Perbandingan Perbankan Islam di Indonesia dan Iran

Dalam pelaksanaannya, praktik perbankan Islam di Indonesia dengan di Iran tidaklah sama, meskipun mengusung konsep yang sama. Di negara yang beribu kota Teheran tersebut, perbankan Islam didukung sepenuhnya oleh pihak pemerintah, sementara di Indonesia lebih banyak awalnya digerakkan oleh masyarakat dan organisasi kemasyarakatan. Di Indonesia, pemerintah belum memiliki kuasa penuh dalam menetapkan keuangan Islam dari atas ke bawah (top down).

Hal ini diungkapkan oleh Direktur Program Pascasarjana STIE Ahmad Dahlan Fathurrahman Djamil, seperti yang dikutip dari Republika. Berbeda dengan pemerintah Iran yang memiliki aturan secara menyeluruh, sehingga implementasi perbankan Islam di sana tinggal top down.

Menurut Fathurahman dalam sebuah seminar bertema komparasi perbankan Islam di Indonesia dan Iran di STIE Ahmad Dahlan, Sabtu (10/10), menyatakan, "Tapi dengan perkembangan saat ini, lumayan lah, walau Indonesia bukan negara Islam,''

bank central iran

Fathurrahman juga menambahkan bahwa ideologis kapitalis yang menjadi pondasi ekonomi negara-negara barat masih inheren dengan Indonesia, meskipun sudah berusaha ditekan dengan asas ekonomi kerakyatan.

Perbankan Islam tumbuh di Indonesia diawali dari diskusi keuangan Islam yang digelar oleh Majelis Ulama Indonesia MUI yang dasarnya didorong oleh keinginan beberapa kelompok masyarakat di Indonesia.

Atas dasar tersebut, pada tahun 1990 Majelis Ulama Indonesia akhirnya membentuk Tim Perbankan Islam. Kemudian dua tahun berikutnya telah diterbitkan aturan yang menjadi landasan berdirinya lembaga keuangan berbasis Islam. Sehingga tepat di tahun 1992, berdirilah sebuah bank Islam pertama. Barulah pada tahun 2008 muncul undang-undang tersendiri mengenai perbankan syariah.

Dalam operasionalnya, perbankan Islam di Indonesia di atur oleh tiga otoritas, yakni Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI. Dalam lembaga OJK, terdapat tim yang bertugas mengimplementasikan fatwa DSN dalam aturan OJK.

Terima kasih telah membaca tulisan ini, semoga dapat menambah wawasan Anda. Jika bermanfaat, jangan lupa share di akun media sosial Anda, seperti Facebook dan Twitter.

Sajian Informasi Terkait