Inovasi Bisnis Kuliner, Gudeg dalam Kaleng Beromzet 400 Juta Rupiah

Yuk, kita jalan-jalan ke kota klasik Jogja...
Yogyakarta memang salah satu kota yang istimewa. Tak heran jika setiap tahun jumlah wisatawan yang datang ke sini selalu meningkat. Pada tahun 2013 lalu, lebih dari 2,3 juta wisatawan mengunjungi kota pelajar ini. Selain seni dan budaya, Yogyakarta dikenal sebagai pusatnya kuliner nikmat. Citarasa makanan khas Jogja yang lahir dalam resep legendaris adalah Gudeg atau Gudheg dalam bahasa Jawa.

Banyak sejarah yang mengupas tentang Gudeg, konon katanya berasal dari bahasa Inggris yakni "Good Dek". Kata ini merupakan ucapan pria Inggris yang memuji kelezatan masakan istrinya yang merupakan warga pribumi (Jogja).

usaha gudeg kaleng Ada pula yang berkisah bahwa Gudeg diciptakan oleh seorang istri prajurit Mataram pada tahun 1557. Namun dari semua asal muasal tersebut, ada satu benang merah yang dijalin. Pada dasarnya Gudeg dibuat untuk membuat panganan nangka muda menjadi lebih tahan lama. Jika biasanya Gudeg hanya dibungkus, kini untuk membuatnya lebih awet, inovasi kemasan kaleng pun dibuat.

Jatu Dwi Kumalasari merupakan orang pertama yang mengalengkan Gudeg. Sejak 2011, ia mulai memasarkan Gudeg Bu Citro 1925 ke penjuru Jogjakarta. Generasi keempat pemilik Gudeg Citro ini perlu waktu 3 tahun eksperimen sebelum melepas produknya ke pasaran. Setiap hari, proses pembuatan gudeg dilakukan di dapur produksinya di Jalan Janti Yogyakarta. Mulai dari menyiapkan gudeg, telur bebek, recek, ayam kampung suir, dan santan. Meski dikemas dalam kaleng, rasa gudeg Bu Citro tetap terjaga.

Untuk menjaga rasa dan kualitas, Jatu Dwi Kumalasari bekerjasama dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Yogyakarta. Sebelum kemasan ditutup, Gudeg diuapkan, lalu kaleng berisi gudeg ditutup dan disterilisasi dengan suhu tinggi (sekitar 121°C) dalam waktu 3 menit. Proses sterilisasi ini akan membunuh bakteri sehingga gudeg kaleng akan tahan hingga satu tahun tanpa pengawet. Setelah itu, gudeg kaleng harus dibersihkan dan dikarantina selama 14 hari dalam ruangan khusus. Hal ini bertujuan untuk mengecek kondisi fisiknya. Jika ada yang menggelembung, produk gudek tersebut harus disingkirkan.

Satu kaleng gudeg harganya sekitar 25.000 rupiah. Dalam sehari, usaha gudeg Bu Citro 1925 ini bisa memproduksi sekitar 1.500 gudeg kaleng. Tak heran, jika dalam sebulan omset yang berhasil diraup mencapai 400juta rupiah. Sejak pertama dibuka pada tahun 1925, Gudeg Bu Citro terus berinovasi. Kini kuliner kreasi ini dikenal sebagai gudeg kaleng pertama di Indonesia dan dunia.

Terima kasih telah membaca tulisan ini, semoga dapat menambah wawasan Anda. Jika bermanfaat, jangan lupa share di akun media sosial Anda, seperti Facebook dan Twitter.

Sajian Informasi Terkait