Prospek Bisnis TV Berbayar yang Kian Kompetitif

Persaingan di industri televisi berbayar atau Pay TV semakin kompetitif. Konglomerasi media banyak merambah ke bisnis ini. Siapa saja dan kemudian bagaimana peluangnya? Berikut sekilas gambarannya. Dalam dua - tiga tahun belakangan,  beberapa konglomerasi media merambah ke bisnis televisi berbayar. CT Corporation milik Chairul Tanjung memilih TelkomVision.

Setelah itu, Grup Lippo meluncurkan Big TV di awal tahun 2014 lalu. Viva Sky milik grup Bakrie dan K-Vision milik kelompok Kompas Gramedia juga terjun ke pasar televisi berbayar.

tv berbayar
Berbagai terobosan dilakukan oleh para konglomerasi untuk menggenjot pelanggan tv berbayar yang jumlahnya masih sedikit. Padahal di Indonesia ada sekitar 40 juta rumah tangga yang masih menggunakan siaran tv biasa. VIVA+ menggelar inovasi layanan guna menarik pelanggan,  misalnya dengan menerapkan bisnis model voucher untuk top-up dan juga fokus pada skema pre-paid.

Investasi di televisi berbayar tergolong mudah karena hanya butuh surat izin penyelenggaraan penyiaran atau IPP. Namun nilai investasinya beragam, bisa murah, bisa juga mahal tergantung infrastrukturnya, antara 800 miliar hingga 1 triliun rupiah, seperti yang diungkapkan oleh Robertus B.Kurniawan yang merupakan CEO Visi Media Asia.

Media televisi menjadi lahan bisnis yang 'seksi' sejak tahun 2014. Banjir iklan berdatangan pada kuartal pertama di tahun 2014 lalu, karena berlangsungnya berbagai event besar, seperti piala dunia, bulan ramadhan, hingga pesta demokrasi. Maraknya tv berbayar memicu pertumbuhan jumlah penyedia konten televisi kabel. Kemkominfo mencatat saat ini jumlah pay tv yang berbasis satelit mencapai 21, sementara perusahaan pay tv berbasis kabel terdapat 236 perusahaan. Pay tv terseterial ada dua perusahaan, dan internet protokol tv ada satu perusahaan. Di tahun 2013, total pengguna pay tv di Indonesia ada sebanyak 2,8 juta pelanggan atau penetrasinya sebesar 7,7 % dari total penduduk Indonesia. Tahun 2014, pasar tv berbayar meningkat mencapai 3,4 juta pelanggan dan diperkirakan akan terus bertambah di tahun 2015. 

Media Partners Asia (MPA) pada tahun 2013 pernah merilis hasil analisanya yang memprediksi bahwa prospek TV berbayar di dalam negeri pada tahun 2017 akan menembus 7 juta pelanggan. Pertumbuhan yang besar tersebut dilatarbelakangi oleh prediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang bagus. MPA menyebut Indonesia sebagai salah satu negara di kawasan Asia Pasifik yang mempunyai rata-rata pertumbuhan pelanggan Pay TV terbesar. Angkanya diperkirakan berada pada kisaran 26,7 persen selama periode tahun 2011-2016. Maka tak heran jika banyak operator TV berbayar yang baru bermunculan, bahkan juga yang tidak resmi.

Dengan penetrasi yang kecil dan murahnya investasi, menyebabkan banyak tv kabel ilegal bermunculan. Jika dibiarkan, bukan saja negara yang rugi, tapi juga masyarakat karena bisa saja kualitas pelayanannya dan konten yang ditayangkan melanggar aturan Komisi Penyiaran Indonesia dan Departemen Komunikasi dan Informasi.

Saat ini, produk televisi berbayar yang mendominasi pangsa pasar tv berlangganan di tanah air dipegang oleh PT MNC yang dimiliki oleh konglomerat Hary Tanoesoedibjo dengan porsi penguasaan sekitar 70% pelanggan. Brand produknya yang populer di Indonesia antara lain Indovision, Top TV dan Okevision.

Terima kasih telah membaca tulisan ini, semoga dapat menambah wawasan Anda. Jika bermanfaat, jangan lupa share di akun media sosial Anda, seperti Facebook dan Twitter.

Sajian Informasi Terkait