4 Negara yang Gagal Bayar Utang alias Bangkrut

Cerita sebuah perusahaan yang gagal membayar utang ataupun yang mengalami kebangkrutan mungkin sudah biasa kita dengar. Jatuh bangun sebuah perusahaan tentu hanya dirasakan oleh beberapa pihak. Namun, bagaimana jadinya jika yang mengalami kebangkrutan alias gagal membayar hutang adalah sebuah negara, tentu dampaknya menjadi lebih luas. Bukan hanya rakyat yang ada di negara tersebut saja yang merasakan efeknya, tetapi juga sering berimbas kepada negara-negara lain, baik itu regional maupun secara global. Baru-baru ini, negara Yunani mengalami nasib kebangkrutan finansial. Kasus Yunani ini bikin geger seluruh dunia, karena dikhawatirkan dampak krisis bisa merembet ke mana-mana. Pemerintah setempat dan beberapa negara lain bekerja keras untuk mengembalikan situasi perekonomian di negara yang beribukota Athena tersebut.

Jika kita telusuri kembali jejak-jejak perjalanan negara-negara di dunia, ternyata ada beberapa negara yang pernah mengalami kebangkrutan keuangan akibat tidak mampu membayar cicilan utangnya, baik itu utang kepada negara lain, lembaga keuangan internasional, ataupun pihak-pihak tertentu. Negara mana sajakah yang pernah dinyatakan bangkrut?

1. Yunani dengan utang US$ 138 miliar
gagal bayar utangPada bulan Maret 2012 lalu, negara Yunani dengan kondisi perekonomian yang kocar-kacir ternyata tidak bisa membayar utang-utangnya senilai US$ 138 miliar, atau sekitar Rp 1.794 triliun. Untuk menanggulangi masalah tersebut, pemerintah di sana meminta bantuan suntikan dana (bailout) dari para partnernya di Eropa. Namun usaha tersebut tidak berhasil menuntaskan krisis ekonomi yang berkelanjutan hingga tahun ini. Pada pertengahan tahun 2015, Yunani juga tak mampu membayar utang jatuh temponya sebesar 1,5 milier euro (US$ 1,7 miliar) atau sekitar Rp 22 triliun. Dengan kondisi seperti itu, maka Yunani pun dianggap tidak akan bisa menyelesaikan total utangnya yang senilai 323 miliar euro (US$ 360 miliar) atau sekitar Rp 4.680 triliun. Hal ini membuat negara Yunani diberi status bangkrut oleh berbagai pihak. Meski begitu, jumlah utang Yunani ini ternyata masih lebih rendah dari aset lembaga keuangan Lehman Brothers di Amerika Serikat (AS) yang harus diselamatkan pada saat krisis ekonomi tahun 2008 lalu. Kala itu, aset Lehman Brothers yang harus diselamatkan oleh pemerintah Amerika mencapai US$ 600 miliar, atau sekitar Rp 7.800 triliun.

2. Argentina dengan utang US$ 95 miliar
Kebijakan pemerintah setempat untuk membuat nilai tukar mata uang Argentina menjadi sama atau sebanding dengan dolar AS ternyata berakibat tidak bagus. Keputusan yang diterbitkan sejak tahun 2001 tersebut mengakibatkan ketidak akuratan nilai tukar uang Argentina dengan mata uang asing lainnya. Hal ini  memunculkan kekhawatiran dan kepanikan warga Argentina sehingga banyak orang yang mulai menarik uang dari perbankan. Pemerintah Argentina berusaha menahan dan mengendalikan kondisi tersebut. Namun akhirnya membuat ekonomi negara ini turun menjadi hanya sepertiganya dalam setahun. Pada Juli 2014, Argentina dinyatakan gagal bayar (default), tidak bisa membayar utangnya kepada kreditur. Hingga kini, status negara yang beribukota Buenos Aires tersebut masih gagal bayar. Memang jumlah utang Argentina ini jauh lebih kecil dibandingkan Yunani, namun ukuran ekonomi Argentina dua kali dari Yunani.

3. Jamaika dengan utang US$ 7,9 miliar
Negara yang kini dipimpin oleh perdana menteri Orette Bruce Golding, juga pernah mengalami kegagalan membayar utang-utanggnya. Sekitar lima tahun lalu, tepatnya pada Februari 2010, negara ini dinyatakan bangkrut. Yang menjadi pemicu utamanya adalah kebijakan pemerintah melakukan pembelanjaan dengan anggaran besar selama bertahun-tahun. Tingginya inflasi juga memperparah ekonomi Jamaika sehingga tidak bisa membayar utang-utangnya 5 tahun yang lalu. Kini, negara tersebut harus pandai-pandai berhemat menggunakan uangnya, karena 40% dari anggaran pemerintah harus dialokasikan untuk membayar cicilan utangnya. Ekonomi Jamaika yang lebih banyak tergantung pada pariwisata, menderita kebangkrutan karena resesi ekonomi di AS pada akhir 2008.

4. Ekuador dengan utang US$ 3,2 miliar
Status bangkrut dan gagal bayar utang juga diberikan kepada negara Ekuador. Dengan sumber daya alam yang melimpah, Ekuador sebenarnya bisa membayar utang-utanggnya. Namun mereka memilih tidak membayar. Mengapa demikian? Pada Desember 2008, Ekuador menyatakan tak mau membayar utangnya. Presiden Ekuador saat itu, Rafael Correa mengatakan tidak akan melunasi utangnya kepada krediturnya. Alasannya, Correa menyatakan bahwa perjanjian utang piutang dari Hedge Fund asal Amerika Serikat (AS) disebut tidak bermoral.

Terima kasih telah membaca tulisan ini, semoga dapat menambah wawasan Anda. Jika bermanfaat, jangan lupa share di akun media sosial Anda, seperti Facebook dan Twitter.

Sajian Informasi Terkait