Kumpulan Tradisi Festival Unik Pulau Bali

Bali menyimpan aneka tradisi yang boleh terbilang unik. Setiap desa di Bali memiliki tradisi tertentu yang berbeda antar satu desa dengan desa lainnya. Semua itu tak terlepas dari prinsip Desa, Kala, & Patra, sehingga aktivitas agama dan budaya berjalan secara fleksibel yang disesuaikan dengan tempat, waktu, dan keadaan setempat. Nah, tradisi - tradisi berikut ini dapat menjadi salah satu objek liburan anda saat berwisata ke pulau Bali.

Tradisi Unik Peluk Ciuman di Pulau Bali

Bulan Maret adalah saat yang tepat untuk berlibur ke pulau Bali. Pada masa ini, Anda akan merasakan meriah dan damainya suasana Nyepi. Sehari sebelum Nyepi, Anda akan melihat tradisi karnaval Ogoh-ogoh yang meriah, diselenggarakan di sebagian besar desa di pulau Bali.

tradisi ciuman pemuda bali

Jika ingin menonton pawai ogoh-ogoh yang bagus-bagus, datanglah ke Kabupaten Gianyar, karena di sana ada banyak pembuat patung seni Ogoh-ogoh yang keren. Pada hari Nyepi, semua orang di Bali tidak diperbolehkan pergi ke mana pun. Nah, keesokan harinya, Anda wajib melakukan perjalanan wisata ke desa Sesetan, Kota Denpasar. Di sana, Anda akan melihat tradisi unik yang tidak ada di tempat lain di pulau Bali. Tradisi itu adalah tradisi ciuman para pemuda desa Sesetan, yang disebut tradisi Omed-omedan.

Kata "Omed-omedan" berarti "tarik-menarik". Menurut cerita rakyat masyarakat desa Sesetan, tradisi ini dimulai pada abad ke-17. Pada saat itu, sang raja jatuh sakit, dan tidak ada yang bisa menyembuhkan. Sementara anak-anak muda sedang bermain permainan tarik - menarik untuk memeriahkan satu hari setelah Perayaan Nyepi. Raja merasa terganggu oleh kebisingan yang disebabkan oleh para muda - muda di luar istana. Raja kemudian datang ke tempat permainan tersebut meskipun dengan terhuyung - huyung. Ketika Raja ingin memarahi muda-mudi yang sedang asyik bercanda tersebut, keajaiban justru terjadi, yakni raja tiba-tiba menjadi sembuh. Atas peristiwa tersebut, raja kemudian mengeluarkan perintah untuk membuat tradisi permainan tarik-menarik tersebut setiap tahunnya.

Sejak itu, penduduk desa Sesetan, di wilayah Banjar Kaja, selalu mengadakan tradisi Omed-omedan setiap tahun. Pernah pada satu waktu, tradisi ini tidak dilaksanakan. Akibatnya terjadi kegaduhan yang disebabkan oleh dua ekor babi besar saling berkelahi di depan sebuah pura. Para penduduk desa berpikir bahwa hal tersebut adalah pertanda buruk, sehingga tahun berikutnya, tradisi Omed-omedan dilakukan kembali.

Dalam proses pelaksanaannya, sebelum tradisi Omed-omedan dimulai, mereka wajib melakukan persembahyangan di pura desa. Tradisi ini melibatkan oleh dua kelompok, yakni kelompok laki-laki dan kelompok perempuan. Mereka harus mengenakan pakaian adat Bali. Masing-masing kelompok terdiri dari 50 orang. Secara bergantian, seorang pemuda dan pemudi yang berada di barisan depan harus dipertemukan. Saat saling berhadapan, si pemuda biasanya akan mencoba untuk memeluk dan mencium si gadis, dan gadis itu biasanya akan mencoba untuk menghindarinya. Sesaat kemudian, mereka akan diguyur dengan seember air. Acara ini akan berakhir ketika semua pemuda pemudi di desa tersebut telah mendapat giliran. Ingin melihat tradisi ini? silakan datang ke desa Sesetan pada perayaan Hari Raya Nyepi sekitar bulan Maret.

Makotek, Tradisi Unik Mengusir Aura Jahat


tradisi makotek

Setiap desa di pulau Bali memiliki tradisi-tradisi unik. Salah satu tradisi unik yang banyak mendapat perhatian dari para wisatawan adalah Makotek. Tradisi Makotek dapat kita jumpai di Desa Munggu, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung. Tradisi ini diadakan setiap 6 bulan menurut kalender Bali atau tepatnya setiap 210 hari.Tradisi Makotek bertujuan untuk mengusir aura negatif yang mengelilingi wilayah desa Munggu. Dengan tradisi ini, warga berharap bahwa suasana desa menjadi tetap damai.

Tradisi Makotek diduga pertama kali muncul pada masa pemerintahan Kerajaan Mengwi di pulau Bali sebagai peringatan hari kemenangan perang kerajaan Mengwi melawan kerajaan Blambangan (Jawa Timur). Pada tahun 1915, pemerintah Belanda melarang pelaksanaan tradisi ini karena dikhawatirkan dapat memunculkan bibit-bibit pemberontakan. Kemudian setelah itu, desa Munggu ternyata dilanda penyakit misterius. Atas permintaan penduduk desa, pemerintah Belanda mengizinkan kembali pelaksanaan tradisi ini. Tradisi Makotek diadakan setiap 6 bulan menurut kalender Çaka, bertepatan dengan hari raya Kuningan.

