Ini Cara dan Strategi Kreatif Promosi Bisnis Makanan

Adalah dua orang bersahabat yang bernama Kharisma Gandhi dan Yakub Raditya Bahri yang saling bahu membahu untuk membangun bisnis di bidang kuliner. Usaha tersebut diberi nama Kumaramen, yakni sebuah kedai ramen yang berlokasi di kota Bandung, Jawa Barat. Hal yang istimewa dari produk buatan dua orang tersebut adalah cita rasa dan tingkat kepedasannya yang bervariatif. Dengan level pedas yang beragam, ramen mereka disajikan mulai dari tingkat biasa hingga mencapai level 100, yang kata orang rasanya seperti "membakar lidah".

Gandhi dan Radit memulai usaha kuliner sejak pertengahan tahun 2010. Lidah awal bisnis ini dimulai dari kunjungan Radit ke rumah Gandhi. Saat malam, acara makan di luar menjadi batal lantaran hujan yang turun. Gandhi yang memiliki hobi memasak, menyajikan ramen untuk menu makan malam. Merasakan sensasi rasa yang enak pada ramen buatan Gandhi, Radit pun mengajak Gandhi untuk membuka usaha makanan berbahan ramen. Nah, usaha warung ramen mereka pun diberi nama Kumaramen.

promosi unik bisnis makananLalu, apakah makna nama Kumaramen tersebut? Menurut Gandhi, nama Kumaranen diambil dari bahasa Jepang, yakni kuma yang artinya beruang. Sosok beruang ternyata identik dengan Gandhi yang memiliki perawakan besar, bahkan di kampus pun ia sering dipanggil Papa Bear. Selain itu, nama Kumaramen juga merupakan gabungan nama dari dua orang tersebut.

Saat mengawali menjalankan usaha yang berlokasi di pinggir jalan dekat rumahnya Gandi tersebut, mereka sempat mendapatkan cobaan telak. Peralatan usaha, tenda, dan perlengkapan masak yang mereka simpan di dalam gerobak, diangkut polisi pamong praja. Setelah sempat mengalami rasa patah semangat, mereka pun bangkit kembali membangun usaha kulinernya. Mereka mencicil peralatan masak, serta memindahkan lokasi usaha di depan rumahnya Gandhi. Usaha keras mereka pun perlahan menunjukkan hasil yang bagus. Untuk semakin meningkatkan akselerasi usaha ramen tersebut, mereka sering mengadakan kompetisi, yakni bagi para pembeli yang bisa menghabiskan porsi ramennya pada level kepedasan tertentu, maka si membeli tidak perlu membayar makanan dan minuman yang pesan tersebut. Alhasil, cara itu cukup berhasil menarik perhatian dan kunjungan calon konsumen. Ada yang berhasil menyantap ramen level 100, dan banyak pula yang gagal menghabiskan porsi ramennya, sehingga harus membayar. Beberapa orang yang berhasil menuntaskan kompetisi tersebut sering berkomentar bahwa lidahnya seperti terbakar. Oleh karena itu, ramen buatan Kumaramen dikenal identik sebagai ramen pedas.

Suatu hari, Indra Bekti yang merupakan salah satu artis populer Indonesia berkunjung ke kedai ramennya. Gandhi pun tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut untuk mengajak sang artis idola bekerjasama dalam bisnis kuliner tersebut. Nah masuknya Indra Bekti pada kerja sama bisnis mereka, membuat Kumaramen semakin dikenal banyak orang. Buzzer dari sang artis merupakan salah satu cara promosi yang cukup efektif.

Saat ini Kumaramen telah memiliki dua kedai yang terletak di kawasan Cipaganti dan Cimanuk. Dengan harga sekitar Rp 25.000 - Rp 30.000 per porsi, kedua kedai tersebut mampu mendatangkan 30-50 orang setiap hari. Meskipun telah lima tahun menjalani bisnis ini, mereka mengaku masih sering mengalami kendala, terutama yang berkaitan dengan karyawan dan harga bahan. Beberapa orang karyawan yang sering keluar masuk, membuat Gandhi dan Radit harus bersabar mengajarkan keterampilan dan membimbing pegawainya agar sesuai dengan standar operasional usaha yang sudah mereka tetapkan. Sementara itu, naiknya bahan baku ramen juga menjadi salah satu penggangu kinerja bisnis mereka. Namun, mereka selalu punya rasa optimis untuk tetap eksis dan bersaing dalam bisnis kuliner. (Referensi: myoyeah.com)

Terima kasih telah membaca tulisan ini, semoga dapat menambah wawasan Anda. Jika bermanfaat, jangan lupa share di akun media sosial Anda, seperti Facebook dan Twitter.

Sajian Informasi Terkait