Uber Taxi, Perjalanan Sukses di Tengah Pro Kontra

Ide brilian yang muncul karena ingin memberikan solusi ternyata akhirnya berbuah manis. Hal inilah yang dialami oleh Travis Kalanick, CEO sebuah perusahaan layanan jasa taksi yang bernama Uber. Sekitar 5 tahun lalu, terobosan di bidang jasa transportasi tercipta dari sebuah perusahaan pemula bernama UberCab. Layanan jasa taksi yang berasal dari San Francisco ini menjadi salah satu jasa moda transportasi favorit masyarakat di Amerika Serikat karena inovatif dan modern, dimana konsumen dapat memesan taksi hanya cukup dengan menggunakan aplikasi smartphone saja.

Sejak saat itu, cakupan operasional dari perusahaan yang lebih dikenal sebagai Uber tersebut telah menyebar ke berbagai negara di dunia, bahkan juga termasuk Indonesia. Hingga kini, Uber Taxi sudah melayani konsumen di 58 negara dan nilai dari perusahaan ini ditaksir mencapai lebih dari USD50 miliar.

taksi uberSaat ini konsep layanan taksi Uber telah ditiru oleh beberapa perusahaan taksi dan angkutan umum di beberapa negara, bahkan juga layanan jasa ojek sepeda motor di Indonesia. Di balik kesuksesannya kini, sang CEO Travis Kalanick sebagai perintis yang membangun Uber menjadi perusahaan terkemuka di dunia, ternyata mengalami berbagai jenis hambatan dan tantangan yang tidak mudah, khususnya berkompetisi dengan perusahaan armada taksi konvensional, serta juga hadangan yang terkait dengan regulator, mengingat jasa layanan mobil berplat hitam menjadi perusahaan angkutan umum bukanlah hal yang mudah diterima (melanggar aturan). Selain itu, perusahaan Uber juga telah terjepit dengan beberapa ancaman lainnya, seperti industri taksi dan bahkan kompetensi drivernya sendiri. Meski demikian, ternyata valuasinya terus mengalami kenaikan, dan hal itulah yang menjadi menarik lebih banyak investor.
Uber Taxi didirikan pada bulan Maret 2009, dimana versi pertama ini dibangun oleh Garrett Camp, Oscar Salazar, dan Conrad Whelan, dengan Kalanick menjadi penasehat utama. Kemudian pada bulan Juni 2010, taxi Uber diluncurkan di San Fransisco. Layanan ini menjadi hits di kota tersebut, meskipun saat itu tarifnya 1,5 kali lebih mahal dari taksi biasa. Kemudian pada Oktober 2010, perusahaan startup ini mendapatkan bantuan modal dari investor sebesar 1,25 juta dolar amerika. Enam bulan berikutnya, tepatnya pada Mei 2011, layanan taksi Uber beredar di kota New York yang merupakan salah satu pasar terbesar dan menuai banyak kontroversi.

Di penghujung tahun 2011, layanan Uber merambah pasar internasional yang dimulai dari kota Paris, selanjutnya ke India dan Afrika pada Agustus 2013. Pada April 2014, Uber memperkenalkan layanan UberRush yang membawa pengiriman sepeda ke Manhattan. Dua bulan berikutnya, Uber memasuki pasar China. Berbagai modal yang masuk ke perusahaan ini membuat valuasi Uber mencapai USD17 miliar. Di awal tahun 2015, Uber meluncurkan UberCARGO di Hong Kong. Pada bulan Maret 2015, Uber melakukan akuisisi pertamanya, yakni aplikasi pemetaan bernama deCarta, dengan tujuan untuk mengurangi ketergantungan pada Google Maps. Sebulan kemudian, empat kota yakni Los Angeles, Barcelona, Chicago, dan New York, dipakai sasaran awal dalam layanan jasa antar makanan on-demand bernama UberEATS.

Pada bulan Juni 2015 lalu di kota Paris, terjadi unjuk rasa yang dilakukan para driver (sopir) taksi konvensional untuk menentang layanan Uber. Kemudian pada September 2015, Uber China menyuntik dana sebesar USD1,2 miliar untuk membantu layanan taksi ini dalam pertarungan di pasar China, dimana pesaing utama dan terbesarnya adalah Didi Kuaidi, sebuah layanan transportasi yang memiliki konsep serupa.

Terima kasih telah membaca tulisan ini, semoga dapat menambah wawasan Anda. Jika bermanfaat, jangan lupa share di akun media sosial Anda, seperti Facebook dan Twitter.

Sajian Informasi Terkait