Ini Strategi Grab Taxi Menghadapi Persaingan Bisnis

Bisnis jasa layanan taksi ala Grab Taxi terus terlihat mengalami pertumbuhan positif. Bahkan menurut sang pendiri, Anthony Tan, perusahaanya siap menjadi perusahaan taxi terbesar di Asia. Ia mengaku tak terlalu khawatir ekspansi perusahaan sejenis, terutama Uber yang semakin memperluas jangakauan layanannya. Dengan menjadi pemain utama di kawasan Asia, Anthony Tan optimis mampu bersaing dengan perusahaan sejenis.

Uber Taxi telah mengungkapkan bahwa fokus bisnisnya di tahun ini adalah menyasar konsumen Asia. Dengan nilai perusahaan yang telah mencapai angka 62,5 miliar dolar serta tambahan suntikan dari sebesar 2 miliar dolar dari investor China, maka Uber Taxi punya kemampuan lebih untuk menguasai pasar Asia.

GRAB TAKSI

Namun, Grab Taxi juga tak ingin layanannya terjungkal oleh (ehadiran Uber Taxi. Seperti yang kita ketahui, GrabTaxi telah melakukan ekspansi ke 28 kota di enam negara Asia Tenggara. Posisi tersebut membuat brandnya makin populer di Asean. Di wilayah ini, Tan yakin aplikasi dan layanannya lebih unggul dibanding Uber Taxi.  Ia pun berupaya meningkatkan layanan kepada konsumen, menjalin kerjasama yang baik dengan para pengemudi, serta strategi yang juga diterapkan adalah menjalin kemitraan dengan pemerintah setempat.

Untuk semakin memperluas jangkauan layanannya, Grab Taxi telah melakukan kerjasama dengan beberapa perusahaan serupa di berbagai negara. Tercatat pada Desember lalu,  perusahaan yang berdiri tahun 2011 itu telah menjalin kemitraan dengan 3 perusahaan serupa, yakni Ola di India, Didi Kuaidi di China, dan Lyft di Amerika Serikat. Jalinan kerjasama global tersebut bertujuan untuk memenangi kompetisi bisnis dengan menghadirkan layanan taksi 'bercita rasa lokal'. Kerjasama dalam satu layanan tersebut bertujuan untuk menciptakan dan menyediakan satu aplikasi sama yang bisa digunakan di mana saja di sejumlah negara tujuan, mulai dari New York ke Singapura, Beijing, hingga Mumbai.

Untuk memenangi kompetisi bisnis di sektor layanan transportasi ini, Anthony berupaya melakukan berbagai pendekatan ke pemerintah di sejumlah negara. Layanan taksi dari perusahaan startup Malaysia ini telah mengantongi izin resmi di berbagai negara, seperti Vietnam, Singapura, dan Filipina. Perusahaanya juga telah merekrut Taman Narayanan, mantan pentolan Microsoft, sebagai penasihat teknis untuk membantu mengembangkan Grab Taxi menjadi perusahaan penyedia layanan taksi yang kompetitif.

Terima kasih telah membaca tulisan ini, semoga dapat menambah wawasan Anda. Jika bermanfaat, jangan lupa share di akun media sosial Anda, seperti Facebook dan Twitter.

Sajian Informasi Terkait