Pernikahan Tradisional Adat Bali, Prosesi, Busana, dan Mas Kawin

Apakah Anda telah menikah? Jika ya, masih ingatkah anda ketika melamar atau dilamar kekasih Anda? Secara umum, sebelum melakukan pernikahan, calon pengantin biasanya meminta restu dari orang tua dan keluarga. Jika keluarga pengantin pria dan keluarga pengantin wanita telah sepakat dan merestui, maka pernikahan akan digelar. Proses pelamaran dalam pernikahan adalah salah satu langkah menuju prosesi pernikahan yang sakral.

Di Bali, ada tiga jenis sistem perkawinan (proses pelamaran). Tiga jenis prosesi pelamaran (pernikahan) tersebut telah menjadi akar budaya dan adat istiadat masyarakat Bali. Tiga sistem pernikahan yang dimaksud terdiri dari: Mapadik, Ngerorod, dan Nyentana.

1. Mapadik
Mapadik adalah pernikahan yang diawali dengan meminta izin. Calon pengantin pria bersama keluarganya pergi ke rumah calon pengantin perempuan untuk melakukan pelamaran. Jika mereka saling mencintai, dan keluarga pengantin wanita menerima lamaran tersebut, maka pesta pernikahan akan diselenggarakan pada hari yang telah disepakati bersama. Jenis pernikahan ini merupakan pernikahan yang umum dilakukan oleh masyarakat Bali dan juga sebagian besar orang di seluruh dunia. Pernikahan semacam ini juga disebut dengan Ngidih.

2. Ngerorod
Ngerorod adalah kawin lari. Pernikahan ini dilakukan ketika orang tua tidak mendapat restu. Pengantin pria dan pengantin wanita pergi ke keluarga lain untuk mengadakan upacara pernikahan. Di masa lalu, ada kelompok keluarga tertentu yang merasa malu jika didatangi pelamar pria yang berasal dari kasta keluarga yang lebih rendah. Jadi, solusinya adalah membiarkan izin kepada putrinya untuk kawin lari.

Jenis perkawinan tidak banyak menghabiskan biaya karena tidak diselenggarakan secara meriah. Jenis perkawinan ini (Ngerorod) sudah mulai ditinggalkan oleh masyarakat Bali. Beberapa desa di Bali menyebut jenis pernikahan ini dengan istilah Ngemaling.

3. Nyentana atau Nyeburin
Dalam tradisi adat, orang Bali memegang prinsip paternalisme (di Bali disebut Phurusa) yakni ikut atau tinggal di keluarga pihak laki-laki. Namun, dalam pernikahan jenis ini, prinsip Phurusa tidak berlaku. Pengantin perempuan sebagai kepala keluarga, sehingga pengantin pria harus tinggal di rumah pengantin wanita selamanya. Pernikahan ini terjadi manakala orang tua pengantin wanita tidak memiliki ahli waris laki-laki.

Oleh karena itu, orang tua pengantin wanita akan menyerahkan persyaratan kepada pemuda yang ingin melamar putrinya. Syarat disebut Nyentana. Jika pengantin pria bersedia untuk Nyentana dan mendapat restu dari keluarganya, pesta pernikahan akan diadakan di rumah pengantin wanita.

Mengenal Aksesoris Gaun Pengantin Bali

Dalam beberapa tahun terakhir, ada banyak wisatawan dari Eropa dan Australia yang menggelar pernikahan di pulau Bali. Beberapa selebriti lokal (Indonesia) juga menggelar resepsi pernikahan di pulau ini. Salah satu momen terbaik yang mengesankan mereka adalah ketika mengenakan pakaian tradisional Bali. Mereka merasa seperti berada pada zaman kerajaan klasik.

Berbicara tentang gaun pengantin tradisional Bali, tidak dapat dipisahkan dari sejarah, makna filosofis, dan perkembangannya dari waktu ke waktu. Gaun pengantin tradisional Bali yang sering dipakai oleh pengantin pria dan wanita sebenarnya adalah bentuk dari pakaian raja dan ratu, yang disebut Payas Agung.

