Gambaran Industri Rokok Dunia dan Indonesia

Penjualan rokok global pada tahun 2013 menyentuh 783 miliar dolar Amerika atau tumbuh sebesar 2,4% secara tahunan sejak 2004. Pertumbuhan paling banyak didorong oleh kenaikan harga dan kecenderungan masyarakat di pasar yang lebih matang, seperti Eropa dan Amerika Serikat untuk memilih brand premium. Permintaan produk tembakau di tahun 2014 lalu tercatat meningkat di Asia Pasifik. Namun di tahun 2015 ini, pertumbuhannya diprediksi akan sedikit mengalami perlambatan.

Berbicara mengenai industri rokok, negara yang cukup menarik untuk ditelisik adalah Tiongkok, yang mana negeri tirai bambu tersebut merupakan produsen sekaligus konsumen terbesar untuk produk - produk tembakau. China memproduksi sekitar 41% dari produk tembakau dunia, dan sekaligus sebagai konsumen terbesar dengan 43% konsumen tembakau dunia ada di negera tersebut.

pabrik rokokIndustri rokok di Tiongkok pada tahun 2014 lalu berhasil meraup laba sekitar 1,05 triliun yuan atau 169,7 miliar dolar Amerika, meningkat 10% dibandingkan tahun sebelumnya. Dari transaksi produk tembakau tersebut, pemerintah China menerima pajak sebesar 911 miliar yuan, naik sebesar 12% dari tahun sebelumnya. Nilai pajak tersebut ternyata merupakan 6,3% dari total penerimaan negara. Jumlah penerimaan cukai rokok diperkirakan akan mencapai 1 triliun yuan pada tahun 2015 ini. Namun dilemanya adalah saat ini pemerintah Tiongkok tengah serius mempertimbangkan untuk melakukan berbagai pembatasan terhadap ruang bagi para perokok.

Bagaimanakah pangsa pasar industri rokok di kawasan Asia Pasifik? Yang terbesar tetap dimiliki oleh Tiongkok yakni China National Tobacco yang mendominasi sekitar 67,8% dari pangsa pasar rokok dunia. Di posisi berikutnya adalah Philip Morris yang menguasai 7,8%, kemudian ada Japan Tobacco sebesar 5% pangsa pasar, selanjutnya British American Tobacco menguasai pasar sekitar 4,9%, dan Imperial Tobacco sebesar 2,2%. Nah, di posisi ke tujuh adalah perusahaan dalam negeri, Gudang Garam yang memiliki porsi sebesar 1,7%.

Dengan penguasaan pangsa pasar sebesar 1,7%, bagaimanakah gambaran industri rokok di Indonesia?

Pada bulan Mei 2014 lalu, PT Sampoerna menutup dua pabrik rokok jenis cigaret kretek tangan di Jember dan Lumajang (Jawa Timur) karena ternyata pasarnya turun sehingga berdampak pada omset perusahaan. PT Sampoerna mengakui kalau penjualan kretek tangan memang menurun sejak setahun terakhir sehingga penutupan pabrik rokok tersebut merupakan langkah terakhir setelah sejumlah upaya dilakukan. Hal ini berakibat sebanyak 4.900 tenaga kerja dirumahkan.

Kemudian pada bulan Juni 2014, pemerintah Indonesia mewajibkan pemasangan gambar seram (gambar peringatan bahaya rokok) di setiap pembungkus rokok. Hal ini berdampak terjadinya penurunan penjualan sebesar 3% pada semester pertama di tahun 2014. Para perusahaan rokok pun mengalami sejumlah kerugian. Selain karena kewajiban pemasangan gambar seram, industri rokok juga telah ditahan ekspansinya dengan penerapan pajak sebesar 10%, serta semakin sempitnya ruang terbuka untuk perokok.

Gambaran mengenai industri rokok di Indonesia juga dapat dilihat dari jumlah pabrik rokok yang beroperasi. Pada tahun 2005 ada sekitar 5.000 pabrik rokok yang tersebar di seluruh Indonesia. Kemudian tahun 2013 jumlahnya turun menjadi 1.700 pabrik, dan di penghujung tahun 2014 tersisa 700 pabrik rokok saja. Gabungan Perserikatan Rokok Indonesia (GAPRI) meminta agar tidak ada perubahan sistem dan kenaikan cukai pada tahun ini. Jika tidak, maka akan semakin banyak pabrik rokok tradisonal yang akan gulung tikar, padahal Indonesia merupakan satu-satunya negara yang masih memproduksi rokok tradisional.

Terima kasih telah membaca tulisan ini, semoga dapat menambah wawasan Anda. Jika bermanfaat, jangan lupa share di akun media sosial Anda, seperti Facebook dan Twitter.

Sajian Informasi Terkait