Strategi Pemerintah Mengoptimalkan Sumber Energi Biomassa

Meski memiliki potensi biomassa lebih dari 32.000 megawatt, ternyata hanya 5 persen dari jumlah tersebut yang telah dimanfaatkan. Untuk mendorong penggunaan biomassa, pemerintah menerbitkan aturan harga jual listrik yang memberikan kepastian investasi bagi investor. Sumber energi berbahan minyak di Indonesia semakin menipis. Di lain sisi, kebutuhan energi semakin besar seiring pertumbuhan ekonomi.

Untuk memenuhi kebutuhan energi, pemerintah mulai melirik sumber sumber energi alternatif, salah satunya dari ampas tumbuhan atau biomassa. Menurut dirjen energi baru terbarukan kementerian ESDM, Rida Mulyana, pengembangan energi biomassa lebih murah dan cepat yakni hanya sekitar 18 hingga 40 bulan. Sementara pengembangan energi lainnya seperti panas bumi cenderung terkendala izin pembebasan lahan dan butuh modal besar.

energi biomassa
"Di Indonesia ada 800 pabrik. Taruhlah satu pabrik itu mengeluarkan limbah yang bisa diolah menjadi listrik kurang lebih 1 megawatt atau paling tidak setengahnya, itu kita sudah dapat 400 megawatt. Nah, kalikan dengan 3 juta dolar, berapa investasi yang masuk ke Indonesia, berapa penciptaan tenaga kerja yang kita bisa buat, berapa penurunan emisi, berapa kemudian subsidi yang dapat kita turunkan", ucap Rida Mulyana yang dikutip dari Bloomberg TV.

Sementara itu, untuk menarik minat investor di industri biomassa, pemerintah menerbitkan harga jual listrik biomassa, yakni berkisar 1.050 hingga 1.500 rupiah per kwh. Pembangunan pembangkit biomassa maksimal memakan waktu 40 bulan. Sementara investasi dibatasi hingga 30 juta dolar amerika atau maksimum kapasitas 10 megawatt.

Harga jual yang kompetitif diharapkan mendorong kapasitas industri biomassa semakin besar. Dengan demikian, pemerintah dapat meraih target elektrifikasi sebesar 100 persen dalam 5 tahun kedepan, dari posisi saat ini 85 persen.

Terima kasih telah membaca tulisan ini, semoga dapat menambah wawasan Anda. Jika bermanfaat, jangan lupa share di akun media sosial Anda, seperti Facebook dan Twitter.

Sajian Informasi Terkait