Keuntungan Kredit Tanpa Agunan (KTA) Syariah

Untuk menarik minat masyarakat sekaligus juga memperluas pasar, bank syariah di Indonesia saat ini telah meluncurkan produk kredit tanpa agunan Syariah atau KTA Syariah. Untuk mendapatkan kredit ini, syarat pengajuannya tidak jauh berbeda dengan KTA pada bank konvensional.

Bagi Anda yang berencana untuk mengajukan kredit serta masih bingung dalam memutuskan KTA Syariah ataupun KTA konvensional, ada baiknya anda terlebih dahulu memahami perbedaan kedua produk perbankan tersebut.

syariah

Dalam KTA konvensional, pihak bank sebagai sebuah perusahaan berupaya mencari keuntungan dengan cara menambahkan bunga yang besarannya tergantung berbagai faktor, misalnya jumlah uang yang dipinjam debitur serta kurun waktu pelunasan pinjaman. Sedangkan dalam KTA Syariah tidak mengenal istilah bunga. Ini sesuai dengan syariat Islam, karena yang ada adalah sistem kemitraan dimana KTA syariah yang diberikan kepada debitur harus digunakan untuk hal-hal yang halal serta lebih diarahkan untuk produktivitas atau kemajuan ekonomi.

Secara umum produk KTA Syariah sebenarnya sudah juga mencakup pembiayaan multiguna sehingga dana yang dipinjam tersebut dapat digunakan oleh debitur untuk berbagai keperluan, misalnya pembiayaan umroh atau naik haji, untuk menambah modal usaha, membeli barang kebutuhan rumah tangga, untuk membeli kendaraan bermotor, bangunan, tanah atau juga investasi logam mulia. Dalam KTA Syariah, calon peminjam dana diberikan kebebasan untuk menentukan besaran plafon. Bahkan ada beberapa bank syariah di Indonesia yang bersedia menggelontorkan dana pinjaman lebih dari 100 juta rupiah.

Mengenal lebih dalam tentang perbedaan pinjaman Syariah dengan pinjaman konvensional


Beberapa poin yang mencolok dari perbedaan antara pinjaman syariah dan pinjaman konvensional antara lain:

Bunga vs tanpa bunga
Pada Kredit konvensional, peminjam dibebankan oleh bunga uang. Sedangkan dalam sistem Syariah, peminjam tidak dikenakan bunga karena dalam Islam bunga itu adalah riba dan riba hukumnya haram. Mereka menggunakan istilah akad murabahah (sistem jual beli), ijasah wah iqtina (sewa dengan perubahan kepemilikan), dan musyarakah mutanaqishah (capital sharing) yang sesuai dengan nilai-nilai dan syariat Islam.

Pada sistem jual beli atau murabahah, pihak bank syariah akan membelikan benda yang diinginkan oleh nasabah (pemohon kredit). Kemudian pihak bank akan menjual kembali barang tersebut kepada nasabah pemohon dengan margin tertentu. Misalnya seorang nasabah ingin memiliki sebuah rumah dengan cara mencicil. Pihak bank syariah akan membelikan rumah yang diinginkan oleh nasabahnya, kemudian dijual kepada nasabah dengan harga yang lebih tinggi dengan cara dicicil. Selisih dari harga jual beli rumah tersebut merupakan keuntungan yang didapatkan oleh pihak bank syariah.

Pembagian Risiko
Perbedaan lain juga terlihat dari pembagian resiko. Jika anda meminjam uang pada pinjaman konvensional, maka risiko sepenuhnya ditanggung oleh anda sendiri sebagai pelaku peminjam, mulai dari pokok pinjaman hingga bunganya harus dilunasi. Sedangkan pada pinjaman Syariah, pihak bank juga ikut menanggung sebagian risiko yang terjadi pada peminjam tersebut. Misalnya seorang nasabah meminjam dana sebesar 10 juta rupiah untuk berinvestasi Jika ternyata hasil investasi tersebut hanya menghasilkan Rp 6.000.000 maka pihak bank juga ikut menanggung sebagian kerugiannya. Dalam hal ini terjadi pembagian risiko antara kedua belah pihak.

Pernyataan Penggunaan Dana
Seseorang yang meminjam uang pada bank syariah harus membuat pernyataan penggunaan dana pinjaman dan pemakaiannya yang tidak boleh menyimpang dari kesepakatan bersama yang berasaskan nilai-nilai Islam. Jadi, pinjaman Syariah tersebut harus digunakan untuk usaha atau hal-hal yang halal (dirido'i Allah).

