Gambaran Pasar Periklanan pada Media TV di Indonesia

Tekanan ekonomi tidak hanya terjadi di global, namun sudah mulai dirasakan juga efeknya di dalam negeri, salah satunya adalah pasar iklan (advertising) yang juga mencakup market iklan di televisi. Pertumbuhan belanja iklan di Indonesia diproyeksikan akan mengalami penurunan dari 8 persen pada tahun 2014 lalu menjadi 6 persen pada tahun 2015. Dua hal yang menjadi penyebab utamanya adalah perlambatan ekonomi dan pelemahan nilai tukar rupiah, sehingga banyak perusahaan yang merevisi kembali anggaran belanja iklannya.

Untuk sektor bisnis yang paling banyak melakukan belanja iklan pada masa lebaran (Ramadhan) adalah sektor makanan - minuman dan sektor telekomunikasi.

Menurut data yang diambil dari Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia, diketahui bahwa berdasarkan media yang digunakan, porsi iklan di Indonesia masih dikuasai oleh iklan televisi sebesar 65%, kemudian iklan cetak sebanyak 30%, dan belanja iklan di media digital sebesar 5%. Artinya 65 persen porsi iklan yang dikuasai media televisi merupakan salah satu ceruk pendapatan yang potensial apabila para pengusaha televisi bisa mengelola manajerialnya untuk memanfaatkan belanja iklan sebagai salah satu sumber pendapatan dari perusahaan.

Berdasarkan data dari Adstensity per Mei 2015, penguasa pangsa pasar iklan di Indonesia untuk media televisi masih dipimpin oleh MNC Group dengan penerimaan iklan 34,41 persen, dimana panji-panji perusahan ini mencakup konglomerasi 3 televisi besar, yakni RCTI, Global TV, dan MNCTV. Perusahan yang dimiliki oleh Hary Tanoesoedibjo ini berhasil meraup pasar iklan yang cukup besar dengan nilai total 2,234 triliun rupiah hingga Mei tahun ini.
iklan tv
Di posisi ke dua adalah EMTEK yang mengusung SCTV dan Indosiar dengan berhasil merebut porsi iklan cukup besar, yakni 25,8 persen di tahun 2015 ini. Pendapatan dari iklan yang berhasil diraup oleh EMTEK mencapai 1,675 triliun rupiah. Strategi bisnis dengan lebih banyak menampilkan acara hiburan bagi masyarakat tampaknya cukup menjual, sehingga para pemasang iklan juga rajin untuk beriklan di kedua televisi ini. Grup Bakrie yang memiliki ANTV dan TV One berhasil meraup 16,22 persen, diikuti oleh Trans Corp (Trans7 dan Trans TV) meraup porsi iklan sebesar 15,09 persen.

Meskipun porsi iklan di media televisi saat ini masih cukup besar, ternyata akan terus menghadapi tantangan di tahun-tahun mendatang. Oleh karena itu, para pengusaha televisi harus pandai-pandai mengeluarkan strategi bisnisnya. Tantangan yang mulai dihadapi oleh perusahaan televisi dalam berebut iklan, satu diantaranya adalah terjadinya penurunan belanja iklan di media televisi. Menurut eMarketer, proyeksi belanja iklan untuk media tv di Indonesia mengalami penurunan dari 12 miliar dolar Amerika pada tahun 2014 menjadi hanya 10,6 milyar Dollar Amerika pada tahun 2015 ini. Sementara itu, estimasi belanja iklan pada perangkat mobile diproyeksikan akan naik drastis sebesar 130 persen, dan estimasi belanja iklan digital akan naik 80 persen. Kedua hal inilah yang akan mengambil porsi belanja iklan di media tv. Dan artinya salah satu tantangan yang harus dihadapi oleh perusahaan televisi adalah mereka harus bersaing menarik pengiklan yang mulai tertarik dengan iklan perangkat mobile dan juga iklan digital.

Bagi para pelaku bisnis media broadcast, ada dua hal utama yang perlu dilakukan agar bisa bertahan di tengah tekanan ekonomi, yakni yang pertama adalah bagaimana mengelola manajerial yang baik beserta strateginya, dan yang kedua adalah sinergi yang cukup kuat antara owner dan pekerja broadcast yang dia miliki.

Terima kasih telah membaca tulisan ini, semoga dapat menambah wawasan Anda. Jika bermanfaat, jangan lupa share di akun media sosial Anda, seperti Facebook dan Twitter.

Sajian Informasi Terkait