Ini Profesi Beresiko Tinggi Tapi Bergaji Kecil

Di kawasan Eropa dan Amerika, orang- orang yang berprofesi sebagai atlet profesional bisa menghasilkan uang yang berlimpah. Tengok saja Cristiano Ronaldo yang merupakan atlet sepak bola dengan nilai kontrak mencapai triliunan rupiah untuk satu musim saja. Atau misalnya Tiger Wood yang berprofesi sebagai pemain golf, mendapatkan uang milyaran rupiah untuk setiap kali pertandingan.

Namun sayangnya, hal ini tidak berlaku kepada atlet di bidang olahraga ini. Profesi yang dimaksud adalah atlet joki kuda. Selain gajinya lebih kecil dibandingkan atlet profesional lainnya, joki berkuda juga paling sering mengalami kecelakaan dan cedera saat bertugas.


profesi joki kuda
Saat beraksi, seekor kuda bisa berlari melesat hingga kecepatan 64 km/jam lebih. Kecepatan tinggi itu, bukan tidak mungkin berpotensi membahayakan si joki, sehingga berakibat pingsan atau bahkan meninggal ketika terjatuh dari hewan yang berkaki empat tersebut. Dengan potensi risiko yang tinggi tersebut, para joki penunggang kuda ini rata-rata hanya diberikan bayaran sekitar US$ 28 atau kurang lebih Rp 360.000 dalam sekali bertanding. Padahal jika kita telisik lebih dalam, perputaran uang dalam arena judi berkuda bisa mencapai ratusan juta hingga miliaran rupiah. Sungguh hal yang tidak sebanding!

Mungkin para pemain joki kuda di Kentucky Derby agak sedikit lebih beruntung dengan bayaran yang lumayan, karena pada acara utama olahraga berkuda tersebut, mereka biasanya dibayar lebih mahal. Tapi tetap saja jika tidak nampu mencapai posisi lima besar, maka uang yang mereka terima hanya sekitar US$ 500 atau sekitar 6,5 juta rupiah dalam sekali tanding.

Sementara para pemacu kuda di ajang Preakness dan Belmont, salah satu dari acara pacuan kuda Triple Crown (Amerika Serikat), bisa membawa pulang uang sekitar 100 dolar (Rp 1,3 juta) dalam sekali bertanding.

Nah, ternyata bayaran tersebut hanya setara dengan uang makan para atlet basket dan baseball profesional di Amerika Serikat, yang resiko kecelakaannya lebih kecil. Memang akan ada tambahan uang dan bonus jika si joki mampu berhasil menyelesaikan lomba balapan di posisi lima besar, namun tetap saja tidak terlalu besar.

Jika kita melihat risiko pekerjaan para penunggang kuda ini, ternyata menurut data Jockeys' Guild seperti yang dikutip dari CNN, sejak 1940 sampai saat ini, sudah banyak terjadi kecelakaan fatal. Pada ajang pacuan berkuda di Amerika Serikat telah ada 154 korban jiwa.

Meskipun saat ini, berbagi sarana keselamatan para joki sudah diperbarui dan dibenahi, tapi tetap saja resiko itu mengancam keselamatan para pemainnya. Sejak tahun 2000 sudah ada 13 joki meninggal, termasuk Juan Saez (17 tahun) dari Panama yang terlempar dari kudanya saat bertanding di Indiana Grand Racing & Casino (Indianapolis) pada bulan Oktober tahun lalu.

Terima kasih telah membaca tulisan ini, semoga dapat menambah wawasan Anda. Jika bermanfaat, jangan lupa share di akun media sosial Anda, seperti Facebook dan Twitter.

Sajian Informasi Terkait