Cara Jepang Hadapi Deflasi dengan Suku Bunga Negatif

Memang benar kata pepatah lama, "Apapun yang berlebihan adalah hal yang tidak baik". Ketika terjadi inflasi tinggi yang menyebabkan harga barang naik berlipat-lipat, maka konsumen akan kelimpungan. Negara pun harus berpikir keras untuk meredam laju inflasi dan mengendalikan harga. Sedangkan ketika deflasi terjadi yang berdampak pada penurunan harga, maka para pengusaha yang kelimpungan, dan negara pun harus mengambil langkah ekstra agar deflasi dan inflasi berada dalam kondisi seimbang. 

Penurunan harga membuat investor dan pengusaha akan menunda untuk melakukan investasi dan membuka lapangan kerja baru. Ini adalah sesuatu yang tidak baik bagi kesehatan perekonomian suatu negara, dan harus segera dicarikan solusinya. Lalu, kebijakan apa yang mesti ditempuh oleh pemerintah? Salah satunya adalah dengan menerapkan suku bunga negatif. Penerapan kebijakan suku bunga negatif pertama kali diterapkan oleh European Central Bank (ECB) tahun 2014 lalu, dan kini mulai diikuti oleh Jepang, melalui Bank sentral Jepang (BoJ).

bunga negatif

Penerapan suku bunga negatif tersebut bertujuan untuk memacu pinjaman dengan membuat inflasi ke arah target 2% seperti yang diinginkan pemerintah Jepang. Tingkat suku bunga -0,1 persen yang telah diperkenalkan oleh BoJ memiliki konsekuensi bahwa semua bank yang memarkir uangnya di Bank Sentral akan mendapatkan bunga minus atau dengan kata lain terjadi pemotongan atas simpanan yang mereka lakukan. Dengan cara ini, pihak bank akan berupaya menarik uangnya untuk diedarkan atau dipinjamkan ke masyarakat dengan bunga rendah. Dengan langkah itu, masyarakat akan tergoda untuk melakukan pinjaman, baik untuk kebutuhan usaha maupun konsumsi. Pada gilirannya, hal itu akan menggerakkan roda perekonomian karena peredaran dan transaksi uang semakin banyak terjadi.

Sebenarnya, pemerintah Jepang telah berupaya mengatasi deflasi dengan menerapkan suku bunga hingga dekat dengan nol persen, namun masih belum mampu menggerakkan ekonomi. Suku bunga rendah cenderung membuat rumah tangga dan pebisnis menarik uangnya dari bank untuk konsumsi atau investasi yang lebih menguntungkan. Secara teori, ini akan mendorong peningkatan kegiatan ekonomi yang berdampak harga-harga naik. Dengan adanya kenaikan harga berarti keuntungan yang diperoleh pengusaha menjadi lebih tinggi. Hal ini akan membuat investor tertarik untuk membangun bisnis di Jepang. Deflasi yang dihadapi Jepang telah menjadi salah satu momok yang terjadi dalam dua dekade terakhir.

Terima kasih telah membaca tulisan ini, semoga dapat menambah wawasan Anda. Jika bermanfaat, jangan lupa share di akun media sosial Anda, seperti Facebook dan Twitter.

Sajian Informasi Terkait