Ini Negara yang Ramah bagi Para Pengusaha

Bank Dunia telah mempublikasikan daftar peringkat negara-negara di dunia yang menjadi tempat terbaik dan terburuk untuk berbisnis atau memulai usaha. Negara Singapura kembali bertengger di puncak sebagai negara terbaik dan teramah untuk para pengusaha. Lalu bagaimana posisi Indonesia?Meski realisasi investasi pada tahun ini di Indonesia mencatat rekor yang bagus, namun tampaknya untuk iklim berusaha, negara Indonesia belum menjadi salah satu negara yang direkomendasikan sebagai negara paling ramah bagi pewirausaha. 

Sebelum kita membahas seperti apa posisi Indonesia dalam iklim bisnis, ada baiknya kita cermati tiga negara terbaik sebagai tempat yang bagus dan ramah untuk membangun usaha, baik pengusaha lokal maupun internasional. Di posisi pertama adalah negara tetangga kita, yakni Singapura. Negeri kecil ini memang memiliki beberapa kekuatan sehingga mendapatkan skor 88,27 dan bertahan dari tahun sebelumnya. 

ramah pengusaha
Singapura masih menjadi negara tempat berbisnis paling baik di dunia. Ada beberapa kelebihan yang dimiliki Singapore sehingga masih di tempatkan oleh World Bank sebagai negara paling baik berbisnis di dunia, antara lain: mempunyai pertumbuhan ekonomi yang relatif stabil, yakni rata-rata 6,86 persen dan kondisi politik dalam negeri yang juga relatif tenang. Global Competitiveness Index tahun 2013 dan 2014 juga menempatkan Singapura sebagai negara dengan tingkat transparansi tertinggi, sistem hukum efisien, penegak hukum yang berintegritas serta standar moral yang jelas bagi para penegak hukum, termasuk juga para birokrat yang ada di negara tersebut. 

Bila kita kaji terkait lokasi dan juga populasi negaranya memang cukup menguntungkan karena Singapura berada di lokasi strategis serta memiliki jumlah penduduk sedikit (setengah dari penduduk Jakarta) sehingga otomatis lebih mudah untuk pengaturannya. Kemudian kondisi politik yang sangat tenang dalam negara tersebut membuat investor semakin banyak yang ingin berusaha di sana. Sebagai negara tanpa sumber daya alam, pemerintah Singapura harus memutar otak agar menjadi negara yang menarik bagi para pengusaha, salah satu caranya adalah menggenjot sektor industri ekspor impor dengan menyediakan pelabuhan yang menjadi salah satu pelabuhan terbaik di dunia.

Di posisi kedua adalah Selandia Baru yang mendapatkan skor 86,91. Ada beberapa kekuatan yang dimiliki Selandia Baru, diantaranya negara ini telah mengimplementasikan credit reporting privacy code yang sangat berguna bagi individu, perbankan ataupun lembaga keuangan untuk melihat secara transparan mana saja kredit yang positif dan negatif di negara tersebut sehingga mereka bisa memutuskan sebuah keputusan bisnis lebih cepat dibandingkan dengan negara yang tidak menyediakan sistem laporan kredit tersebut. Di sana disediakan dua tipe dokumen untuk anda yang ingin berwirausaha, yakni sistem level regional dan distrik.

Pada posisi ketiga adalah Hongkong dengan perolehan skor 84,97. Hongkong menjadi pilihan menarik bagi para pebisnis, diantaranya karena kemudahan dalam memulai usaha dengan iklim bisnis yang sehat.

Lalu bagaimanakah dengan negara besar seperti Amerika Serikat dan China? Negara adidaya Amerika Serikat tampaknya belum mampu menembus level terbaik karena ada beberapa persoalan, misalnya standarisasi yang belum sama antar negara bagian untuk berbisnis, seperti New York yang lebih mudah untuk memulai usaha, sedangkan Los Angeles masih agak ketat. Oleh karena itu, Amerika Serikat memperoleh skor 81,98 dan berada di urutan ke tujuh. Sementara itu, Tiongkok mendapatkan skor 62,68 atau di peringkat ke 90 karena transparansi yang rendah dan korupsi yang masih sering terjadi di negara tersebut.

Nah, sekarang kita fokus ke Indonesia. Ini bukan berita yang baik karena Indonesia menjadi negara dengan skor terburuk di Asia Tenggara, dimana Indonesia berada pada posisi ke 114. Apa saja yang menjadi kendala sehingga negara kita ini berada urutan belakang sebagai kawasan negara yang baik untuk berbisnis? Faktor-faktor penyebabnya antara lain: populasi yang besar sehingga sulit untuk pemerataan aturan dan implementasi kebijakan, luas wilayah yang besar, pemerataan pembangunan yang belum bisa dirasakan oleh semua lapisan masyarakat, efisiensi proses perizinan yang masih berbelit - belit, serta kepastian penegakan hukum yang masih meragukan. Faktor-faktor tersebutlah yang membuat negara Indonesia masih belum cukup ramah bagi para pengusaha, baik lokal maupun internasional.

Terima kasih telah membaca tulisan ini, semoga dapat menambah wawasan Anda. Jika bermanfaat, jangan lupa share di akun media sosial Anda, seperti Facebook dan Twitter.

Sajian Informasi Terkait