4 Tanda Bank Akan Bangkrut Saat Krisis Ekonomi

Ekonomi Indonesia terlihat agak memburuk di tahun 2015 ini, sehingga masyarakat khawatir krisis 1998 bisa terulang kembali. Dimana kala itu, terjadinya lonjakan kredit macet yang membuat sejumlah bank mengalami kebangkrutan dan menutup operasionalnya. Kegagalan operasional bank atau risiko sistemik dapat memberikan pengaruh dan dampak dalam jangka panjang bagi perekonomian. Jika dibandingkan dengan pemilik modal atau pemegang saham, yang lebih besar akan merasakan tekanan dampak tersebut adalah masyarakat.

Jika krisis tahun 98 terulang kembali yang menyebabkan banyak mengalami kebangkrutan, maka pihak yang paling dirugikan adalah para nasabah. Perbankan yang kolaps akan memberikan imbas signifikan ke para pengusaha karena kesulitan memperoleh kredit yang pada gilirannya membuat perekonomian tidak berjalan. Risiko utama yang menjadi ancaman kelangsungan suatu bank terdiri dari 4 macam, yakni risiko kredit, risiko pasar, risiko operasional dan risiko likuiditas.

krisis ekonomi bank bangkrut
Apa itu resiko kredit? Risiko ini terjadi akibat kegagalan bayar dari para debitur atau para peminjam dana di bank. Beberapa hal yang menyebabkan munculnya risiko ini diantaranya kredit macet, transaksi forward atau derivatif (treasury), investasi dan pembiayaan perdagangan. Kemudian jenis risiko ke dua sebagai penyebab bank mengalami kebangkrutan adalah risiko pasar yang timbul akibat adanya perubahan suku bunga dan nilai tukar. Misalnya, bank merugi karena adanya kenaikan suku bunga yang mengakibatkan harga obligasi turun.

Risiko yang juga menjadi ancaman adalah risiko operasional yang umumnya menyangkut masalah faktor sistem, baik itu terkait teknologi yang digunakan maupun karena faktor manusia. Contoh kasusnya adalah jaringan yang diretas atau sistem offline pada ATM.

Risiko terakhir adalah risiko likuiditas. Risiko ini lebih umum disebabkan oleh ketidakmampuan bank dalam memenuhi kewajiban-kewajibannya yang telah jatuh tempo dari sumber pendanaan arus kas atau pun yang berasal dari aset likuid berkualitas tinggi yang dapat diagunkan.

Selain keempat risiko utama yang telah dipaparkan di atas, bank juga berhadapan dengan beragam risiko lainnya, misalnya risiko reputasi, risiko strategik, risiko hukum, dan risiko kepatuhan.

Dalam upaya menghindari kegagalan bank, maka pihak regulator atau pembuat kebijakan harus menyusun aturan yang mengatur kecukupan modal dan juga likuiditas. Hal inilah yang menjadi kunci utama agar kesehatan perbankan dapat tetap terjaga dan terhindar dari risiko sistemik.

Terima kasih telah membaca tulisan ini, semoga dapat menambah wawasan Anda. Jika bermanfaat, jangan lupa share di akun media sosial Anda, seperti Facebook dan Twitter.

Sajian Informasi Terkait