Tips Menjadi Tim Seleksi Wawancara Kerja

Sebagai manajer baru di sebuah perusahaan, salah satu tugas yang mungkin kelak akan anda lakukan adalah melakukan rekrutmen karyawan baru untuk memenuhi kebutuhan personal tenaga kerja di kantor anda. Salah satu tahapan seleksi yang umumnya dilakukan adalah tes wawancara. Nah sebagai manajer baru, cara anda menangani proses wawancara kerja serta sistem rekrutmennya akan menjadi tolak ukur penilaian bagi manajer lain ataupun atasan anda. Jika anda mampu menangani proses seleksi tersebut dengan baik dan mampu menjaring tenaga kerja yang kompeten, maka pengalaman perekrutan itu bisa menjadi peluang bagus dan nilai positif bagi jenjang karir anda di masa mendatang. Sedangkan bila yang terjadi adalah sebaliknya, maka anda akan mempertaruhkan jabatan anda sendiri. Artinya, semua manajer veteran dan kompetitor anda akan fokus mengamati bagaimana usaha anda dalam membentuk sebuah tim kerja yang layak.

Jika anda ingin menjadikan proses rekrutmen tenaga kerja sebagai landasan dalam membangun karir anda, maka anda harus fokus dengan berpanduan pada poin-poin berikut, seperti yang dikutip dari Gulf News.

Bicara Atas Nama Perusahaan
Tim seleksi wawancara kerja
Dalam proses wawancara kerja, anda wajib berbicara atas nama perusahaan, bukan berpatokan pada kepentingan dan keinginan pribadi. Jika anda merasa masih baru dalam tugas ini dan masih belum 100% memahami ruang lingkup perusahaan, maka banyak-banyak bertanya pada orang lain yang telah berpengalaman, atau juga bertanya pada bagian Human Resources (HR), terutama yang menyangkut tentang gambaran lengkap dari syarat-syarat dan lingkup tanggung jawab pekerjaan, termasuk kebutuhan perusahaan. Ini merupakan tahapan Anda dalam menanggapi situasi dengan mempersiapkan proses wawancara secara ekstensif. Selain itu, hal lain yang patut anda sadari adalah sejauh mana batas kemampuan dan lingkup wawancara Anda.

Selalu Menjaga Sikap
Ada kalanya seorang manajer terlihat kurang profesional ketika sedang berada pada situasi informal, bahkan termasuk membicarakan atau berkomentar tentang calon - calon karyawannya, yang mungkin merupakan komentar off the record. Hal ini merupakan sesuatu yang manusiawi, meskipun sejatinya kurang baik diperlihatkan, apalagi oleh seorang manajer baru. Ini berarti Anda perlu menjaga komentar - komentar yang tidak perlu, dan hindari ikut-ikutan manajer lain yang sudah lama bekerja di perusahaan tersebut. Selain komentar lisan, anda juga wajib menjaga komentar tulisan anda, misalnya komentar email atau jejaring sosial yang bisa dianggap sebagai diskriminatif atau menghina.

Selalu Fokus pada Poin Wawancara
Bagaimana caranya fokus pada poin wawancara? Hal yang mungkin bisa anda terapkan adalah meninjau daftar pertanyaan Anda saat menjelang wawancara dengan anggota manajemen lainnya. Dalam proses interview tersebut, mungkin saja di antara peserta ada yang mengajukan pertanyaan atau komentar yang tak terduga kepada anda, yang menuntut anda untuk menanggapinya, misal anda harus menjawab pertanyaan tentang keuangan perusahaan saat ini, perencanaan bisnis masa depan atau pertanyaan latar belakang pribadi. Ini bisa menjadi isu sensitif yang dapat menimbulkan stress bagi anda. Janganlah melakukan improvisasi jika anda merasa kurang nyaman atau kurang menguasai situasi dan materi wawancara. Intinya adalah menjaga topik wawancara tetap pada jalurnya, dan menghindari "out of the topic" karena terkecoh komentar dari peserta wawancara.

Lakukan Seleksi yang Tepat
Dalam perekrutan calon karyawan baru, harus didasarkan pada kebutuhan perusahaan, namun bukan berarti anda terobsesi pada satu titik saja. Misalnya, jika calon kurang berpengalaman pada bidang tertentu, catatlah masalah ini dan lanjutkan wawancara. Jangan menjadikannya sebagai bahan argumen untuk menolak atau menerima dia saat itu juga. Nah, jika anda melihat seorang calon sebagai sosok pengganti yang tepat pada posisi anda di masa depan atau sebagai calon yang mungkin akan menjadi ancaman terhadap posisi Anda di masa depan, maka anda harus menangani situasi wawancara dengan sangat berhati-hati.

Tekankan pentingnya keterampilan tambahan untuk membantu membangun sebuah tim yang hebat, meskipun keterampilan tambahan itu saat ini bukanlah merupakan kebutuhan mendesak dari perusahaan.

Terima kasih telah membaca tulisan ini, semoga dapat menambah wawasan Anda. Jika bermanfaat, jangan lupa share di akun media sosial Anda, seperti Facebook dan Twitter.

Sajian Informasi Terkait