Peluang Usaha Produk Ayunan Hammock

Bagi mereka yang gemar melakukan hobi piknik dan beraktivitas di luar ruangan, seperti di kawasan pantai maupun pegunungan, tentu istilah hammock ataupun hammocking sudah cukup familiar. Ya, hammock merupakan sebutan untuk ayunan yang biasanya terbuat dari jaring kain atau pun bahan lainnya yang memiliki kekuatan menahan beban, khususnya berat tubuh. Sehngga dengan ayunan hammock tersebut, kita dapat bersantai ria ataupun tidur di atasnya. Sementara yang dimaksud hammocking adalah kegiatan yang memanfaatkan hammock.

Awal mula sejarah pembuatan hammock menurut para Antropolog, dipercaya berasal dari kebudayaan suku Maya, sekitar 1000 tahun sebelum Columbus datang ke Amerika. Hammock karya masyarakat suku Maya terbuat dari kulit pohon dan serat tanaman. Dengan pemakaian Hammock, mereka merasa terlindungi dari tanah, ancaman ular, tikus dan makhluk beracun lainnya, terutama ketika tidur.

produk ayunan hammock
Sementara itu, di Indonesia sendiri, benda yang berupa hammock tentu sudah akrab disebut dengan ayunan, khususnya yang dipakai untuk media tidur bayi dengan memanfaatkan kain panjang. Kemudian istilah hammocking semakin populer sebagai pengganti berkemah menggunakan tenda. Di alam bebas (di luar ruangan) penggunaan ayunan hammock biasanya hanya memerlukan dua batang pohon atau juga pada batu besar.

Untuk membuat ayunan tidur tersebut sebenarnya cukup gampang, bahkan hanya dengan memakai sebuah selimut. Namun, hal itu terkadang kurang menjamin tingkat kekuatan dan keselamatannya. Tentu, anda tak ingin kan jika saat sedang bersantai ria di atas ayunan, tiba-tiba anda terjatuh karena ayunan yang anda buat tidak menjamin keselamatan anda. Oleh karena itu, banyak orang yang lebih memilih membeli produk ayunan hammock yang dibuat oleh produsen atau pengrajin.

Latar belakang kondisi tersebut, menjadi sebuah peluang usaha yang dilihat oleh Ciputra Heryanto yang telah menggeluti bisnis memproduksi hammock dengan merek Trippy Stuff sejak April 2014 lalu. Tren gaya hidup dalam dunia anak muda yang suka bersantai di atas hammock, ternyata semakin memperbesar pangsa pasar produk ini. Haryanto pada awalnya mengawali bisnisnya tersebut dengan modal sekitar Rp 5 juta, yang ia pakai untuk melakukan riset bahan dasar kain, kekuatan tali webbing dan nautical, serta kualitas carabiner yang digunakan.

Seperti yang dikutip dari Bisnis.com, dalam usahanya tersebut, produk Hammock Trippy Stuff buatannya menggunakan bahan 100% parachute nylon yang biasa digunakan oleh produsen hammock di luar negeri, sedangkan alat untuk menggantung menggunakan S-hooks yang terbuat dari stainless steel. Untuk semakin mempercantik dan menarik kualitas produknya, ia juga memproduksi hammock dengan perpaduan dua warna yang berbeda dengan produk lain.

Bagaimanakah proses pembuatan hammock tersebut? 
Awal proses produksi dimulai dengan mempersiapkan bahan-bahan yang akan dijahit. Dengan menggunakan ukuran yang sudah ditentukan, dua bahan yang berbeda warna tersebut dipotong. Proses berikutnya adalah penjahitan. Setelah lembaran hammock dijahit, dan ditambahkan nautical ropes serta S-hooks, maka tahap berikutnya adalah tingkat keamanan produk. Salah satu yang dilakukan adalah dengan memastikan tidak ada jahitan yang lepas. Setelah itu, produk kemudian siap untuk di pak dan dipasarkan.

Produk hammock dengan brand Trippy Stuff buatan Haryanto dipasarkan dalam dua jenis, yakni hammock berukuran single dengan harga sekitar Rp 225.000, dan hammock berukuran double seharga  Rp 300.000. Harga produk tersebut sudah termasuk webbing. Dalam sebulan, usaha produk hammock Trippy Stuff yang digawangi oleh pria yang hobi jalan-jalan tersebut mampu dihasilkan dan dipasarkan sekitar 60 set hammock yang dibantu oleh lima orang pekerja. Omzet yang berhasil diraup tiap bulannya mencapai 15 juta rupiah dengan margin keuntungan sekitar 30%-50%. Sentra produksi hammock Trippy Stuff dilakukan di Bandung, sementara jangkauan pemasarannya sudah mencapai beberapa kota besar di tanah air, seperti Jakarta, Denpasar, Yogyakarta, dan Sumba.

Untuk meningkatkan omset penjualan, Ciputra Haryanto menempuh promosi secara online, baik melalui forum jual beli online serta akun media sosial Instagram @hammocktrippy, yang menyasar konsumen yang hobi traveling ke pantai atau gunung. Persaingan bisnis pada produk ini menurut pengakuan Haryanto memang cukup ketat, apalagi membanjirnya merek-merek hammock luar negeri. Hal ini menjadi tantangan tersendiri. Untuk menyiasati hal tersebut, Ciputra terus mengoptimalkan promosi produknya melalui sponsorship program, promo potongan harga, serta juga dengan mendukung pelaksanaan kegiatan fun gatheringHammockers Indonesia. Brand Trippy Stuff juga terus aktif memperluas jaringan distribusi dan promosi melalui reseller yang saat ini sudah tersebar di beberapa kota besar di Indonesia.

Bagaimanakah prospek bisnis produk hammock di masa yang akan datang? 
Menurut penilaian Ciputra, prospek bisnis produk hammock tidak akan padam, karena penggiat hobi traveling yang menjadi target pasar, baik di Indonesia dan di luar negeri akan selalu tetap ada, bahkan semakin banyak. Selain itu, saat ini ternyata semakin banyak orang yang membeli hammock untuk digunakan di area rumahnya. Sehingga konsumennya bukan hanya berasal dari para pencinta hobi traveling dan petualangan saja.

Terima kasih telah membaca tulisan ini, semoga dapat menambah wawasan Anda. Jika bermanfaat, jangan lupa share di akun media sosial Anda, seperti Facebook dan Twitter.

Sajian Informasi Terkait