Kendala Realisasi Penyaluran KUR untuk UMKM

Kredit Usaha Rakyat (KUR) menjadi salah satu alat untuk bisa menyalurkan kredit terutama bagi UMKM (Usaha Mikro, Kecil & Menengah). Namum sayangnya, kredit ini memang masih menjadi "anak bawang" di permasalahan kredit secara nasional (belum mendapat perhatian serius). Sebelum kita tinjau apa saja yang menjadi kendala dalam penyaluran KUR di Indonesia, ada baiknya kita cermati terlebih dahulu mengenai realisasi penyaluran Kredit Usaha Rakyat hingga bulan Oktober 2014 yang datanya diambil dari Komite Kredit Usaha Rakyat.

Pada bulan Agustus ke September terjadi peningkatan penyaluran dana dari 26 miliar menjadi 29 miliar rupiah. Dan pada bulan Oktober ada di angka 33 miliar rupiah. Sementara targetnya memang ada kenaikan untuk di 2003 ke tahun 2014, dan ada juga kenaikan untuk penyalurannya yaitu untuk 1,67 juta usaha. Namum sayangnya, beberapa hal yang menjadi hambatan adalah tidak meratanya penyaluran KUR ini, sehingga akhirnya untuk penyaluran kredit usahanya pun tidak merata.

KURLalu, bank mana saja yang menyalurkan Kredit Usaha Rakyat terbesar plafonnya?
Untuk saat ini, yang pertama adalah BRI yang masih menjadi penyalur kredit usaha rakyat tertinggi. Jika digabungkan untuk kredit BRI ritel dan mikro ada sekitar 112,9 triliun rupiah. Sementara NPL-nya sebesar 5,2% (ritel 3,2% dan mikro 2,0%). Posisi kedua adalah Bank Mandiri sebesar 16,9 triliun rupiah dengan NPL 3,7%, kemudian ke tiga adalah BNI sebesar 15,3 triliun rupiah dengan NPL 3,1%.

Untuk jumlah debiturnya, dapat kita lihat bahwa BRI ada sekitar 11,2 juta debitur, Bank Mandiri hanya sekitar 382 ribu debitur dan BNI sebanyak 216 ribu debitur. Jika digabungkan dari seluruh bank nasional yang memiliki kredit usaha rakyat (sekitar 7 bank) maka jumlah debitur yang menerima bantuan KUR tersebut sekitar 11,9 juta debitur saja. Ini masih sangat kecil jika ditinjau dari potensi sektornya. Sektor perdagangan masih menjadi nomor satu yang disalurkan KUR terbanyak, yakni 97,2 triliun rupiah dengan jumlah debitur 7,9 juta. Untuk sektor agraria dan perikanan, jumlah penyaluran KURnya sangat kecil.  Sektor pertanian hanya sekitar 30,1 triliun dengan jumlah debitur 1,9 juta dan di sektor perikanan hanya 16,4 ribu saja dengan plafon sebesar 920 miliar rupiah.

Apa kendala terbesar dalam penyaluran KUR di Indonesia?

Yang pertama adalah suku bunga yang sangat tinggi mencapai 22 persen, padahal UMKM membutuhkan padat modal yang cukup banyak dengan  likuiditas tinggi untuk bisa mengembangkan bisnis mereka. Tapi dengan suku bunga yang tinggi 22%, tentunya akan semakin terasa berat bagi para pelaku usaha UMKM. Ada beberapa pihak yang menyatakan Bank harusnya bisa menurunkan kembali suku bunga sekitar 12-13 persen.

Yang kedua adalah tidak maksimalnya sosialisasi terkait dengan KUR ini. Padahal UKM yang ada di Indonesia, biasanya berada di wilayah - wilayah yang tidak terjamah oleh bank, sehingga sosialisasi ini perlu lebih digencarkan lagi.

Dan yang ketiga adalah para pelaku UMKM sering dijadikan alat kampanye oleh pihak-pihak yang berpolitik dengan memberikan bantuan modal bersyarat. Hal ini banyak terjadi di tahun 2014 lalu, yang merupakan tahun politik bangsa Indonesia, sehingga para pelaku UMKM lebih memilih menerima bantuan modal usaha dari organisasi politik dan politikus ketimbang mengajukan kredit pada program KUR.

Terima kasih telah membaca tulisan ini, semoga dapat menambah wawasan Anda. Jika bermanfaat, jangan lupa share di akun media sosial Anda, seperti Facebook dan Twitter.

Sajian Informasi Terkait