Mode pakaian ini, pada zaman dahulu hanya bisa dipakai oleh raja dan keluarganya. Ketika sistem pemerintahan dan budaya feodalisme telah mulai menurun pengaruhnya pada kehidupan masyarakat Bali, maka gaya busana raja diadopsi oleh semua lapisan masyarakat di Bali. Sekarang, tidak ada larangan untuk mengenakan gaun Payas Agung ketika mereka mengadakan resepsi pernikahan, terlepas dari kasta dan kedudukannya.

Untuk memakai gaun pengantin tradisional Bali, diperlukan keahlian khusus, karena agak sulit. Pengantin biasanya meminta bantuan tata busana agar terlihat sempurna. Sang penata biasanya memakan waktu 2 sampai 3 jam untuk membuat pasangan calon pengantin siap dengan busananya.

Pakaian tradisional Bali untuk pasangan pengantin terdiri dari beberapa item, antara lain:

image by Ayu Rai


PRIA
1. Udeng / Destar
2. Badong
3. Kris
4. Gelang Kan
5. Gelang Nagasatru
6. Saput
7. Kamben

WANITA
1. Petitis & Tajung
2. Anting / Subeng
3. Badong
4. Gelang Kana
5. Kencrik
6. Gelang Nagasatr
7. Kamben

Mengintip Mas Kawin Ala Orang Bali

Apakah Anda akan menikah? Kira-kira mas kawin apa yang sudah dipersiapkan? Emas, uang, mobil, cincin, seperangkat kitab suci, atau rumah? Mudah-mudahan acara pernikahan anda akan berjalan lancar. Saya akan bercerita sedikit tentang mas kawin dalam upacara pernikahan di Bali. Mas Kawin menurut versi Bali adalah hadiah yang diberikan kepada pihak keluarga perempuan oleh pihak keluarga laki-laki. 

Selain bertujuan untuk menghibur keluarga mempelai perempuan yang akan ditinggalkan oleh putrinya, hadiah atau mas kawin tersebut juga merupakan bentuk tradisi dari keluarga mempelai perempuan yang harus dipenuhi oleh pihak keluarga mempelai laki-laki. Ada tiga jenis mas kawin yang biasanya diberikan kepada pihak keluarga mempelai perempuan, yaitu:

Babi Guling
Babi Guling merupakan salah satu jenis mas kawin yang diberikan oleh pihak mempelai laki-laki kepada keluarga perempuan. Biasanya dalam acara ‘Mapeserah’ (menjemput pengantin perempuan), rombongan keluarga dari mempelai laki-laki membawa sebuah babi guling sebagai sarana upacara (banten saksi) pernikahan. Setelah keluarga dari pihak pengantin laki-laki mohon pamit bersama pengantin perempuan, maka babi guling tersebut bisa dinikmati bersama oleh keluarga mempelai perempuan bersama tetangga-tetangganya yang datang.

Banten Pajegan (Gebogan)
Jika keluarga mempelai wanita tidak mempunyai tradisi menerima babi guling sebagai sarana upacara, maka biasanya dalam acara ‘Mapeserah’ pihak keluarga pengantin pria diwajibkan membawa banten pajegan. Pajegan adalah sebuah banten yang berbentuk seperti pagoda bulat. Pajegan disusun oleh rangkain jajan khas Bali, buah-buahan, bunga-bunga dan canang sari/rangkaian janur. Jumlah pajegan yang diminta pun bervariasi, tergantung tradisi masing-masing keluarga pihak perempuan. Setelah acara menjemput pengantin perempuan dan memohon ijin selesai dilakukan, maka pajegan tersebut bisa dinikmati oleh keluarga pengantin perempuan yang ditinggalkan.

Kain Tradisional (Kamben)
Tradisi memberikan kain atau kamben saat menjemput pengantin wanita sudah jarang dilakukan. Namun beberapa keluarga masih melakukan tradisi ini. Biasanya kamben tersebut dibawa bersamaan dengan mas kawin yang lain seperti babi guling atau pajegan. Kain ini sebagai bentuk penghormatan dari keluarga mempelai laki-laki kepada keluarga pengantin perempuan.

Terima kasih telah membaca tulisan ini, semoga dapat menambah wawasan Anda. Jika bermanfaat, jangan lupa share di akun media sosial Anda, seperti Facebook dan Twitter.

Sajian Informasi Terkait