Menggali Potensi Ekonomi Tanah Jarang Indonesia

Tanah jarang atau Rare Earth merupakan komoditas mineral yang didapat dari hasil pemisahan pasir monasit. Pasir ini biasanya ditemui dalam proses eksplorasi timah. Pasir monasit ini ternyata memiliki banyak sekali unsur-unsur mineral berharga, seperti uranium dan toriumi yang biasanya digunakan untuk reaktor nuklir. Nah, bagaimanakah potensi nilai ekonkmi dari tanah jarang tersebut?

Saat ini, PT Timah tengah menggarap proyek untuk pengolahan tanah jarang di kawasan industri Tanjung Ular. Potensi tanah jarang yang akan digarap tersebut adalah seluas 110 hektar. Saat ini PT Timah mengaku belum mulai menghitung nilai investasinya karena masih berkonsentrasi pada urusan perijinan. Namun jika kita lihat prediksi untuk potensi tanah jarang ini, maka diperoleh data bahwa harga tanah jarang dengan beragam unsur logam yang bernilai tinggi yang terkandung dalamnya adalah cukup luar biasa. Harga tanah jarang adalah 10 kali lipat dari harga timah.

tanah jarang
Ilustrasi Kawasan Tanah Jarang
Provinsi di Indonesia yang memiliki kekayaan tanah dengan kandungan timah adalah provinsi Bangka Belitung. Propinsi ini dianggap sebagai sebuah berkah tersendiri bagi Indonesia, karena rupanya tanah jarang ini tidak dimiliki oleh semua negara dan tidak semua negara bisa memiliki potensi tanah jarang (rare earth) kecuali di Indonesia. Kandungan unsur logam dalam tanah jarang bisa digunakan untuk kebutuhan beragam industri, misalnya sebagai pembangkit tenaga listrik, sebagai bahan perangkat elektronik, dan juga bahan perangkat alat telekomunikasi, serta bahan peralatan nuklir khususnya logam uranium dan torium yang terkandung di dalamnya. Untuk pengelolaan bahan peralatan nuklir, PT Timah bekerjasama dengan lembaga lain, yaitu BATAN (Badan Tenaga Nuklir Nasional).

Pabrik pengolahan tanah jarang ini rencananya akan mulai beroperasi secara komersial pada bulan Agustus tahun ini, dan targetnya adalah memproduksi sebanyak 500 kg tanah jarang per hari. Lalu bagaimanakah tanah jarang ini bisa menjadi sedemikian berharga dan seberapa besar potensi ekonominya? Harga tanah jarang bisa mencapai 10 kali lipat dari harga timah. Seperti kita ketahui bahwa harga timah saat ini mencapai 15.300 sampai 15.405 dollar Amerika Serikat per metric ton. Jika kita konversikan ke dalam kg maka harga timah per kilogramnya bisa mencapai 15,3 dolar Amerika Serikat atau sekitar 200.000 rupiah. Harga tanah jarang yang mencapai 10 kali lipat dari harga timah, maka harga untuk 1 kg tanah jarang adalah sekitar 2juta rupiah. Jika target untuk produksi tanah jarang sekitar 500 kg per hari, maka potensi ekonomi yang bisa didapat dari tanah jarang ini adalah sekitar 1 miliar rupiah per hari. Sungguh sebuah potensi yang luar biasa.

Namun sayangnya, di Indonesia sendiri pengelolaan tanah jarang masih sangat sedikit karena memang banyak sekali kendala yang masih harus diselesaikan. Kendala yang pertama adalah sumber logam tanah jarang berada bersama dengan logam utama hasil tambang. Sedangkan sumber sekundernya biasanya terbawa oleh sisa proses, khususnya proses telling dan juga filtrat sehingga sangat sulit untuk di ekstraksi. Kendala berikutnya adalah penguasaan teknologi logam tanah jarang yang belum mencapai skala komersial. Selain itu, hambatan lainnya adalah penelitian logam tanah jarang belum optimal karena lembaga - lembaga yang melakukan penelitian masih melakukannya secara parsial, yang artinya tidak ada sinergi yang cukup memadai.

Jika kita lihat betapa kayanya tanah Indonesia serta besarnya potensi ekonomi yang terkandung pada tanah jarang ini, maka harusnya pemerintah sudah mulai bergerak dan melakukan sinergi yang cukup kuat untuk mengolah tanah jarang, sehingga kedepannya Indonesia bisa menjadi negara yang maju dengan industri yang kuat serta bisa memegang peranan penting dalam penambangan, pengolahan, pemurnian bahkan penguasaan tanah jarang.

Terima kasih telah membaca tulisan ini, semoga dapat menambah wawasan Anda. Jika bermanfaat, jangan lupa share di akun media sosial Anda, seperti Facebook dan Twitter.

Sajian Informasi Terkait