasan desa.

Desa Trunyan

Desa Trunyan adalah sebuah desa tua Bali yang terletak di Kabupaten Bangli. Desa ini berada di pinggir danau Batur, dan untuk mencapainya kita harus menyeberangi danau Batur dengan menggunakan perahu boat melalui dermaga kecil di Desa Kedisan. Desa Trunyan merupakan pilihan utama bagi wisatawan asing yang ingin menyaksikan tempat unik nan eksotik sebagai salah satu keajaiban budaya dunia. Yang unik dan menarik dari desa ini tentunya adalah cara memperlakukan jenazah. Jika umumnya, mayat di Bali diaben dengan cara di bakar (kremasi) atau dikubur dalam tanah, tetapi jenazah orang Trunyan yang merupakan penduduk asli Bali (disebut Baliage) dibiarkan berada di atas tanah di areal pemakaman hingga terurai menjadi tengkorak. Mayat-mayat yang dibiarkan membusuk di atas tanah ternyata tidak mengeluarkan bau busuk karena adanya bau harum yang dikeluarkan oleh pohon-pohon Menyan (Taru Menyan = Terunyan) yang tumbuh di areal kuburan tersebut. Para wisatawan yang berkunjung ke arela pemakaman tersebut dapat menyaksikan proses terurainya mayat tanpa terganggu dengan bau busuk. Keunikan desa Trunyan dan pesona alam danau Batur yang sangat indah, menjadikan desa ini sebagai destinasi favorit wisatawan internasional. 

Desa Munti Gunung

Jika anda berkunjung ke desa Munti Gunung, anda tidak akan menemukan objek wisata yang menarik di desa ini. Lalu apa yang unik dari desa ini? Yang unik adalah penduduknya. Penduduk Desa Munti Gunung sebagian berprofesi menjadi pengemis (maaf). Di tiap hari-hari tertentu, sebagian penduduk Munti Gunung turun gunung menyusuri desa-desa atau pergi ke kota untuk menjadi peminta-minta. Desa Munti Gunung terletak di Kabupaten Karangasem, Kecamatan Kubu yang berada di kawasan tandus dan gersang. Himpitan ekonomi dan hasil pertanian yang tidak menentu, membuat banyak penduduknya merelakan dirinya menjadi gepeng (gerombolan pengemis). Namun, ternyata banyak juga warga Munti Gunung yang sudah kaya tetap menjadi pengemis. Lho..kok bisa? Ada yang beragumen bahwa hal itu karena mereka terlanjur enak menjadi pengemis, ada pula yang menyatakan hal itu terjadi karena adanya kutukan yang diterima desa karena kesalahan masa lampau, sehingga jika mereka tidak menggepeng, mereka akan sakit kudis.

Desa Tenganan

Jika Anda ingin melihat kehidupan nyata penduduk asli pulau Bali, maka Anda dapat mengunjungi salah satu desa tua di Bali. Desa Trunyan, Desa Sembiran, Desa Tenganan, dan Desa Pedawa adalah beberapa contoh desa tua di Bali. Para penduduknya dikenal dengan istilah Bali Aga. Mengapa disebut desa tua? Karena desa ini telah ada sebelum orang-orang Jawa bermigrasi ke pulau Bali pada abad ke-8 Masehi. Budaya desa-desa tradisional tersebut cukup unik, misalnya di desa Trunyan, tubuh orang mati tidak dikubur, tetapi ditempatkan di bawah pohon sampai menjadi tengkorak. Selain Desa Trunyan, desa tua yang sering dikunjungi oleh para wisatawan adalah desa Tenganan. Desa Tenganan terletak di Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem. Untuk mencapai lokasi ini, Anda akan menempuh jarak sekitar 70 km dari Bandara Ngurah Rai (1,5 jam perjalanan).

Jika Anda mengunjungi Candi Dasa, maka Anda hanya jarak 10 km untuk sampai ke sana. Menurut cerita dan sejarah, kata "Tenganan" berasal dari kata "Tengahan" yang berarti ke arah tengah (dekat dataran tinggi). Pada awalnya, warga dari nenek moyang desa Tenganan tinggal di daerah pesisir, kemudian bermigrasi ke tempat yang lebih tinggi atau dalam bahasa Bali disebut ke tengah / tengahan, sehingga lambat laun diucapkan menjadi Tenganan.

Sebagian besar penduduk desa Tenganan adalah petani. Beberapa warganya bekerja sebagai pembuat produk kerajinan, seperti kerajinan bambu, kerajinan dari kelapa, dan yang paling disukai oleh wisatawan adalah kain tenun tradisional yang dikenal dengan kain tenun Pegringsingan. Hal unik yang dapat Anda lihat di desa ini adalah bangunan rumah yang masih terlihat tradisional. Dinding terbuat dari bata merah, atap terbuat dari tumpukan daun Rumbi. Hampir semua rumah adat berukuran dan berbentuk sama. Terkesan sangat klasik. Kehidupan masyarakat desa Tenganan diatur dalam hukum adat yang disebut "awig-awig". Aturan tradisional ini telah ditulis pada abad ke-11 dan diperbarui pada abad ke-18. Sebuah tradisi unik yang dimiliki oleh warga desa Tenganan adalah tradisi menyeleksi para pemuda yang akan menjadi pemimpin desa.

