Model Kerjasama Usaha Ternak Sapi Indukan Bantuan Pemerintah

Kebutuhan terhadap daging sapi di Indonesia cukup banyak, sementara jumlah pasokan yang bisa tersedia cukup terbatas. Hal inilah yang membuat pemerintah memberikan akses untuk para pengimpor untuk mendatangkan produk daging sapi dari luar negeri. Jumlah pasokan daging sapi yang terbatas yang didapatkan dari petani lokal disebabkan oleh beragam faktor.

Reproduksi sapi bakalan yang digunakan untuk suplai daging di Indonesia mengalami kendala karena minimnya ketersediaan sapi indukan. Pihak swasta pun enggan untuk menggarap pengembalian sapi gundukan karena biaya pemelihaannya yang tinggi. Seperti yang kita ketahui, bahwa sapi indukan harus dipelihara selama kurang lebih 3 tahun untuk dapat menghasilkan sapi bibit.

Lamanya waktu pemeliharaan tersebut tentu akan membuat modal yang dikeluarkan tak bisa kembali dalam waktu singkat. Selain itu, jumlah biaya yang dikeluarkan untuk penyediaan pakan, kandang, vaksin, dan berbagai perawatan lainnya juga cukup tinggi. Hal inilah yang membuat pihak swasta kurang greget dalam membidik bisnis peternakan sapi indukan.

Berlatar hal itu, pemerintah akan berupaya mengatasi permasalahan tersebut dengan cara memberikan insentif pembagian sapi indukan kepada peternak atau pihak swasta yang tertarik dengan skema kerjasama.

peternakan sapi
Pemerintah, dengan memakai dana APBN berencana akan melakukan import sapi indukan dalam jumlah besar yang akan diberikan kepada pihak swasta yang berminat dengan skema kerjasama yang ditawarkan pemerintah. Sapi - sapi indukan yang dibeli pemerintah dari luar negeri akan diberikan secara cuma-cuma kepada pihak swasta dengan berbagai persyaratan. Pemerintah akan menggandeng feedloter swasta (feedlot adalah sistem pemeliharaan atau penggemukan sapi dengan cara memberi makanan dalam kandang, dengan fasilitas air dan perangkat pendukung lainnya. Tahun ini berencana akan mengimpor sekitar 30.000 ekor sapi indukan dan tahun depan 500.000 ekor.

Sistem kerjasamanya adalah model penitipan seperti yang sudah umum berlaku di petani-petani lokal. Sapi indukan bantuan pemerintah akan dititipkan dan dipelihara di kandang feedloter swasta. Biaya perawatan ataupun sapi yang mati ditanggung oleh peternak swasta tersebut. Namun, pemerintah juga memberikan insentif kepada feedloter. Jika sapi indukan yang dipelihara tersebut melahirkan anak sapi jantan, maka pihak feedloter boleh memilikinya. Sedangkan jika yang dilahirkan adalah anak sapi betina, maka  tidak boleh disembelih, tapi harus diberikan pada peternak plasma.

Ada keuntungan lain yang akan didapatkan oleh feedloter swasta yang bersedia bekerja sama dengan pemerintah dalam pengembangan sapi indukan tersebut. Mereka akan diberi jatah izin impor sapi bakalan. Semakin banyak jumlah sapi indukan yang dipelihara, maka semakin banyak izin impor yang akan diberikan pemerintah.

Seperti yang dijelaskan Muladno Bashar  (Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan), yang dikutip dari DetikFinance, bahwa pihak swasta yang memelihara 1 sapi indukan bisa mendapatkan izin impor 4-5 ekor sapi bakalan. Dengan kerja sama seperti itu, swasembada bisa terwujud.

Terima kasih telah membaca tulisan ini, semoga dapat menambah wawasan Anda. Jika bermanfaat, jangan lupa share di akun media sosial Anda, seperti Facebook dan Twitter.

Sajian Informasi Terkait