Mengatur Stok Barang Toko untuk Mencegah Pencurian

Para pelaku atau pemilik waralaba besar, seperti Alfamart dan Indomaret sudah memiliki dan menggunakan standar marketing tersendiri, sehingga hal tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat grafik bisnis mereka senantiasa mengalami peningkatan dari waktu ke waktu. Jaringan bisnis dan jumlah karyawan mereka semakin bertambah tiap tahunnya. Sebagai usaha ritel, tentu kedua perusahaan ini juga disibukkan dengan tata cara dan pengelolaan dalam penyediaan dan penyimpanan barang.

Melakukan kontrol terhadap stock barang dengan metode dan cara yang baik akan mengurangi potensi kerugian anda dari ancaman orang-orang jahil yang ingin mencuri atau mengambil suatu produk secara ilegal. Berdasarkan salah satu riset, ternyata diperoleh data bahwa karyawan yang sudah lama bekerja (5 tahun ke atas) berpotensi 300% melakukan pencurian barang di tempat kerjanya. Karyawan lama berpeluang mengutil 500% lebih banyak dari pada karyawan baru. Gaji kecil dan adanya kesempatan terbuka untuk mencuri menjadi salah satu faktor pemicunya. Pencurian yang paling banyak adalah pencurian dari internal yang dilakukan oleh para pegawai anda.

Nah, berikut disajikan 5 tips tata cara pengaturan dan pengelolaan stok barang khusus bagi anda yang memiliki usaha ritel atau toko penjualan produk-produk tertentu, seperti toko buku, mini market, butik, dan sejenisnya.

1. Lakukan Analisa dan Kelompokkan Barang-barang yang Paling Mudah Hilang 
stok barang toko
Langkah pertama yang perlu anda lakukan adalah menggolongkan aneka barang yang menurut analisa atau pengalaman anda merupakan produk yang berpotensi mudah hilang. Biasanya barang-barang yang berukuran kecil yang mudah disembunyikan sangat rentan untuk dicuri,palagi jika barang-barang tersebut jauh dari pengawasan mata penjaga toko ataupun cctv. Anda harus bisa menggolongkan semua barang-barang itu dengan tepat agar tidak terjadi keselisahan dengan stok barang yang lain.

2. Lakukan Kontrol Ketat untuk Stok Barang yang Mahal
Barang-barang yang harganya mahal cenderung menjadi incaran untuk "dikorupsikan" oleh orang-orang di internal perusahaan anda, apalagi jika ukurannya kecil, seperti cincin emas di toko perhiasan, atau flashdisk bermemory besar pada toko elektronik. Anda harus bisa berjaga-jaga dan melakukan perlakuan khusus agar barang itu tidak mudah mengalami kehilangan, karena barang yang harganya mahal merupakan salah satu faktor penentu keberlansungan usaha Anda.

3. Awasi Stok Arus Barang yang Sering Laku
Mengontrol dan mengecek arus barang yang paling sering laku terjual adalah salah satu metode untuk mengetahui apakah dalam perusahaan anda terdapat tangan-tangan jahil atau tidak. Kontrol ini dilakukan setiap periode tertentu untuk bisa menjadi pembeda apakah ada stok barang yang hilang atau tidak tercatat. Aktivitas stock opname barang untuk produk-produk yang paling sering terjual harus dilakukan secara cermat agar perhitungan selisih antara yang masih ada di gudang, di toko, dan yang terjual sudah sesuai (balance). Kegiatan stock opname barang biasanya dilakukan sebulan sekali atau pada saat barang baru masuk ke dalam toko.

4. Perhatikan Stok Barang yang Bersistem Acak, dan Selalu Diganti-ganti
Produk-produk yang mengalami sistem acak atau selalu diganti-ganti harus diperhatikan stock-nya secara cermat karena dapat membuat bingung jika tidak dicatat dengan benar, misalnya produk-produk yang dibuat promo dalam periode tertentu. Contohnya: jika pada bulan lalu harga sebuah produk senilai Rp 50.000, dan ternyata pada bulan ini harganya dibuat lebih murah menjadi Rp 40.000 karena sedang ada promo, kemudian bulan berikutnya harganya kembali normal, maka harus dibuat stok khusus sehingga lebih mudah dalam pencatatan. Karena jika keliru, dapat merugikan anda dan konsumen anda.

5. Stok yang Bersifat Barang Restand
Stok barang yang tidak laku dan sudah tidak display lagi alias restand juga merupakan barang mudah tercuri karena biasanya jarang dikontrol. Oleh karena itu, pencatatan terhadap barang-barang restand harus dikontrol dengan teliti untuk menghindari kerugian akibat barang hilang atau tidak tercatat.

Bagaimanakah biaya penanggulangan untuk mengganti barang-barang yang hilang? Bila terdapat barang yang hilang, maka ditanggung sebesar 0,15% dari omzet. Sedangkan jika terus hilang lebih dari itu berarti menjadi tanggung jawab pribadi, misalnya potong bonus atau potong gaji.
Referensi (laruno.com)

Terima kasih telah membaca tulisan ini, semoga dapat menambah wawasan Anda. Jika bermanfaat, jangan lupa share di akun media sosial Anda, seperti Facebook dan Twitter.

Sajian Informasi Terkait