12 Penyebab Korupsi Tumbuh Subur di Indonesia

Berdasarkan data riset yang dipublikasikan di laman Transparency International, tingkat persepsi korupsi Indonesia ternyata berada di peringkat ke 88 dari 168 negara yang disurvey. Hal ini menjadi indikasi bahwa Indonesia merupakan sebuah negara yang dianggap surganya bagi para koruptor. Meskipun telah ada lembaga negara yang khusus menangani masalah korupsi, namun tetap saja budaya korupsi tumbuh subur di negara tercinta ini. Mengapa hal ini bisa terjadi? Faktor apa saja yang membuat jumlah koruptor di Indonesia tak berkurang secara signfikan?

TIKUS KORUPSI

Usut punya usut, ternyata ada sejumlah kenikmatan yang bisa diperoleh di Indonesia bagi orang-orang yang berstatus sebagai koruptor. Apa sajakah kenikmatan surga yang dirasakan koruptor di Indonesia?

1. Vonis yang Terlalu Ringan
Menurut pendapat Aktivis Indonesia Corruption Watch Emerson Yuntho, seperti yang dilansir dari laman JPNN, mengungkapkan bahwa tuntutan dan vonis terhadap pelaku tindak korupsi di Indonesia boleh dikatakan terlalu ringan. ICW mencatat, sepanjang tahun 2015 rata-rata masa tuntutan tahanan yang ditujukan ke para koruptor hanya tiga tahun enam bulan penjara. Sedangkan vonis finalnya rata-rata hanya dua tahun penjara. Padahal mereka melakukan penggelapan uang miliaran rupiah. Daripada maling ayam yang bisa terkena hukuman 6 bulan penjara, tentu mereka lebih memilih korupsi ratusan juta rupiah dengan risiko jumlah hukuman yang tak jauh berbeda dengan maling ayam atau pencuri motor.

2. Cenderung Menghukum Penjara daripada Memiskinkan
Banyak pelaku koruptor yang lebih memilih dipenjara ketimbang segala hartanya disita alias dimiskinkan. Karena setelah lepas dari penjara, mereka bisa menikmati kembali kemewahan hasil korupsi tersebut. Oleh karena itu, untuk membuat jera atau mengurangi potensi niat korupsi, ada baiknya hukum penjara dan tindakan memiskinkan dilakukan secara bersamaan.

3. Tidak Bisa Menjamah Pihak yang Menikmati Hasil Korupsi
Emerson Yuntho juga menambahkan bahwa alasan ke tiga yang membuat Indonesia menjadi sarang emas bagi pelaku koruptor dan budaya KKN tetap eksis adalah karena yang dihukum hanya pelaku korupsi saja. Sedangkan pihak lain yang menikmati hasil korupsi tidak dihukum.

4. Hukuman Uang Pengganti Bisa Disubsider dengan Masa Tahanan
Dengan alasan tak memiliki yang yang cukup, hukuman uang pengganti yang harus dikembalikan ke kas negara ternyata bisa disubsider dengan tambahan masa tahanan. Tentu banyak pelaku koruptor yang lebih memilih masa kurungannya ditambah satu atau dua tahun ketimbang mereka harus menghabiskan hartanya untuk membayar uang pengganti.

5. Walau Terpenjara, Mereka Masih Menikmati Kemewahan Duniawi
Kita sering menyaksikan berita tentang berbagai kasus hidup mewah yang dirasakan koruptor di balik jeruji penjara. Ada kamar yang ber-AC, ada yang memiliki fasilitas salon, dan yang dulu paling menghebohkan publik adalah bisa jalan-jalan ke luar penjara (ke Bali) untuk menikmati pertandingan tenis internasional. Hal ini yang membuat banyak koruptor memiliki persepsi bahwa dipenjara ataupun tak dipenjara, tidaklah jauh berbeda.

6. Masih Bisa Ikut Pemilu
Para koruptor masih bisa berpartisipasi mengikuti panggung politik. Mereka bisa ikut pemilihan legislatif hingga kepala daerah. Hal ini karena hak politik mereka tidak dicabut, meskipun telah jelas-jelas merugikan negara dan rakyat Indonesia.

7. Masih Bisa Menerima Gaji Pensiunan
Hal yang cukup menjengkelkan menurut Emerson Yuntho adalah ternyata para koruptor yang menjadi pejabat publik masih mendapat pensiunan meski sudah berstatus terpidana. Padahal secara jelas mereka telah menyalahi dan melanggar tugas mereka sebagai pejabat publik, tapi masih tetap difasilitasi.

8. Tersangka Korupsi Tidak Ditahan atau Dicekal
Banyak tersangka korupsi yang masih bisa bernapas di luar penjara karena mendapat penangguhan penahanan. Mereka bisa bepergian ke luar rumah karena tidak dicekal. Bahkan ada juga tersangka korupsi yang tidak ditahan selama tiga tahun. Harusnya, penahanan digunakan untuk memaksimalkan dan membuat malu koruptor.

9. Tetap Bisa Berbisnis Meski Di Dalam Penjara
Surga lain bagi para koruptor di Indonesia menurut Emerson Yuntho adalah ternyata mereka masih bisa menjalankan dan mengendalikan bisnis atau perusahaan mereka dari dalam penjara. Mungkin mereka masih bisa leluasa memakai perangkat komunikasi yang seharusnya terbatas digunakan.

10. Walau Jadi Tersangka Masih Tetap Menjabat
Sering kita melihat beberapa pejabat publik yang terseret kasus korupsi dan telah menjadi tersangka masih tetap menduduki kursi jabatannya. Mereka seolah-olah enggan untuk melepaskan jabatannya, selama vonis palu hakim belum diketuk. Bahkan atasannya pun masih pikir-pikir untuk mencabut jabatannya tersebut. Hal ini berbeda dengan karakter orang-orang Jepang yang langsung lepas jabatan ketika dirinya terkena rumor korupsi. Mungkin budaya malu di Indonesia sudah mulai memudar.

11. Masih Bisa Tampil Mewah dan Modis
Cuma di Indonesia tersangka korupsi bisa tampil mewah dan perlente saat hadir di ruang sidang. Padahal mereka seharusnya dipaksa memakai baju tahanan korupsi, meskipun masih status tersangka.

12. Belum Ada Lembaga Anti Korupsi yang Hebat
Di Indonesia, lembaga yang ditugaskan untuk menangani tindak korupsi adalah KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). Mungkin anda setuju jika kinerja dan prestasi komisi ini cukup luar biasa. Banyak kasus korupsi yang sudah berhasil dibongkar. Tetapi, apakah anda yakin mereka sudah hebat? Tampaknya belum! Mengapa? Karena banyak pihak yang mencoba membuat lembaga ini menjadi lemah dan tak bertaring. Berbagai cara dilakukan, mulai dari membidik sang ketua, merombak susunan keanggotaannya, hingga dengan dalil mengubah undang-undang terkait fungsi dan peran KPK. Ketika lembaga pemberantasan korupsi ini telah menemukan bentuk dan formatnya yang tangguh, maka mereka akan dilemahkan dengan berbagai cara. Entah siapa dibalik skenario tersebut. Ketika hal ini terjadi, maka tak akan ada kasus besar yang bisa terungkap, dan inilah hal yang menjadi surganya bagi para koruptor.

Terima kasih telah membaca tulisan ini, semoga dapat menambah wawasan Anda. Jika bermanfaat, jangan lupa share di akun media sosial Anda, seperti Facebook dan Twitter.

Sajian Informasi Terkait