Pengaruh Ekonomi China terhadap Dunia

Luas wilayah dan jumlah penduduk yang besar yang dimiliki negara China membuat negeri ini menjadi salah barometer dunia, baik dari segi sosial, politik, budaya, keamanan hingga ekonomi. Di pertengahan tahun 2015 ini, kondisi perekonomian negeri tirai bambu tersebut sedang menghadapi perlambatan. Tak ayal, hal tersebut memberi pukulan berat bagi beberapa negara lain di dunia, khususnya di kawasan Asia.

Negara dengan perekonomian terbesar ke dua di dunia ini tengah menjadi sorotan para ahli ekonom di setiap negara, karena kebijakan - kebijakan yang diambil pemerintah China sering berdampak besar bagi kondisi perekonomian global, misalnya kebijakan devaluasi mata uang China (Yuan) yang sempat bikin heboh dunia.

ekonomi chinaPerlambatan ekonomi negeri China menciptakan rasa kekhawatiran yang dirasakan banyak pihak, seperti para perusahaan raksasa dunia. Dalam laporan CNN yang dikutip pada 28 Agustus 2015 kemarin, perlambatan ekonomi Tiongkok tersebut diprediksi akan menular ke beberapa perekonomian negara di kawasan Amerika Latin. Demikian pula perusahaan-perusahaan di Eropa yang nilai profitnya diperkirakan akan turun tajam. Bahkan beberapa negara berkembang di Asia tertekan mata uangnya.

Seperti yang kita ketahui, negara China dengan jumlah penduduk miliaran orang, merupakan pangsa pasar yang besar bagi para perusahaan - perusahaan dunia, termasuk perusahaan asal Amerika Serikat, seperti Apple dan Microsoft yang mengalami penurunan penjualan dalam tahun ini.

Chili yang merupakan negara dengan stabilitas ekonomi yang kuat juga mengalami tren penurunan. Jumlah ekspornya saat ini terjun 25% akibat perlambatan ekonomi China. Negara yang beribukota Santiago de Chile tersebut pada tahun ini memprediksi ekonominya hanya mampu tumbuh pada kisaran 1,8%. Sementara sejak 2010-2013, ekonomi China tumbuh rata-rata 4%. Selain itu, negara-negara yang memiliki hubungan dagang dengan China, seperti Brasil, Jepang, dan juga Indonesia juga mengalami nasib serupa. Berkurangnya jumlah pembelian barang maupun komoditas juga membuat harga komoditas turun.

Secara tidak langsung, perusahaan-perusahaan otomotif seperti Ford, BMW, dan Volkswagen diperkirakan juga akan mengalami penurunan penjualan karena perlambatan China. Selain itu, beragam produk bermerek kelas dunia seperti Prada dan Coach juga akan mengalami hal yang serupa.

Ancaman di-PHK-nya 5.000 karyawan juga sedang membayangi perusahaan baja asal Australia, Bluescope Steel. Perusahaan tersebut menyatakan satu pabriknya kemungkinan akan ditutup karena penurunan permintaan dari China, dan rendahnya harga komoditas. 

Ketika China melakukan kebijakan devaluasi atau melemahkan nilai tukar mata uangnya, maka yang terjadi adalah sektor finansial dunia menjadi terguncang. Para investor dengan segera mengambil langkah aman, yakni menarik modalnya di pasar keuangan yang mengakibatkan bursa saham dunia berjatuhan. Tak ayal, negara-negara yang merasa terkena imbasnya berusaha mengambil langkah-langkah strategis dalam menghadapi kondisi tersebut.

Namun setelah bank sentral China melakukan pemangkasan suku bunga acuan untuk mendorong perekonomiannya, kini tampaknya kondisi ekonomi dunia mulai berangsur-angsur stabil.

Terima kasih telah membaca tulisan ini, semoga dapat menambah wawasan Anda. Jika bermanfaat, jangan lupa share di akun media sosial Anda, seperti Facebook dan Twitter.

Sajian Informasi Terkait