Produk Fasilitas dalam Pinjaman
Dari segi dokumen pengajuan pinjaman, persyaratan yang dibutuhkan pada pinjaman syariah dan pinjaman konvensional tidaklah jauh berbeda. Beberapa dokumen penting yang diperlukan antara lain: fotokopi KTP, bukti penghasilan atau juga surat keterangan usaha jika digunakan untuk modal usaha. Pada bank Syariah, ada beberapa produk fasilitas yang juga ditawarkan, yakni pembiayaan haji dan umrah.

Mengenal Modal Kerja dalam Sistem Syariah

Pinjaman modal kerja Syariah adalah jenis pinjaman jangka pendek yang digunakan untuk membiayai kebutuhan modal kerja (usaha) para nasabahnya. Pinjaman ini harus tetap berdasarkan prinsip-prinsip Syariah.

kta syariah
Apa itu modal kerja Syariah? Dalam konteks transaksi Syariah, kita dapat menguraikan beberapa komponen yang terdapat pada modal kerja Syariah, yakni meliputi likuid cash, hutang dagang, persediaan atau inventory yang mencakup bahan baku persediaan barang dalam proses dan persediaan barang jadi.

Pembiayaan likuiditas (cash financing)
Jika bisnis ataupun perusahaan dari seorang nasabah mengalami ketidak sesuaian antara cash inflow dan cash outflow bisa mengajukan kredit pembiayaan likuiditas. Fasilitas pinjaman yang dikenal dalam bank syariah disebut dengan qardh (timbal balik) atau compensating balance.

Pembiayaan piutang (receivable financing)
Ini adalah kebutuhan pembiayaan pada perusahaan yang menjual barangnya secara kredit kepada konsumen tetapi jumlah maupun kurun waktunya melebihi atau melewati kapasitas modal kerja yang dimiliki perusahaan. Artinya pihak perusahaan memiliki dana banyak, namun masih dikreditkan kepada konsumennya. Dalam sistem syariah, pihak bank akan memberikan fasilitas Anjak Piutang (factoring). Tidak ada imbalan yang diminta pihak bank, kecuali biaya administrasi dan penagihan. Pihak bank memberikan fasilitas pengambilalihan piutang yang diistilahkan dengan hiwalah. Jika piutang tersebut tidak berhasil tertagih, maka nasabah harus membayar kembali utangnya kepada bank.

Pembiayaan persediaan (inventori finansial)
Dalam upaya memenuhi kebutuhan terhadap pendanaan persediaan, pihak bank syariah memakai prinsip jual beli atau diistilahkan dengan Al-bai' dalam dua tahap, yakni: bank membeli secara tunai barang-barang yang dibutuhkan nasabah dan tahap kedua bank menjual kepada nasabah dengan pembayaran penuh, kemudian mengambil keuntungan sesuai dengan kesepakatan bersama. Adapun skema jual beli yang digunakan meliputi: Bai' al-Murabahah, Bai' al Istishna, dan Bai' as Salam.

Pembiayaan Modal Kerja untuk Perdagangan
Selain ketiga di atas, terdapat juga KTA untuk pembiayaan modal kerja untuk usaha perdagangan, baik itu perdagangan umum ataupun perdagangan berdasarkan pesanan.

Keuntungan Menggunakan Produk KTA Syariah

Jika anda berencana dan yakin untuk menggunakan produk bank syariah dalam hal ini kredit tanpa agunan Syariah, maka setidaknya ada tiga keuntungan yang bisa anda peroleh dibandingkan dengan KTA konvensional yakni: adanya jaminan halal, memiliki fasilitas yang hampir sama dengan bank konvensional, serta juga terbuka peluang kesempatannya untuk ibadah melalui sistem zakat karena 2,5% dari keuntungan yang diperoleh bank syariah akan disalurkan untuk kepentingan zakat.

Nah saat ini rata-rata bank syariah yang ada di Indonesia menyalurkan platform pinjaman yang besarannya mulai dari Rp5.000.000 hingga 200 juta rupiah dengan variasi waktu peminjaman mulai dari 1 tahun sampai 4 tahun. Meskipun KTA Syariah ini tidak ada agunan, tetap ada syarat dan aturan yang berlaku saat pencairan dana.

Terima kasih telah membaca tulisan ini, semoga dapat menambah wawasan Anda. Jika bermanfaat, jangan lupa share di akun media sosial Anda, seperti Facebook dan Twitter.

Sajian Informasi Terkait