Bisnis Membangun Rumah dengan Printer 3D Raksasa

Pencetak tiga dimensi (Printer 3D) kini juga merambah ke dunia industri, termasuk juga ke bidang konstruksi. Pada bulan Desember lalu di Nanzing, sebuah Institut Riset Percetakan 3 Dimensi Tiongkok mengadakan pameran sebuah rumah yang materialnya dibuat oleh mesin cetak 3 dimensi raksasa. Mesin tersebut mencetak lapis demi lapis material berbahan beton untuk membuat elemen konstruksi. 

Hal ini dapat mengurangi kebutuhan terhadap pekerja konstruksi dan tentunya juga menghemat dana. Menurut pengakuan pimpinan perusahaan pameran tersebut, rumah yang dibuat dengan mesin Printer 3D itu ternyata dibangun dalam waktu 3 hari dan lebih banyak menggunakan bahan daur ulang. Mereka memakai limbah konstruksi perkotaan sebagai bahan baku.

Rumah yang dibangun menggunakan mesin cetak 3d
Di Amsterdam, para arsitek tidak memakai limbah tetapi bereksperimen dengan campuran plastik serat mikro dan minyak berbahan nabati. Menurut mereka, konstruksi bangunan konvensional tidak efesien dan sering kali membuat polusi. Sementara itu, pencetak tiga dimensi dapat mengurangi limbah dan biaya, serta juga lebih fleksibel karena mudah dibongkar dan dipasang ulang di tempat lain.

Berbeda dengan perusahaan di China dan Eropa yang tengah menuju bisnis pembangunan rumah memanfaatkan teknologi pencetak 3D, di negara Nigeria (Afrika) para pengusaha setempat berupaya mencari solusi perumahan secara lebih inovatif. Dari jutaan warga yang tinggal di gubuk sederhana karena harga rumah biasa dan apartemen terlalu mahal, setidaknya ada sebagian yang masih mampu menabung untuk membeli rumah yang bisa dibangun dalam waktu tujuh hari.

Rumah yang disebut Tempohousing itu terbuat dari kotak kontainer bekas yang biasanya digunakan untuk pengiriman barang peti kemas. Jika dibandingkan rumah berbahan beton, Tempohousing harganya lebih murah 20-30%. Pada dindingnya dilapisi lapisan peredam suara dan bagian atapnya digunakan untuk instalasi listrik dan air. Kemudian besi beton dipakai untuk memperkuat struktur rumah.

Pakar perumahan berharap metode pembangunan alternatif ini bisa menyediakan rumah dengan harga lebih terjangkau bagi banyak warga sekaligus mengatasi masalah kurangnya pasokan rumah di negara-negara berkembang.

Terima kasih telah membaca tulisan ini, semoga dapat menambah wawasan Anda. Jika bermanfaat, jangan lupa share di akun media sosial Anda, seperti Facebook dan Twitter.

Sajian Informasi Terkait