Sejarah Dolar Menjadi Mata Uang Terkuat di Dunia

Di beberapa negara, seperti kawasan Asia, mata uang milik Amerika Serikat, yakni dollar Amerika (USD) bisa menjadi momok yang merisaukan para pelaku ekonomi. Akhir-akhir ini, negeri Paman Sam tersebut sedang berupaya kembali berdiri menjadi raksasa ekonomi dunia setelah sempat terpuruk menghadapi resesi ekonomi tahun 2008 lalu. Bangkitnya keperkasaan ekonomi Amerika Serikat dapat kita lihat dari semakin kuatnya nilai tukar mata uangnya. Negara China, Malaysia, Indonesia, juga Australia merupakan beberapa diantara banyak negara yang terkena imbasnya. 

Baca juga: Cara Malaysia dan Thailand melawan tekanan dolar Amerika

mata uang dolar amerikaKekuatan mata uang Dolar Amerika Serikat ternyata cukup signifikan sehingga sering menjadi penentu dan mempengaruhi mata uang negara lain. Hal ini menimbulkan sebuah pertanyaan: Mengapa dolar bisa memberi pengaruh yang cukup besar serta menjadi acuan di seluruh dunia untuk nilai tukarnya? Apa yang menyebabkannya begitu istimewa?

Berdasarkan sejarah perekonomian dunia, mata uang dolar telah memiliki kekuatan besar setelah berakhirnya Perang Dunia II. Tapi sebenarnya, jauh sebelum itu, kekuatan ekonomi negara Amerika Serikat telah menunjukkan keperkasaannya sejak tahun 1870-an, dan bahkan menjadi salah satu negara yang menguasai perdagangan dunia di tahun 1900. Penguasaan Amerika Serikat terhadap ekonomi dan perdagangan dunia kala itu tidak serta merta membuat mata uangnya menjadi terkuat, karena Amerika Serikat belum memiliki bank sentral, sehingga tingkat kepercayaan para pemilik modal (investor) belum optimal.

Kemudian mata uang dolar menjadi memiliki kedudukan penting setelah diterbitkannya Undang Undang Bank Sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve Act pada 1913. Peraturan tersebut berhasil menjadi pendorong yang cukup substansial dalam perluasan penggunaan dolar pada sektor perdagangan internasional dan juga transaksi keuangan.

Selain itu, pemicu eksternal juga mempengaruhi kekuatan dolar di dunia internasional. Misalnya, ketika awal dimulai Perang Dunia Pertama, negara - negara yang terlibat pada perang tersebut memerlukan dana cair untuk membiayai perang, sehingga mereka menunda untuk menukar cadangan devisanya dengan emas, dan lebih memilih untuk mencetak uang mereka sendiri. Kondisi inilah yang mendorong posisi mata uang dolar menjadi mata uang cadangan devisa.

Di tahun 1920-an, nilai mata uang dolar mampu menyalip kedigdayaan mata uang Inggris, yakni Poundsterling, sehingga sejak saat itu dolar Amerika menjadi pusat sistem moneter global. Kemudian pada tahun 1945, dicetuskanlah kesepakatan Bretton Woods, yakni sebuah sistem perekonomian dunia yang dihasilkan dari konferensi produk kerjasama antara Amerika Serikat dan Inggris. Hal ini bertujuan untuk meredam terjadinya kompetisi mata uang yang cukup intens yang menjadi salah satu faktor penghambat sektor perdagangan dunia, apalagi setelah masa Great Depression. Dengan penerapan sistem tersebut, mata uang lain dibandingkan terhadap Dolar, dimana juga bisa dibandingkan dengan emas. Sejak saat itu, keperkasaan dolar terkukuhkan dan dijadikan acuan pertukaran mata uang.

Pada tahun 1970-an, standarisasi pertukaran emas telah berakhir. Namun hal itu tidak membuat posisi dolar tergoyahkan di pasar keuangan internasional. Hal lain yang juga membuat dolar semakin kuat posisinya di kancah global adalah adanya ketimpangan yang semakin lebar antara perekonomian AS dan negara-negara lain di dunia, khususnya negara-negara berkembang.

Terima kasih telah membaca tulisan ini, semoga dapat menambah wawasan Anda. Jika bermanfaat, jangan lupa share di akun media sosial Anda, seperti Facebook dan Twitter.

Sajian Informasi Terkait