Strategi Unik Para Pelaku Industri Musik

Tanggal 9 Maret telah ditetapkan sebagai hari industri musik nasional. Berbicara mengenai industri musik nasional tentu tidak lepas dari satu pokok permasalahan yang sangat berat yakni pembajakan. Lalu bagaimanakah strategi dan upaya yang dilakukan para pelaku industri musik dalam menghadapi zaman digitalisasi ini? 

Jika dahulu pendapatan di industri musik banyak diperoleh dari penjualan kaset dan CD, namun dengan semakin canggihnya teknologi membuat para pemusik tidak bisa lagi bertumpu pada strategi lama tersebut. Jika kita melihat data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik Nasional, diperoleh gambaran bahwa kontribusi industri musik terhadap total nilai tambah bruto (NTB) ekonomi kreatif tahun 2013 hanyalah sebesar 1% yang nilainya setara dengan 5,24 triliun rupiah. Cukup jauh jika dibandingkan dengan industri kreatif di bidang kuliner (33%), mode (24%), dan kerajinan (14%).

Hal tersebut tidak terlepas dari pembajakan yang semakin tinggi. Bila pembajakan bisa dihapuskan, maka kontribusi industri musik terhadap pemasukan negara akan semakin besar, seperti bidang - bidang industri kreatif lainnya.

cd kaset lagu indonesia
Rendahnya kontribusi industri musik bagi pemasukan negara dapat kita lihat dari semakin menurunnya penjualan album musik fisik di Indonesia seperti CD dan kaset. Berdasarkan data dari International Federation of The Phonographic, diketahui bahwa pada tahun 2009 penjualan CD di Indonesia mencapai 23,4%, kemudian lima tahun berikutnya yakni 2014 terjungkal menjadi 18,6%. Beberapa pengamat musik melihat bahwa para pemain industri musik ini seharusnya tidak hanya berfikir bagaimana menjual lagu mereka, tetapi juga bagaimana mereka bisa membuat pondasi yang kuat untuk bisa membangun industri musik yang semakin besar ke depannya.

Selain adanya pembajakan, penyebab penurunan penjualan dalam industri musik di Indonesia antara lain karena semakin banyaknya perangkat pendukung musik digital dan juga adanya portal digital seperti Youtube, Guvera, dan Deezer. Hal tersebut membuat masyarakat semakin mudah untuk mengakses karya musik dan lagu tanpa perlu mengeluarkan biaya banyak.

Kondisi tersebut membuat banyak pemain di industri musik mencari cara dan taktik agar bisa mendapatkan penghasilan yang pantas. Tidak lagi hanya bertumpu pada penjualan kaset semata, tetapi mulai bergeser pada digitalisasi. Strategi ini dapat kita lihat dari 3 artis musik berikut ini. Indra Lesmana sejak tahun 2012 lalu mengeluarkan sebuah aplikasi di Apple Store. Aplikasi tersebut terdapat dua versi yang gratis dan berbayar. Pengguna yang ingin memiliki lagu-lagu Indra Lesmana bisa mendownload dengan biaya sekitar 39.000 rupiah per sekali unduhan. Artis yang kedua yang sudah menyesuaikan diri di era digitalisasi adalah Ten2Five. Sejak tahun 2010, Band pop ini memiliki strategi bekerja sama dengan gerai-gerai mini market untuk memasarkan hasil karyanya, misal gerai Circle K. Penyanyi yang juga melakukan strategi penjualan unik adalah Indah Dewi Pertiwi. Ia melakukan penawaran dengan menyediakan aplikasi di Play Store untuk para pengguna smartphone Android.

Terima kasih telah membaca tulisan ini, semoga dapat menambah wawasan Anda. Jika bermanfaat, jangan lupa share di akun media sosial Anda, seperti Facebook dan Twitter.

Sajian Informasi Terkait