Ternyata Investasi Property Bisa Juga Turun

Sebagian masyarakat tentu memiliki anggapan bahwa berinvestasi di bidang properti, seperti tanah dan bangunan, merupakan investasi yang paling aman dan juga menguntungkan. Hal ini karena harga jual properti cenderung tidak pernah mengalami penurunan,  bahkan sebaliknya selalu naik dari tahun ke tahun. Namun, menurut salah seorang pebisnis properti Ali Tranghanda yang menjabat sebagai Direktur Eksekutif Indonesia Property Wacth, mengungkapkan bahwa harga properti tak selamanya manis, terutama ketika anda menjualnya ke pasar sekunder atau hunian bekas.

Ketika Anda membeli sebuah rumah atau apartemen (properti), maka tak selamanya nilai jual yang akan anda peroleh dalam 1- 2 tahun ke depan menjadi lebih mahal dari harga awal, apalagi ketika pasar properti sedang mengalami kelesuan. Hal ini biasanya disebabkan karena pihak pengembang menjual harga di pasar primer (hunian baru) yang di luar dari semestinya atau harga tinggi (over value).

investasi properti
Situasi ini terjadi tatkala pihak pengembang mencoba meraup  untung  besar dari margin penjualan proyek propertinya. Prinsipnya adalah kalau bisa jual 2 miliar, kenapa harus jual 1miliar. Saat kondisi ekonomi sedang berada tren positif, biasanya apa yang ditawarkan pihak pengembang akan laku terjual, meskipun dengan bandrol harga yang tinggi. 

Nah, ketika si pembeli ingin menjual kembali properti huniannya, maka harga jual yang bisa laku tak bisa lebih tinggi dari yang dijual pengembang, atau paling tidak sama saat dia dulu membelinya.

Ali berpendapat bahwa hal tersebut bukan saja karena faktor lesunya atau lambatnya ekonomi, tetapi karena pihak pengembang yang terlalu tinggi menjual propertinya, sementara pasar belum siap menyerap dengan baik. Contohnya harga properti di Kelapa Gading yang pernah mengalami penurunan.

Terima kasih telah membaca tulisan ini, semoga dapat menambah wawasan Anda. Jika bermanfaat, jangan lupa share di akun media sosial Anda, seperti Facebook dan Twitter.

Sajian Informasi Terkait