Prosesi Tradisi Mekotek
Pada sore hari, warga desa Munggu berkumpul di pura desa untuk melakukan persembahyangan memohon keselamatan. Kaum pria yang ingin berpartisipasi dalam tradisi Makotek harus membawa sepotong kayu (sepanjang 3-4 meter). Setelah kegiatan doa selesai, para peserta berkeliling desa. Mereka bersorak-sorak sembari memukul-mukulkan tongkatnya untuk mengusir aura negatif. Moment yang paling menarik adalah ketika mereka menyatukan tongkat kayu, membentuk seperti gunung (kerucut). Kemudian seorang pria menaiki kerucut sambil berteriak penuh semangat. Terdapat juga perang kayu. Ritual tradisi Makotek berakhir setelah mereka berkeliling di seputaran desa. Jika Anda tertarik untuk menonton tradisi ini, silakan kunjungi desa Munggu pada hari raya Kuningan.

Event Festival yang Menarik Wisatawan

Sektor pariwisata kian menjanjikan bagi perekonomian Indonesia. Banyak provinsi dan kabupaten di Indonesia melakukan upaya dalam memperkenalkan pesona kecantikan alam dan budayanya kepada masyarakat Indonesia dan juga dunia. Di Bali sendiri, dalam rangka mempertahankan dan meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan yang berlibur ke pulau ini, pemerintah daerah beserta pihak-pihak yang berkepentingan dalam sektor pariwisata melakukan berbagai upaya, seperti promosi harga, penawaran paket wisata yang menarik, penyediaan fasilitas dan akomodasi yang memadai, dan juga pegelaran berbagai event wisata secara berkala.

Event-event wisata tersebut  bertujuan untuk memberikan hiburan bagi wisatawan. Tidak seperti negara tetangga kita, Thailand yang hampir tiap bulan mempunyai jenis event wisata yang berbeda-beda, di pulau Bali dalam tiap tahun juga diselenggarakan beberapa acara yang bertajuk wisata budaya. Ada beberapa event wisata yang selalu dinanti-nantikan oleh wisatawan yang berlibur ke pulau Bali, antara lain:

1. Nusa Dua Fiesta 

Festival Nusa Dua adalah acara tahunan yang berlokasi di pantai sunrise Nusa Dua yang biasanya diselenggarakan pada bulan September atau Oktober. Nusa Dua Fiesta telah dimulai sejak tahun 1997. Acara-acara yang diselenggarakan beraneka ragam baik tradisional maupun modern, misalnya pegelaran seni tradisional Bali, pameran seni dan kerajinan, pentas musik jazz, band dan kabaret, parade budaya Nusa Dua, wisata kuliner dan sebagainya.

2. Pesta Kesenian Bali 
festival pkb
Pesta Kesenian Bali adalah wahana dalam pelestarian dan pengembangan kebudayaan Bali. Pesta Kesenian Bali (PKB) merupakan prakarsa dari mantan gubernur Bali yang sekarang sudah almarhum yaitu Prof. Dr. Ida Bagus Mantra pada tahun 1979.  Pesta Kesenian Bali biasanya diselenggarakan setiap bulan Juni - Juli yang tujuan utamanya adalah untuk memotivasi rakyat Bali dalam mempertahankan seni budaya dan juga menggali kembali seni budaya yang hampir punah agar tetap lestari. Pesta Kesenian Bali biasanya berlangsung sekitar satu bulan yang dibuka oleh pejabat-pejabat tinggi negara, seperti menteri hingga presiden.

Dalam pelaksanaannya, kegiatan pentas seni budaya tersebut berlangsung di Denpasar dengan menampilkan berbagai jenis kesenian Bali dengan masing-masing ciri khasnya dari seluruh kabupaten di Bali, seperti joged, gong kebyar, sendratari, arja, dan sebagainya. Seiring perkembangannya, Pesta Kesenian Bali juga dimeriahkan oleh pementasan seni budaya dari luar Bali termasuk juga penampilan budaya dari negara-negara tetangga.

3. Kuta Karnaval 
kuta karnaval
Acara tahunan ini dilatar belakangi oleh merosotnya sektor pariwisata setelah diguncang Bom Bali I pada tahun 2002. Maka pada tahun 2003, digagaslah pameran budaya dan seni yang diselenggarakan di pantai Kuta untuk membangkitkan kembali dunia pariwisata pulau Bali. Event ini biasanya dilaksanakan pada bulan September atau Oktober dengan mengusung tema-tema tertentu sesuai dengan kondisi kehidupan dunia yang sedang berlangsung, seperti Heal The World (Selamatkan Dunia), A Celebration Of Life (Perayaan Kehidupan), Light Up The World (Cerahkan Dunia), dan sebagainya.

Kuta Karnival telah mampu menjadi salah satu motor penggerak dunia pariwisata Bali, dan merupakan salah satu event favorit bagi wisatawan yang berlibur di Bali. Para tourist sangat antusias menyaksikan bahkan ikut serta terlibat dalam berbagai acara yang diselenggarakan, seperti karnaval busana, pentas seni, lomba-lomba unik, musik dan lainnya.

Terima kasih telah membaca tulisan ini, semoga dapat menambah wawasan Anda. Jika bermanfaat, jangan lupa share di akun media sosial Anda, seperti Facebook dan Twitter.

Sajian Informasi Terkait