Polemik Upah Minimum vs Upah Layak

CEO sebuah perusahaan di kota Seattle negara bagian Washington, baru-baru ini mengejutkan pegawainya dengan kenaikan gaji minimum di perusahaannya menjadi rata-rata 70.000 dolar Amerika per tahun alias sekitar 75 juta rupiah per bulan sebelum dipotong pajak. Dalam wawancaranya dengan wartawan, ia mengatakan bahwa keputusannya itu dilatarbelakangi oleh sebuah penelitian dari Princeton University terkait penghasilan dan kebahagiaan, yakni bahwa ambang bahagia ada di $70.000 setahun. 

gaji layak
Dengan gaji minimum tersebut, para karyawannya memperoleh penghasilan 2 kali lebih banyak dari gaji sebelumnya. "Dengan standar gaji ini, saya jadi bisa pulang kampung bertemu keluarga lebih sering. Saya bisa mulai memasukkan uang ke dana pensiun", kata seorang pegawai di perusahaan tersebut.

Kabar mengenai sang boss yang dermawan itu pun langsung ramai diberitakan di media maupun jejaring sosial. Perkembangan ini terjadi disaat warga Amerika masih ramai memperdebatkan perbedaan antara upah minimum yang ditetapkan oleh pemerintah federal maupun pemerintah daerah dengan upah layak sesuai kebutuhan sehari-hari bagi seorang pegawai.

Perbedaan ini pula yang memicu gelombang demonstrasi oleh para pekerja restoran siap saji dalam beberapa pekan terakhir ini. Dari pantai barat California hingga New York di pantai timur, para demonstran mendesak upah 15 dolar per jam atau sekitar 200 ribu rupiah.

Upah minimum yang ditetapkan pemerintah federal saat ini adalah tujuh seperempat dolar atau hampir sekitar 93 ribu rupiah per jam, dan angka ini belum pernah dinaikkan sejak 2009, sehingga para buruh di negeri Paman Sam tersebut menuntut adanya peningkatan penghasilan. 

Terima kasih telah membaca tulisan ini, semoga dapat menambah wawasan Anda. Jika bermanfaat, jangan lupa share di akun media sosial Anda, seperti Facebook dan Twitter.

Sajian Informasi Terkait