Inilah Ragam Startup yang Membidik Bisnis Properti

Perkembangan pasar properti di Indonesia kian pesat, terutama di kota besar seperti Jakarta. Menurut Emerging Trends in Real Estate Asia Pasific 2013, Jakarta menempati urutan pertama diikuti Shanghai dan Singapura sebagai kota investasi real estate di Asia Pasifik. Kondisi ini membuat startup property terus tumbuh di Indonesia untuk mengakomodasi masyarakat dalam berburu properti. Bukan hanya pemain lokal, startup dari luar negeri pun berlomba invasi ke Indonesia. Salah satunya adalah Lamudi.com yang dikembangkan oleh Karan Khetan dan Steven Ghoos.

Startup ini menyebutkan telah memiliki 100 ribu properti terdaftar secara global. Sejak berselancar pada bulan April 2014 lalu, Lamudi Indonesia mengklaim telah memiliki 45.000 listing dan 1850 agent dari 30 kota di Indonesia. Saat ini, startup milik RocketInternet ini sudah resmi beroperasi di 20 negara dan berencana akan berekspansi keseluruh Asia.

Selain Indonesia, Lamudi.com juga menyasar negara berkembang lainnya. Bulan Mei 2015 lalu, Lamudi juga membuka cabang, seperti di Sri Lanka, Yordania, Pantai Gading, Mozambik, Madagaskar dan Zimbabwe. Perluasan bisnis ini didukung oleh Tengelmann yang mengucurkan dana sebesar 7 juta dolar Amerika. Dalam pengembangan startup properti, kecepatan dan teknologi yang tepat dianggap sebagai salah satu cara memperluas jaringan.

Selain itu, Lamudi juga berupaya menggaet agen yang tepat untuk membantu dalam perkembangan bisnisnya. Meski demikian, para agen memiliki sudut pandang tersendiri dalam melihat lamudi.com.

Fokus Lamudi saat ini adalah menambah jumlah properti dan memperluas kerjasama dengan agen. Selain sistem berlangganan sebagai sumber keuntungan, Lamudi juga menerapkan skema iklan banner di dalam website.

startup propertiPasar properti di ranah digital memang masih sangat menjanjikan. Menurut data Badan Pusat Statistik tahun 2014, Indonesia masih memerlukan 13 juta unit properti untuk dibangun. Ditambah lagi hampir 95 persen orang Indonesia mencari sebuah properti melalui media online. Kondisi ini membuat invasi investor terus berdatangan untuk mencari pasar segar, seperti yang terjadi di Rumah.com. Berdiri pada tahun 2011, rumah.com diakuisisi oleh Property Guru Group yang merupakan startup properti asal Singapura yang sebelumnya sukses menggarap pasar Malaysia dan Thailand. Rumah.com mengklaim memiliki 2 juta user dan 15 juta pengunjung bulanan dengan 300.000 property listing dan 8.000 properti agent yang tergabung di dalamnya. 
Melihat kebutuhan properti tanah air dan kebiasaan masyarakat Indonesia, mendirikan website properti adalah cara terbaik untuk memperoleh remenium. Meski demikian, dinamika pasar digital Indonesia tidak bisa dipandang sebelah mata. Kemajuan teknologi diantara website properti dianggap menjadi kunci persaingan. Untuk itu, selain website, Rumah.com juga membuat aplikasi untuk mobile gadget yang berhasil didownload sebanyak lebih dari 425.000 kali. Meski demikian, rumah.com masih memiliki sejumlah kekurangan dan akan terus dikembangkan.

Masyarakat dalam mencari properti biasanya mengutamakan lokasi. Selain itu, lingkungan sekitar serta harga yang cocok pun menjadi pertimbangan user dalam berburu properti. Hal inilah yang berhasil dibaca baik oleh Arif Tirta dalam mengembangkan UrbanIndo. Mengedepankan sisi teknologi, menurut Arif, iklan baris di website properti sangat ketinggalan jaman. Untuk itulah Arif dan Urbanindo mengembangkan teknologi berdasarkan kata kunci yang fleksibel dengan fitur andalan yang disebut Panduan Pintar

Berkat teknologinya, Urbanindo memiliki empat lima ribu pengunjung tiap harinya dan 230.000 properti aktif di iklankan dalam urbanindo.com dari 25.000 agen yang tergabung. Urbanindo terus mencatatkan pertumbuhan 20 persen untuk pengunjung unik dan page view tiap bulannya. Melihat prestasi kerja ini, tahun 2012 lalu pendanaan seri A pun datang dari Gree Avenger Capital. Keunggulan fitur search engine dalam urbanindo.com sangat dirasakan oleh para agen dan juga pengguna.

Sebelum mendirikan Urbanindo, Arif bekerja di Venture Capital Hercules Technology selama tujuh tahun dan berdomisili di surganya para startup, Silicon Valley. Melihat kebiasaan para startup di negeri Paman Sam membuat Arif membawa sistem positif dalam membangun Urbanindo. Meski demikian, persaingan website properti tanah air membuat Arif dan tim marketing Urbanindo bekerja ekstra untuk mendapatkan hasil akhir yang memuaskan.

Persaingan startup di ranah properti memang cukup menarik untuk disaksikan. Beragam teknologi dan strategi matang marketing pun tidak ragu diterapkan. Persaingan ini adalah sebuah kompetisi yang mempermudah masyarakat dalam mencari rumah idaman.

Terima kasih telah membaca tulisan ini, semoga dapat menambah wawasan Anda. Jika bermanfaat, jangan lupa share di akun media sosial Anda, seperti Facebook dan Twitter.

Sajian Informasi Terkait