Tradisi ini disebut Mesabat-sabatan Biu atau perang pisang. Dua kelompok pemuda akan saling bertarung dengan melemparkan pisang. Tradisi ini diadakan sekitar bulan April / Mei. Dua bulan kemudian, pada bulan Juli, warga desa mengadakan tradisi perang pandan atau disebut Mageret Pandan. Tradisi ini dilakukan pada sebuah arena dengan cara dua orang saling bertarung dengan menggunakan daun pandan berduri. Tetes darah dari daun pandan duri adalah simbol penghormatan kepada Dewa Indra sebagai dewa perang. Beberapa wisatawan juga berpartisipasi dalam tradisi ini. Jika Anda berwisata ke desa ini, ada baiknya membawa lebih banyak uang untuk membeli souvenir kain tenun Gringsing.

Kata "Gringsing" berasal dari kata "Gering" berarti penyakit dan kata "sing" yang berarti tidak ada. Jadi Gringsing berarti "tidak ada penyakit atau penolak penyakit". Tenunan Gringsing dianggap sebagai penolak wabah penyakit. Harga sepotong kain Gringsing  sekitar 500ribu rupiah. Jika Anda ingin memiliki kain kualitas terbaik dan ukuran yang lebih besar, maka siapkan uang kantong lebih dari 10 juta rupiah.

Mari Intip Burung Kokokan di Desa Petulu

Desa Petulu adalah salah satu desa di pulau Bali yang juga dikunjungi oleh wisatawan. Desa Petulu terletak di kecamatan Ubud, kabupaten Gianyar, sekitar 25 kilometer dari kota Denpasar. Desa kecil ini memiliki suasana hijau nan alami. Namun, daya tarik utama bagi wisatawan adalah adanya ratusan burung Kokokan (bangau putih) yang mendiami desa Petulu. Oleh karena itu, julukan yang diberikan ke desa ini adalah desa Kokokan (desa bangau putih). Bagi penduduk desa Petulu, burung Kokokan yang mendiami daerah pedesaan dianggap sebagai bukan burung biasa. Ada keajaiban yang mendominasi kehidupan burung ini.

Menurut cerita masyarakat setempat, di era tahun 60-an, Kokokan sering diburu untuk konsumsi atau dipelihara dalam kandang, sehingga membuat populasi burung berkurang.Hal ini ternyata menyebabkan beberapa kejadian aneh yang dialami oleh para pemburu atau warga yang memelihara burung Kokokan dalam sangkar. Mereka merasa selalu dikejar-kejar oleh makhluk gaib. Penduduk desa kemudian mengadakan upacara ritual di pura desa untuk meminta maaf. Pada saat melakukan ritual, pendeta mengalami kesurupan (trance), dan menyatakan bahwa burung Kokokan di Desa Petulu merupakan burung penjaga para dewa. Sejak itu, burung-burung Kokokan di Desa Petulu tidak lagi diburu dan dibiarkan berkembangbiak secara bebas.

Sekarang, populasi burung Kokokan di Desa Petulu telah kembali normal. Penduduk desa telah hidup dalam harmoni dengan burung dan alam yang indah. Jika Anda mengunjungi desa Petulu di sore hari, Anda akan melihat kerumunan burung Kokokan bertengger di pepohonan.

Berwisata ke Desa Tua, Taro

Desa Taro adalah salah satu desa tua yang terletak di Kabupaten Gianyar, sekitar 40 km dari kota Denpasar. Desa Taro memiliki pesona alam yang indah. Dalam bahasa Bali, "taro" berarti pohon. Jika Anda mengunjungi desa Taro, Anda akan menemukan hal-hal menarik, antara lain:

Panorama Sawah 
Sebagian besar penduduk desa Taro adalah petani. Di desa Taro, Anda bisa melihat pemandangan indah sawah bertingkat. Selain itu, ada juga berbagai macam tanaman buah, seperti kebun jeruk, lidah buaya, kebun sayur, kelapa, dan lain-lain.

Hutan Adat 
Pada wilayah desa Taro di bagian barat, ada kawasan hutan yang dikelola oleh organisasi adat Desa Taro. Kawasan hutan ini memiliki potensi sebagai jalur trekking yang cukup menantang. Jika Anda ingin menguji adrenalin Anda, silakan kunjungi kawasan hutan di Desa Taro.

Sapi Putih 
Warga Desa Taro memiliki budaya yang unik yang tidak dimiliki oleh desa-desa lain di Bali. Keunikan budayanya adalah kepercayaan sapi putih sebagai hewan suci yang tidak boleh dipelihara di rumah. Saat ini, di Desa Taro, ada sekitar 50 ekor sapi putih. Sapi-sapi putih dipelihara oleh penduduk desa di suatu tempat khusus. Secara bergantian, penduduk mencarikan dan memberi makan sapi. Ketika di Desa Taro diadakan upacara keagamaan yang disebut Purwa Daksina upacara, maka sapi putih tersebut akan dijadikan sebagai pelengkap upacara keagamaan. Sapi-sapi putih tersebut dianggap sebagai saksi dan wakil dari para dewa.

Atraksi Gajah
Di desa Taro juga terdapat atraksi wisata baru yang disukai para wisatawan, yakni trekking dengan gajah. Anda bisa berkeliling desa Taro dengan menunggang gajah yang dikendalikan oleh para pawang gajah. Harga sewanya sekitar 40-50 dolar.

Terima kasih telah membaca tulisan ini, semoga dapat menambah wawasan Anda. Jika bermanfaat, jangan lupa share di akun media sosial Anda, seperti Facebook dan Twitter.

Sajian Informasi Terkait