Kompetisi Go-Jek vs Grab Bike

Bagi Anda yang mungkin merasa penat dan lelah dengan kemacetan ibukota, pasti sudah mulai akrab dengan aplikasi online di Smartphone untuk memesan ojek, yakni Go-Jek. Nah, kepopuleran layanan jasa antar ini ternyata menarik perhatian banyak pebisnis, sehingga saat ini telah muncul perusahaan sejenis yang menjadi kompetitor Go-Jek. Siapakah dia? Namanya GrabBike.

Lalu apa sebenarnya keunggulan dan kelemahan masing-masing penyedia layanan jasa ojek tersebut?

kompetisi ojek online
Sebelum menguraikan hal tersebut, pertama kita telusuri dahulu siapa orang yang ada di balik layar atau pendiri bisnis ini. Go-Jek didirikan oleh Nadiem Makarim, seorang warga negara Indonesia. Sementara itu, GrabBike  didirikan oleh Anthony Tan, yang merupakan warga negara Malaysia. Kedua-duanya adalah lulusan Harvard Business School. 

"Hem..., jadi tampaknya memang perlu sekolah tinggi untuk membuat sebuah perusahaan ojek".

Sebelum bekerja di bidang jasa ojek ini, Nadiem Makarim pernah bekerja di McKinsey, Zalora, serta Kartuku. Jadi usaha yang pernah digeluti Nadiem ada berbagai macam. Sementara, Anthony Tan terjun langsung setelah lulus di perusahaan keluarganya, yaitu Tan Chong & Sons Motor Company sebagai kepala marketing. Jadi, Anthony Tan memang sudah akrab dengan bisnis yang terkait dengan transportasi, karena perusahaan tersebut adalah distributor dari sejumlah merek mobil dari Jepang untuk wilayah Singapura.

Pada tahun 2011, tepatnya pada bulan Maret, Nadiem meluncurkan Go-Jek. Awalnya aplikasi ini sebenarnya adalah untuk keperluan pribadi, kemudian menjadi keperluan keluarga. Saat dia bertemu dan bergaul dengan sejumlah tukang ojek, para tukang ojek kemudian curhat kepada Nadiem bahwa ternyata banyak dari mereka yang menghabiskan waktu hanya untuk menunggu para konsumen, sehingga pekerjaan yang mereka lakukan tidak efektif dan efesien. Berkaca pada kondisi tersebut, muncullah ide dari Nadiem untuk membuat konsep bisnis ala Go-Jek. Aplikasi layanan Go-Jek mulai beroperasi secara penuh pada bulan Maret 2014.

Sementara itu, GrabBike sendiri dimulai oleh GrabTaxi pada tahun 2011, dan kemudian masuk ke Indonesia pada bulan Juni 2014. Selanjutnya, GrabBike diluncurkan di pasar Indonesia pada bulan Mei 2015.

Sebagai penyedia layanan jasa antar, tentunya tidak akan bisa beroperasi tanpa adanya para raiders (pengendara) yang siap antar jemput pelanggan. Apa perbedaan yang menjadi ciri khas antara tukang ojek Go-Jek dan GrabBike? Nah, untuk seragam Go-Jek dan GrabBike, kedua-duanya agak mirip karena memakai warna dasar hijau bercampur hitam. Pakaian seragam Go-jek lebih banyak warna hijaunya, sedangkan Grabbike lebih banyak warna hitamnya. Namun, ciri ini mungkin akan mengalami perubahan dari waktu ke waktu, sesuai dengan kebijakan perusahaan.

Jika dilihat dari jumlah pengendara (armada), layanan Go-jek ada sekitar 10.000 pengendara yang aktif beroperasi di beberapa wilayah Indonesia, seperti di Jabodetabek, Bandung, Surabaya, dan Bali. Sementara Grabbike, karena usianya lebih muda, saat ini baru disokong oleh sekitar 1.000 tukang ojek. Data ini akan terus mengalami perubahan seiring perjalanan waktu. Wilayah layanan operasi untuk Grabbike saat ini hanya mencakup seputaran wilayah ibu kota Jakarta saja. Jumlah armada Grabbike yang masih sedikit tersebut membuat banyak orang yang mengeluh dan berkomentar di media sosial "Kenapa sih kalau di Grabbike, ketika saya pesan, tidak ada personel ojek yang datang. Sementara layanan Go-jek sendiri kemungkinan datangnya personel ojek itu adalah 8 dari 10. Jadi kalau anda pesan Go-jek, 80% kemungkinannya akan terlayani.

Selanjutnya ditinjau dari penghasilan yang akan diperoleh para tukang ojek yang telah bergabung dalam Go-jek ataupun Grabbike, ternyata Go-jek menerapkan bagi hasil 80% untuk si tukang ojek dan 20% untuk perusahaan Go-jek. Sedangkan di Grabbike pembagian hasilnya 90% : 10%. Besarnya angka pembagian ini tampaknya sebagai strategi untuk menarik riders (tukang ojek) agar mau bergabung ke Grabbike. 

Apakah anda tertarik untuk mencari penghasilan tambahan sebagai tukang ojek di Go-jek ataupun di Grabbike? Ternyata ke dua perusahaan ini tidak sembarangan melakukan perekrutan riders. Mereka melakukan seleksi yang ketat demi menjaga citra profesional layanan mereka. Calon pengendara (tukang ojek) wajib mengikuti tes kepribadian, interview, memiliki kendaraan yang layak, SIM, dan bahkan juga cek surat domisili. (Referensi: Bloomberg Indonesia)

Terima kasih telah membaca tulisan ini, semoga dapat menambah wawasan Anda. Jika bermanfaat, jangan lupa share di akun media sosial Anda, seperti Facebook dan Twitter.

Sajian Informasi Terkait