3 Faktor Penyebab Harga Emas Turun Tahun Ini

Di pertengahan tahun 2015 ini, harga emas ternyata mengalami tren penurunan. So, untuk sementara ini lupakan saja mimpi dan prediksi anda bahwa harga emas akan menembus angka 2.000 dollar per troy ounce. Sejak berada level tertingginya di tahun 2011 lalu, harga emas pada tahun ini cenderung melemah hingga anjlok lebih dari 40%, yang artinya sedang menuju ke kisaran harga US$ 1.000 / troy ounce.

Dalam 10 hari berturut-turut, harga emas dunia mengalami koreksi, yang merupakan koreksi terlama sejak September 1996 lalu. Nah, bagi anda yang baru akan memulai berinvestasi emas, mungkin kini saatnya untuk mencoba membelinya, karena mungkin dalam 6-12 bulan mendatang harga emas kembali rebound, sehingga anda bisa panen emas. 

Menelusuri penyebab jatuhnya harga emas pada periode ini, ternyata sedikit banyaknya dipengaruhi oleh kondisi perekonomian di Eropa dan Amerika Serikat. Nah, dikutip dari situs CNN, ada beberapa faktor utama yang menyebabkan harga emas terkoreksi tajam, yakni:

1. Penguatan Nilai Mata Uang Dolar
harga emasMungkin dalam beberapa minggu ke depan, mata uang dolar akan terus mengalami penguatan. Salah satu pendorongnya adalah isu naiknya suku bunga The Federal Reserve. Kenaikan nilai mata uang dolar tentu akan memberatkan para investor dalam membeli emas. Padahal emas seharusnya menjadi instrumen investasi safe haven terutama ketika dolar AS mengalami gejolak. Menurut Kepala Manajemen Aset dari Gold Bullion International yang bernama Bob Alderman, menyatakan bahwa emas sudah terkena imbas dari penguatan dolar AS dalam dua pekan terakhir, seperti terhantam badai.

2. Tingkat Inflasi Rendah
Emas akan menjadi salah satu instrumen investasi primadona di tengah fluktuasi inflasi. Namun, dalam beberapa bulan terakhir, situasi inflasi Amerika Serikat berada pada tingkat stabil atau di bawah ekspektasi The Fed. Hal ini membuat para pemilik modal lebih menginvestasikan uangnya pada bidang bisnis lain yang lebih menjanjikan keuntungan berlipat. Menurut George Gero yang merupakan Direktur RBC Capital Markets, menyatakan bahwa sekarang ini susah mengharapkan inflasi tinggi, padahal selama lebih dari 5.000 tahun emas selalu menjadi bantalan ketika terjadi inflasi.

3. Situasi di Negara China, Iran, dan Yunani
Pada tahun ini, fokus masyarakat dunia lebih tertuju kepada ketiga negara tersebut. Karena situasi dan gejolak di salah satu negara tersebut bisa mengubah arah ekonomi dunia. Beberapa waktu lalu, harga emas sempat anjlok pada kisaran 40 dolar/ons setelah negeri Tirai Bambu mengumumkan bahwa jumlah cadangan emasnya lebih sedikit ketimbang sebelumnya. Kemudian situasi politik di kawasan Timur Tengah tampak semakin panas setelah terjadinya kesepakatan pengembangan teknologi nuklir. Hal ini berdampak pada penurunan harga minyak dan juga mempengaruhi nilai emas. Sementara itu, negara Yunani yang dilanda krisis keuangan parah (alias bangkrut) membuat Uni Eropa memberikan pinjaman utang sehingga diprediksi melemahkan mata uang Euro, dan sebaliknya semakin memperkokoh nilai mata uang dolar Amerika. Emas pun akhirnya bukan menjadi pilihan menarik bagi para investor.


Banyak ahli ekonomi dunia yang memprediksi harga emas akan jatuh di bawah 1.000 dolar per troy ounce yang disebabkan meningkatkan suku bunga The Fed, sehingga dolar makin perkasa dan perlahan-lahan akan menekan harga emas. Terakhir kalinya harga emas diperdagangkan pada level bawah US$ 1.000 / troy ounce adalah pada tahun 2009 di kala terjadinya krisis finansial global. Mungkinkan hal ini akan terjadi kembali? Tampaknya beberapa pengamat ekonomi meyakini bahwa harga emas akan segera kembali rebound.

Terima kasih telah membaca tulisan ini, semoga dapat menambah wawasan Anda. Jika bermanfaat, jangan lupa share di akun media sosial Anda, seperti Facebook dan Twitter.

Sajian Informasi Terkait