Kota-kota Dengan Biaya Hidup Termahal di Dunia

Sebagai seorang ekspatriat (seseorang yang tinggal sementara maupun menetap di luar negaranya), kehidupan sehari-harinya mungkin menjadi lebih sulit dari pada tinggal di negaranya sendiri. Tentu hal ini disebabkan oleh banyak faktor, mulai dari aturan khusus yang harus mereka jalani di negara tempat tinggalnya sementara tersebut, hingga biaya hidup yang lebih mahal. Bagi warga negara yang berasal dari negara maju dan tinggal sementara di negara berkembang, kemungkinan biaya hidup yang mereka perlukan lebih kecil dari biaya hidup di negaranya sendiri, apa lagi jika posisi nilai tukar uang negaranya lebih tinggi. Tentu hal itu menjadi satu keuntungan tersendiri. 

Nah, di kota-kota berikut, biaya hidup bagi seorang ekspatriat (pebisnis, duta besar, tenaga kerja luar negeri, dsb) ternyata cukup menguras isi dompet. Harga makanan cepat saji di kota-kota dengan biaya hidup termahal bagi kalangan ekspatriat  bisa mencapai US$ 17 atau sekitar Rp 200 ribu lebih. Sementara uang yang mereka keluarkan untuk sepasang celana jeans bisa mencapai US$ 250 atau Rp 3,2 juta.

kota biaya hidup mahalKota dengan biaya hidup termahal di dunia untuk para ekspatriat ternyata adalah ibu kota negara Angola, yakni kota Luanda. Ibu kota dari negara yang kaya minyak ini menduduki posisi pertama sebagai kota dengan biaya hidup termahal tahun 2015 menurut versi Mercer. Mercer sendiri adalah sebuah firma konsultasi sumber daya manusia dan jasa keuangan terbesar di dunia, yang berpusat di kota New York, dan beroperasi di 40 negara. Mercer membuat daftar peringkat didasarkan atas biaya tempat tinggal, transportasi, biaya makan, pakaian, dan kebutuhan rumah tangga sehari-hari lainnya.

Menurut rangking Mercer, kota Luanda menduduki peringkat teratas sejak tahun 2010 sampai sekarang. Kecuali di tahun 2012 posisi Luanda digeser oleh Tokyo (Jepang). Harga barang dan biaya tempat tinggal yang tinggi di negara yang terletak di kawasan Afrika bagian barat daya tersebut menyebabkan kota Luanda dinobatkan sebagai kota dengan biaya hidup termahal pada tahun ini.

Sementara itu, sepuluh besar kota termahal bagi kalangan ekspatriat didominasi oleh kota-kota di kawasan Afrika, Asia, dan Eropa. Sementara itu, banyak kota di Eropa bagian barat yang mengalami penurunan peringkat. Hal ini karena melemahnya nilai tukar euro terhadap dolar AS. Di posisi nomor dua sebagai kota yang mahal biaya hidup bagi ekspatriat ditempati oleh Hong Kong. Setelahnya ada kota Zurich (Swiss), Singapura, dan Geneva (Swiss). Posisi ke enam hingga ke sepuluh secara terurut adalah Shanghai, Beijing, Seoul, Bern, dan N’Djamena. Sementara di posisi buncit atau sebagai kota dengan biaya hidup termurah bagi para ekspatriat adalah Bishkek (urutan ke 207), Windhoek (urutan ke 206), and Karachi (urutan ke 205).

Dalam survei yang dilakukan Mercer tersebut, ditemukan ketidakstabilan pasar properti. Selain itu, inflasi terhadap barang dan jasa menjadi salah satu faktor utama dalam perhitungan biaya usaha. Di kota Luanda, harga sewa sebuah apartemen dengan fasilitas 2 kamar tidur rata-rata mencapai US$ 6.800 atau lebih kurang Rp 88 juta per bulan. Hal ini ternyata lebih mahal dari biaya sewa di kota New York (Amerika Serikat) yang berada pada kisaran US$ 5.500 per bulan, dan London (Inggris) sebesar US$ 4.899 per bulan.

Terima kasih telah membaca tulisan ini, semoga dapat menambah wawasan Anda. Jika bermanfaat, jangan lupa share di akun media sosial Anda, seperti Facebook dan Twitter.

Sajian Informasi Terkait