Ekonomi Indonesia Melemah, Kredit Macet Meningkat

Kondisi perekonomian Indonesia yang melemah pada kuartal pertama tahun ini menyebabkan sejumlah sektor ikut mengalami imbal. Beberapa bank mencatat adanya kenaikan non performing loan atau kredit bermasalah sebagai dampak dari pelemahan ekonomi. Di sisi lain, ketatnya likuiditas perbankan menyebabkan pertumbuhan kredit juga mengalami perlombaan.

Ketua umum Persatuan Bank Swasta Nasional (Perbanas), Sigit Pramono mengatakan melambatnya pertumbuhan ekonomi di bawah 5 persen pada kuartal 1 tahun 2015 ini berdampak pada pertumbuhan kredit perbankan menjadi di bawah 15 persen. Penurunan terjadi akibat perlambatan pertumbuhan di sejumlah sektor, seperti sektor manufaktur dan otomotif.

ekonomi melemah turun"Secara spesifik hampir merata, tapi yang jelas di sektor manufaktur terlihat sekali perlambatannya. Sementara sektor yang lain tidak terlalu berpengaruh, tapi memang sektor-sektor industri tertentu yang mengalami perlambatan. Yang jelas yang anda tahu bahwa sektor industri otomotif itu juga reakisasinya akan turun. Dan industri yang berkaitan dengan otomotif juga akan mengalami pelambatan", ucap Sigit seperti yang dikutip dari Metrotvnews.com

Sementara itu, wakil direktur utama PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) mengakui dampak pelemahan ekonomi tak hanya berpengaruh pada pertumbuhan kredit, namun juga pada naiknya kredit bermasalah atau non performing loan. Kebaikan rasio kredit macet ini sebagian disumbang dari kredit UKM dan komoditas. Kedepannya Sunaraso mengungkapkan perusahaannya akan meningkatkan kredit di sektor yang tidak mudah terpengaruh gejolak ekonomi global. 

Pada kuartal pertama tahun ini, PT Bank Rakyat Indonesia mencatat kenaikan rasio kredit macet kotor atau npl gross menjadi 2,17 persen. Rasio kredit macet ini lebih tinggi dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu sebesar 1,78 persen. Meski demikian BRI masih mampu mencatatkan kenaikan laba bersih sebesar 3 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yakni dari 5,93 triliun rupiah menjadi 6,14 triliun rupiah. Sunaraso  menilai wajar tipisnya kenaikan laba bersih perusahaan, mengingat kondisi perekonomian Indonesia yang lambat dan turunnya daya beli masyarakat.

Terima kasih telah membaca tulisan ini, semoga dapat menambah wawasan Anda. Jika bermanfaat, jangan lupa share di akun media sosial Anda, seperti Facebook dan Twitter.

Sajian Informasi Terkait